Mengapa Komik

Posted on 22/11/2010

0


Komik tak bisa dipungkiri sudah masuk menjadi bagian hidup saya semasa kecil. Sampai kini boleh dibilang saya banyak berhutang budi kepada komik. Jauh-jauh sebelum saya memutuskan untuk menjadi penulis, saya mengenal nama-nama sastrawan dunia lewat komik Album Cerita Ternama  yang diterbitkan Gramedia awal tahun 1980-an. Dari komik tersebut saya mengenal cerita-cerita masyhur dunia yang dikomikkan oleh penerbit dari India itu. Jasa penerbit India itu mengenalkan saya pada nama-nama penulis besar seperti Mark Twain, Jules Verne, Karl May, Charles Dickens dan lain-lain. Baru setelah itu saya dibawa oleh dunia komik yang penuh pesona dari khasanah cerita pewayangan R.A Kosasih, superhero Barat dan Indonesia, komik serial Tintin dan Lucky Luke, sampai tokoh-tokoh jenaka macam Donal Bebek dan Miki Tikus yang sempat saya langgani semasa kecil.

Tergila-gila pada komik sempat meresahkan orangtua saya yang khawatir isi kepala saya hanya berisi memori gambar-gambar lucu bukan pada buku-buku yang lebih “dihormati” jasanya membawa pengetahuan. Oleh karenanya bujet membeli dan berlangganan komik dihentikan dan diganti dengan membeli buku-buku. Tapi meskipun sudah diganti kesukaan saya pada komik tak berhenti sampai-sampai semasa kecil saya jadi tergerak untuk menggambar komik sendiri.

Tapi hasrat untuk menjadi komikus terhenti karena saya sangat sulit menggambar figur perempuan. Yang selalu berhasil saya gambarkan selalu figur hero yang berotot dan pastinya pria dengan bermacam kostum aneh atau membuat karakter binatang yang lucu seperti kucing dan anjing atau meniru-niru Donal Bebek. Karena saya selalu sulit menggambar perempuan walau sudah berusaha semaksimal mungkin, saya beralih pada tulisan yang lebih bebas menghantar imajinasi saya semasa kecil sehingga saya sempat menghasilkan dua buku cerita novel petualangan pada kelas lima dan enam SD. Akan tetapi hasrat saya menjadi pengumpul komik tetap menggelora di sela-sela kesukaan saya membaca buku-buku cerita.

Menginjak usia remaja dan dewasa bujet membeli komik semakin turun karena minat yang berubah. Saya kemudian lebih banyak membeli dan membaca macam-macam buku terutama sastra yang dari dulu saya tidak menyadarinya sebagai sastra tapi saya menyebutnya sebagai buku cerita juga sama dengan buku cerita yang lain macam “Lupus” atau “Trio Detektif”. Saya baru menyadari cerita-cerita Putu Wijaya, Iwan Simatupang, Mochtar Lubis, Budi Darma, dan Seno Gumira Ajidarma juga karya-karya Jules Verne, Mark Twain dan Charles Dickens sebagai sastra di kala SMA.

Sebenarnya ketika membaca cerita-cerita tersebut saya sudah dibilang kakak saya bahwa itu cerita sastra tapi saya belum mengerti apa itu sastra dan apa yang bukan sastra. Pokoknya cerita saja, titik. Ketika saya diberitahu kalau cerita-cerita itu adalah sastra saya bertanya kenapa nama-nama mereka tidak disinggung dalam pelajaran Bahasa Indonesia? Kakak saya tidak bisa menjawab dengan pasti. Ia hanya menjawab cerita-cerita yang saya baca itu termasuk “avant-garde” sehingga belum dimasukkan pelajaran Bahasa Indonesia. “Avant-garde” istilah apa lagi itu, saya tidak mengerti dan kakak saya hanya menjawab “avant-garde” itu lain dari cerita biasanya. Hanya itu jawaban yang saya terima walau saya sesungguhnya masih tidak mengerti apa itu “avant-garde”.

Perhatian saya beralih pada komik kembali karena ketika dewasa saya resah mengamati perjalanan komik Indonesia yang tersungkur dibanding komik-komik impor, terutama komik Jepang. Memang saya tak banyak mendapatkan kepuasan dari komik-komik bikinan negeri sendiri seperti membaca komik-komik impor. Tapi apapun yang terjadi meski saya sering kecewa dengan komik negeri sendiri, saya tetap salut pada orang-orang yang memang pekerjaannya membuat dan menerbitkan komik. Dedikasi mereka menurut saya sama dengan penulis sastra juga walau selama bertahun-tahun mereka “terpaksa” bersembunyi dalam profesi lain akibat kondisi komik Indonesia yang tidak menguntungkan, tidak seperti penulis cerita yang tidak malu-malu menyebut dirinya sebagai penulis, cerpenis, novelis, atau dengan tegas menyebut dirinya sebagai sastrawan.

