Komik dan Animasi , Permata yang Selalu Menunggu

Posted on 20/11/2010

0


Sinar Harapan,13 November 2010

Suksesnya serial animasi “Upin dan Ipin” dari Malaysia di televisi kita hingga mampu menjadi idola anak-anak Indonesia sesungguhnya semakin membuat malu bangsa kita yang sampai sekarang belum serius mengasah “permata” dunia seni kita, animasi. “Permata” lain yang juga belum diasah sampai sekarang ini adalah komik meskipun sejak pertengahan 2009 hingga 2010 beberapa judul komik lokal diterbitkan penerbit-penerbit besar bahkan penerbit wajah baru. Entah kenapa sudah sekian lama komik dan animasi, dua kubu yang saling bersaudara ini kurang digarap dengan serius dengan sedikitnya investor yang mau menanamkan modalnya. Jika ada pemain-pemainnya selalu berpikir jangka pendek sehingga masih sedikit produk-produk komik dan animasi yang unggul. Memang penggalian ide untuk membuat cerita-bahan baku utama kedua kubu ini- rata-rata masih lemah. Tapi bukan berarti di situ tidak ada “permata”.

Produk film animasi kebanyakan terjerembab pada produk membuat film iklan saja padahal para pekerjanya yang jauh-jauh bersekolah di luar negeri ada yang dipinang studio-studio asing. Begitu juga para komikus kita yang “diam-diam” terlibat berbagai proyek menggarap komik asing. Pasar bebas sebenarnya membuka banyak peluang dari segi bisnis juga kreativitas. Bukankah permintaan pasar pada film animasi atau komik yang bermutu sebenarnya ada? Memang banyak komik diterbitkan juga beberapa judul film animasi diproduksi. Tapi setelah itu apa? Rata-rata hanya seperti mengulang semangat bak “pemula”-meminjam istilah komikolog Hikmat Darmawan- yang bangga karyanya bisa terbit atau dipublikasikan akan tetapi sesudah itu jika karyanya tak laku produknya dihentikan. Sungguhlah sayang jika hal ini terus terjadi berlarut-larut. Indonesia sebenarnya amat kaya dengan potensi-potensi yang mengagumkan.

Keberhasilan serial “Upin dan Ipin” dengan mengangkat budaya lokal dan keseharian anak-anak di Malaysia sesungguhnya membuat kita berkaca bahwa kita mampu membuat lebih dari itu. Yang terjadi adalah kemalasan kita mengolah “permata” yang sebenarnya sudah ada di depan mata. Kemalasan mengolah dan berinvestasi pada “permata” inilah yang menjadi kendala sehingga stasiun televisi yang sebenarnya beromset tinggi hanya mau mengimpor produk asing. Produksi tinggi sinetron-sinetron yang kurang kualitasnya semakin banyak karena sudah menjamin adanya balik modal. Penerbitan komik-komik impor juga kurang lebih sama. Meski biayanya tinggi karena sekaligus mengimpor merchandise-nya masih banyak pelaku industri hanya berpikiran meraup untung dalam waktu yang cepat saja. Konon beberapa judul komik lokal terbit bukan dikarenakan kondisinya mulai terbuka untuk menciptakan peluang R.A Kosasih, Put On, Godam, Gundala atau Si Buta dari Gua Hantu? Bagaimana dengan khasanah cerita-cerita rakyat kita yang tersebar di berbagai pelosok dan sebenarnya punya peluang karena ceritanya sudah dikenal? Atau membuat kembali karya-karya tersebut dalam komik dengan nafas baru yang lebih canggih?

Komik dan animasi sesungguhnya masih membuka peluang yang terbentang lebar. Hal ini sebenarnya terjadi karena manusia-manusia Indonesia masih terjerembab pada budaya konsumen-meminjam istilah budayawan Seno Gumira Ajidarma. Lebih baik membeli dan mengimpor daripada susah-susah menciptakan sehingga para pelaku kreatifnya pun akhirnya mau tak mau juga berpikir begitu dengan “hanya” menjadi “aktivis” bukan kreator. Mereka tetap ada tapi hanya menjalankan pesanan saja sehingga terjerembab menjadi pekerja saja, bukan seniman ulung. Sebenarnya untuk mendapatkan gagasan yang baik kita tidak harus mengintip dari pojok yang gelap atau bertindak sebagai detektif ulung atau menjadi manusia yang jenius, begawan pemikir yang penuh dengan ide-ide jempolan. Untuk memperoleh gagasan yang baik itu hanya tinggal kita bersedia mengamati kondisi yang ada di sekitar kita. Ingatlah, segala sesuatu harus diselesaikan pada kesempatan pertama kali meskipun ide itu pernah digunakan orang lain. Tidak beralasan untuk kita untuk tidak memakainya kembali.

Pertanyaannya sekarang siapa yang mau bergerak kalau bukan kita sendiri?*

Iklan
Posted in: Comic Review