Sastra yang Terbelenggu

Posted on 22/11/2010

0


Pelbagai perkembangan sastra terakhir ini mencatat perkembangan yang menggembirakan. Lomba-lomba menulis sering diadakan, terutama cerpen dan novel, buku-buku antologi cerpen, puisi dan novel banyak diterbitkan, juga penghargaan sastra yang sudah ada semakin diperbaiki dengan ditambahkannya berbagai kategori selain ada pula penghargaan sastra baru yang menurut cerpenis Damhuri Muhammad sebagai “Sastra Idol” (Darah Daging Sastra Indonesia, Jalasutra, 2010).

Kategori penulisan juga makin berkembang tidak hanya sastra saja. Buku-buku humor dan cerita parodi juga muncul meramaikan pasar buku. Sastra sendiri semakin marak dengan mulai banyak menghasilkan nama-nama baru yang bertaburan di media cetak terutama koran. Berbagai komunitas sastra juga bertambah sehingga untuk sementara saya beralih pada seni komik yang menurut saya masih menyimpan kekurangan dibandingkan sastra. Agak lama saya tak menghasilkan esei sastra karena menurut saya perjalanan dan dinamika sastra mulai menunjukkan tanda-tanda semakin sehat dengan pelbagai aktivitas komunitas yang muncul meski notabene masih menyimpan kekurangan.

Tapi menutup tahun 2010 setelah saya lebih serius menekuni komik, perhatian saya kembali lagi pada sastra yang menurut saya masih terbelenggu sehingga kurang lincah menghasilkan karya yang baik. Kenapa terbelenggu karena menurut saya sastra kita terlampau serius ditekuni oleh penulis-penulis kita. Menjadi serius memang bagus, tapi “terlalu” serius juga tidak baik. Sekedar contoh, kenapa tidak ada yang menyelipkan atau membuat humor ke dalam sastra?

Permainan humor sebenarnya ada tapi itu lagi-lagi dilakukan oleh pengarang tua, sebut saja Danarto dalam buku antologi cerpennya yang terakhir “Kacapiring”. Sedangkan untuk penulis baru hampir tidak ada karena semuanya terlampau serius untuki menghasilkan karya ”mpu”.

Ben Sohib, dua penghasil karya “Da Peci Code” dan “Rosid dan delia” sebenarnya sudah menunjukkan kecenderungan itu meskipun kedua novelnya tidak digolongkan sebagai sastra.  Tapi, lihatlah kedua bukunya laris bahkan difilmkan tahun 2010. Ben Sohib menurut saya membuka peluang bahwa sastra bisa dibikin menarik dan lucu. Bolehlah novel Ben tidak dianggap sastra oleh kritikus dan pengamat tapi saya menganggapnya juga sebagai sastra karena kedua novel tersebut bukan sekedar lucu-lucuan saja. Karya Ben menurut saya masih menyimpan ambisi sastrawi pula dengan menghadirkan tokoh Rosid dan permasalahan yang tidak biasa. Tokoh Rosid terbilang cukup berani mendobrak apa yang telanjur sudah digariskan dalam agama. Dialog-dialog dalam diskusi dengan guru agamanya yang bertentangan karena sang guru terbilang kolot  di samping keberaniannya memacari gadis Katolik, juga kesukaannya pada puisi membuat novel Ben tampak beda dari novel hiburan kebanyakan. Tokoh boleh di kota yang kosmopolit tapi masalah yang diusung cukup berani. Ada nilai pluralisme di situ.

Sebenarnya sebelum Ben Sohib ada novel Muhidin M. Dahlan (Adam dan Hawa) yang membuat panas Majelis Mujahidin Indonesia ketika resensinya dimuat di sebuah koran. Majelis Mujahidin menuduh Muhidin menghina agama Islam ketika menampilkan Adam dan Hawa yang diciptakan Tuhan keluar melalui ketiaknya  (sehingga membuat Tuhan geli) juga kisah lain yang juga menggambarkan persetubuhan Adam. Sayangnya tiada yang menyadari karya Muhidin itu sebenarnya parodi atas cerita kitab suci. Semuanya menganggap terlalu serius, apalagi kalau menyinggung agama Islam sehingga Muhidin dihujat.

Kebebasan berekspresi dalam sastra belum diterima dengan baik di sini. Permainan kreativitas dengan mencampurkan humor dan parodi belum dianggap sebagai upaya yang baik untuk menghasilkan karya. Sastra dianggap kelewat serius sehingga tak banyak eksperimen disuguhkan. Cerita sastra yang dianggap selalu masih berkutat pada metafora atau kekayaan menampilkan budaya lokal. Ini bisa terlihat dari pemenang Sayembara Novel yang diselenggarakan Dewan Kesenian Jakarta berkali-kali. “Permainan” dan ekspresi lain salah satunya humor bisa dibilang belum dirambah oleh pemain sastra kita.

Sastra masih terbelenggu pola-pola lama yaitu menyampaikan ketidakadilan dan luka batin. Mungkin ketimpangan ini masih belum mewakili karena sastra harus menyimpan nilai-nilai, tapi saya khawatir sastra kita nyatanya belum maju dengan pengucapan lain yang sesungguhnya bisa menaikkan mutu sastra itu sendiri dengan paling tidak mampu meraih pembaca yang lebih luas.

Gejolak pertumbuhan yang ada masih mengikuti pola lama yaitu mengekor keberhasilan penjualan novel yang sedang laris. “Ayat-Ayat Cinta” laris yang lain ikut-ikutan bikin novel yang diembel-embeli “pembangun jiwa”. Sama seperti sastra seks karya penulis perempuan melejit tahun 2003 lalu, para pengarang dan penerbit ikut-ikutan sampai akhirnya bosan. Begitu juga “metro pop” yang jelas-jelas mengadopsi “chick lit” dari luar negeri. Pembaca yang kritis akhirnya tak punya pilihan kecuali mengkonsumsi karya-karya asing, baik yang sudah diterjemahkan maupun belum, yang lebih banyak menawarkan berbagai ragam masalah dan ekspresi pengucapan yang lebih menarik.

Ketidakmampuan mengolah “humor dalam sastra” inilah menujukkan indikasi bahwa kreativitas sastra kita masih mandeg, tak berani memunculkan gaya baru selain hanya ikut-ikutan saja sampai bosan. Sayang!*

 

 

 

Iklan