Berawal dari pemikiran itulah saya mengamati komik dan mencoba-coba menuliskannya. Tentu saja komik yang saya tulis ulasannya adalah komik-komik lokal yang menurut saya menarik dan mengandung hal-hal baru yang seharusnya diketahui banyak orang.

Dari coba-coba menjadi pengamat komik inilah menghantarkan diri saya pada berbagai komunitas komik juga para komikus dan pengamatnya dengan mengikuti berbagai milis komik sampai mendatangi acara-acara komik. Akademi Samali, MKI (Masyarakat Komik Indonesia) dan komunitas Serrum juga Studio’9 adalah komunitas komik yang berhasil saya dekati dan amati sehingga saya menghasilkan beberapa tulisan yang menyinggung karya-karya mereka. Selain komik, masalah-masalah dan perkembangan animasi nasional meski hanya sedikit (karena film animasi Indonesia memang sedikit) juga saya singgung ke dalam tulisan karena mereka masih bersaudara dengan komik.

Komik dan dinamikanya sebenarnya tak kalah menarik dibandingkan dunia sastra dan film, minat sebelumnya yang saya tekuni. Apalagi dunia komik selain bersaudara dengan animasi sebenarnya adalah bagian dari ranah seni rupa juga sehingga beberapa tulisan saya tentang komik dimuat di majalah seni rupa dan sebuah jurnal HAM.

Dinamika permasalahannya begitu menarik jika diamati sehingga secara tak sadar setelah mengumpulkan tulisan-tulisan saya tentang komik ternyata sudah 10 tahun saya menulis tentang komik. Meskipun sudah cukup lama mengamati lalu menuliskannya saya tidak sampai belanja komik-komik luar sampai sedemikian banyak seperti yang dilakukan beberapa kawan dan sepupu saya sehingga menjadi “gaya hidup”. Saya membaca tapi tidak sampai mengkoleksi. Ada beberapa koleksi komik luar negeri yang cukup bagus tapi itu didapat dari seorang kawan yang sudah kehabisan tempat menyimpan komiknya dan hadiah ulang tahun dari seorang sobat lama. “Berhala” itu saya dapatkan di siang bolong dan sampai sekarang saya masih menyimpannya.

Komik dan dinamikanya menyimpan masalah sendiri yang belum selesai walau pada saat ini mulai banyak diterbitkan komik lokal. Bagi saya masalah sastra sudah banyak yang sudah bisa diselesaikan dan sekarang tinggal menunggu karya emas. Buat saya komik belum selesai karena masih berkubang dalam masalah yang sama yaitu kreativitas yang sampai sekarang belum mencapat tingkat yang lebih baik. Oleh karenanya saya lalu menjadi pengamat komik khususnya komik nasional.

Sudah cukup lama saya mengumpulkan naskah-naskah tentang perkembangan komik lokal untuk menjadi buku yang saya beri judul “Komik Tak Pernah Mati”. Buku ini sudah saya persiapkan sejak tahun 2007 dengan mencomot salah satu judul tulisan saya yang dimuat di Sinar Harapan. Mudah-mudahan dalam waktu dekat (target saya 2011) buku tersebut bisa terbit. Selama ini yang saya persiapkan adalah pemuatannya di berbagai media massa agar masalah dan perkembangan yang terjadi pada komik nasional benar-benar tersampaikan kepada publik. Setelah dimuat biasanya saya posting dan upload di akun Facebook dan blog pribadi saya untuk meraih pembaca lain yang lebih luas.

Menutup tahun 2010 komik Indonesia banyak menghasilkan perkembangan berarti. Dan semua itu membuat saya makin optimis perkembangan komik Indonesia akan semakin baik ke depan. Saya berharap saya menjadi bagian dari itu dengan mengamati dan mencatatnya karena dengan itulah sumbangsih saya kepada dunia yang lebih terhormat yang kita menyebutnya sebagai “seni”.

 

Maju terus komik Indonesia!

 

 

Iklan
Posted in: Personal Essay