Yang Konyol Menggigit

Posted on 17/11/2010

0


Judul Awas: Penguasa Tipu Rakyat

Karya Eko Prasetyo & Terra Bajraghosa

Penerbit Resist Book, 2006

Isi 179 hlm.

Ketika Agus Noor dan Butet Kartaradjasa menelurkan monolog Matinya Tukang Kritik yang belum lama ini dipentaskan di berbagai kota, sejenak membuat kita tersenyum melihat tingkah polah ‘mati angin’nya seorang tukang kritik sehingga tersirat pernyataan: adalah sakit hati jika kritik tak pernah didengar.

Buku ini, Awas:Penguasa Tipu Rakyat kurang lebih menyiratkan hal antara sebagai refleksi sejarah di masa Orde Baru hingga sekarang dengan selalu menghiraukan kritik, juga sebagai ungkapan protes terhadap kebijakan pemerintah yang masih mengulang kesalahan sama.

Tengoklah di halaman 43 dengan sub judul “Bahasa Cina Dilarang”. Panel pertama gambar koki restoran yang ditegur pejabat karena membuat papan nama restorannya dengan huruf aksara yang dimiripkan bahasa China. Panel kedua gambar orang yang terpaksa bisik-bisik walau ia sedang membaca menu makanan China. Di panel ketiga memerlihatkan orang gila yang meracau seperti  bahasa China ditegur juga oleh pejabat! Gambar tersebut mengingatkan kita pada larangan hidup untuk budaya Tionghoa di masa pemerintahan Soeharto yang tercantum dalam Instruksi Presiden No.14/1967.

Kemudian pada gambar sub judul “Iklan Layanan (Menipu) Masyarakat”, ada gambar yang mengingatkan kita pada iklan televisi yang menyerukan pada jam 17.00-22.00 untuk mematikan lampu hemat BBM. Gambar berikutnya memerlihatkan seorang pria marah lantaran seruan tersebut nyatanya tak mungkin dijalankan. Bukankah masih banyak gedung dan rumah mewah yang tenaga listriknya besar? Tentu saja gambar yang dibingkai dalam pigura yang meniru buku pelajaran Bahasa Indonesia lewat sub topik berjudul “Mengenal Tokoh (Penjahat)”. Kemudian ada halaman semacam “latihan menulis untuk anak” dengan topik membuat kepanjangan “DPR” yang dicontohkan pada kalimat “Dewan Pengecoh rakyat” dan “Duduk, Pulas, Rupiah”.

Jika dibandingkan dengan judul sebelumnya, Pengumuman Tidak Ada Sekolah Murah (2005) humor di komik ini lebih satir bahkan provokatif. Meski idenya sama, yaitu “kawin silang” antara amatan sosial (Eko Prasetyo adalah penulis buku masalah politik, sosial dan agama) dengan gambar  yang konyol, dihiasi dengan tulisan petikan kalimat dari sajak Rendra “Orang-Orang Miskin” serta pencantuman label “buat pembaca dewasa” lebih tegas dari judul sebelumnya, memerlihatkan buku ini cukup memerhatikan pentingnya pengkategorian yang tepat agar tak ditempatkan bersama komik anak-anak, satu hal yang masih sering terjadi dalam display (peletakan) di toko buku. Di sampulnya saja tertulis “Panduan Komplet Anak belajar Sejarah Kelam Bangsa” yang disajikan dalam bentuk seperti balon kata majalah anak-anak! Kemudian ada permainan humor bertingkat seperti ada gambar yang sama dari buku sebelumnya dipakai lagi di komik ini. Lucunya, di bawah ada gambar pengarangnya sedang bertanya, “Kok gambar ini dipakai lagi?” yang dijawab oleh penggambarnya, “Nggak, gambar sama, tapi ceritanya lain Mas…”

***

Membaca komik ini kita bakal teringat pada humor kering yang cukup menggigit karya remaja ABG kelahiran Dublin, Ian Walsh dalam The Idiot Book (1991). Bedanya dalam The Idiot Book, Walsh menggunakan materi anekdot, kuis, puzzle, teka-teki yang biasanya terselip di majalah berita atau buku humor sebagai ilham, komik ini menggunakan materi buku pelajaran LKS (Lembar Kerja Siswa) yang lazim dipakai di sekolah dasar. Satu hal yang sebenarnya patut dicatat sebagai peningkatan ekspresi di dunia komik lokal kita setelah sebelumnya kebanyakan bermain pada tingkat kenakalan humor satir yang berakar pada kejadian aktual seperti komik strip Sukribo, Benny & Mice, Panji Koming, atau yang tertua Put On.

Pencantuman logo untuk pembaca dewasa di buku ini cukup besar dibandingkan judul sebelumnya, Pengumuman: Tidak Ada Sekolah Murah. Hal ini memberi arti bahwa sudah selayaknya anggapan masyarakat terhadap komik meningkat dari sekedar “bacaan anak” dapat dipandang pula sebagai karya yang setara dengan penulisan buku-buku lainnya di ranah pustaka. Padahal di luar negeri komik sudah mendapat tempat sebagai karya seni tinggi misalnya diadakan penghargaan pada jenis komik novel grafis yang disebut “Will Eisner Award”.

Mungkin jika semakin banyak komik alternatif (sebutan sementara di Indonesia untuk produk komik yang ingin dianggap “lain” seperti buku ini) diterbitkan, membuka peluang kelak akan dibuat penghargaan khusus komik seperti Will Eisner Award. Apalagi komik yang mendapat penghargaan tersebut rata-rata dibuat dengan ambisi setara dengan penciptaan karya sastra sehingga sebutannya bukan lagi komik melainkan “novel grafis”.

Sebenarnya sebelum komik andalan penerbit Resist Book yang digagas Eko Prasetyo dan Terra Bajraghosa ini terbit, sudah mulai bermunculan komik lokal yang cukup menggugah mampu secara ide maupun artistiknya seperti The Konyol, 1001 Jagoan, atau Selamat Pagi Urbaz yang dengan tegas dinamai oleh komikusnya Beng Rahardian sebagai novel grafis.

Langkah penerbitan buku ini patut dipuji sebagai bukti bahwa sudah selayaknya industri perbukuan mulai memerhatikan komik sebagai peluang kreatif setelah sekian lama “hingar bingar” khasanah pustaka kita saat ini masih berhenti pada penerbitan novel populer, buku agama, humor, seks, atau buku petunjuk “how to” yang nyaris menjadi “tambang” sebagian besar penerbit buku di Indonesia.*

 

 

 

Iklan
Posted in: Comic Review