Steven dan Olga

Posted on 17/11/2010

0


Steven membandingkan leher penyanyi di televisi dengan leher Susan yang saat itu pasti sudah nyenyak di kamar hotel. Leher mulus penyanyi Sophie Ellis Bexter membuatnya bergairah. Sayang, gambar di televisi segera berganti dengan iklan. Gairah Steven menyurut. Televisi dibiarkannya tanpa penonton.

Steven menarik nafas dalam-dalam. Keningnya penuh keringat. Acara televisi sudah habis berganti dengan kumpulan semut. Steven berusaha menenangkan diri. Ditenggaknya sekaleng bir dingin. Sebatang rokok dibakarnya. Begitu saat pertama merasakan ketenangan dia bangkit dan mematikan televisi.

Hening. Kegelapan begitu terasa diiringi bunyi tetes-tetes hujan di halaman. Steven resah. Bir di kaleng licin tandas. Rokok sebungkus di atas meja sudah lama ludes.

Sekali-sekali, ya, sekali-sekali, kalau anakku tiba-tiba bangun, bagaimana? Hmh, ada baiknya aku berhati—hati. Namun Steven tak dapat membantah kemauan kakinya. Langkahnya mengendap-endap mendekati pintu kamar anaknya. Pembantu dan baby sitter bagaimana? Ah, tak usahlah… Jadi?

Dada Steven semakin bergemuruh sementara langkahnya kembali berlanjut berlawanan dengan keinginannya berbalik kembali ke kamar. Saat melewati ruang makan kembali ada keengganan di dadanya. Steven menuju kamar mandi. Tangannya mencari stop kontak. Dia mencuci kaki baru kemudian wajahnya. Pernafasannya terasa normal.

Steven memejamkan mata. Di kepalanya tergambar keadaan yang mendebarkan, persis seperti saat dia pertama kali mengajak Susan bercinta. Sementara itu di luar hujan memekatkan malam. Bayang-bayang wajah dan tubuh istrinya yang molek mengerjapkan gairahnya. Rona wajah Susan begitu bersinar seperti wajah-wajah malaikat dalam lukisan Abad Viktorian. Bersama kelam Steven meledakkan gairahnya. Sendirian.

***

Steven langsung masuk ke kamar tidurnya. Sudah dua bulan dia harus mengisi malam tanpa Susan di sampingnya. Ah, mengapa kau tak pergi keluar saja? Ya, pertanyaan-pertanyaan itu bukan hanya sekali menghampiri benaknya. Tapi begitu keinginan itu muncul wajah istrinya selalu terbayang. Belum wajah ibu mertua yang sudah begitu tua tapi masih setia memaksakan diri untuk menjenguk, seperti sengaja mengawasinya. Dia datang setiap hari. Jam tujuh malam baru pulang. Begitulah. Selama dua bulan dia menemaninya mengobrol setiap sore. Sungguh dua bulan yang membosankan karena bahan percakapan selalu tentang anak-anak, masa depan anak-anak…

Memang, pada awalnya Susan mampu membagi waktu hingga Steven tak sampai merana seperti yang dirasakannya sekarang ini. Seperti kata pepatah, penyesalan selalu datang terlambat. Tiba-tiba Steven menyesali keputusannya, keputusan membolehkan istrinya kembali bekerja.

Lima tahun lalu Steven mengenal Susan yang kala itu masih sarjana sastra di kampus yang sama. Begitu lulus, Susan memilih bekerja sebagai wartawan di sebuah majalah gaya hidup sementara Steven bekerja sebagai desainer grafis di perusahaan advertising.

Hubungan mereka terus berlanjut sehingga ketika waktu dirasa sudah cukup lama untuk saling mempelajari sikap masing-masing, Steven dan Susan  menikah. Dua tahun berselang setelah melahirkan Abel, Susan mengemukakan keinginan kembali ke dunianya yang dulu. Sebagai suami yang baik, Steven akhirnya mengijinkan walau semula terjadi perdebatan panjang dengan alasan tak mungkin melihat Abel akan lebih banyak menghabiskan waktu bersama baby sitter.

Steven bukannya cemburu. Dia malah bangga karier Susan meningkat. Apalagi dia sudah cukup lama bekerja di sana bahkan saat majalah tempat istrinya bekerja masih sayup-sayup. Kesetiaan dan ide-ide cemerlang Susan banyak memberi andil perusahaan.

Semakin karier Susan menanjak, Steven menyaksikan semakin sering istrinya pergi bertugas ke luar kota, selain memberikan presentasi ini itu sampai membuat planning tahunan. Di sela-sela kesibukan Susan memang masih menyempatkan diri sebagai istri dan ibu. Tapi, ya, apapun yang terjadi, walahualam kalau pada akhirnya ternyata lebih banyak hanya sekedar kangen-kangenan di telepon atau SMS sebagai pengganti jelas tidak cukup. Bahkan menggelisahkan…

“Itu penyiksaan! Bahkan kebodohan! Walaupun kau bilang itu terdorong rasa hormat pada istri dan mertua juga anakmu!” begitulah kata Bob, teman lamanya.

“Ah, kan banyak cara lain…”

“Oh, banyak, Steve! Sangat banyak! Tapi sampai kapan? Apa kau tidak berpikir bahwa suatu saat nanti kau akan jemu dan ingin yang alami sebagaimana adanya?

Steve, sudah dari dulu kukatakan keputusanmu membiarkan istrimu kembali bekerja adalah…nah, apakah kamu tidak memikirkan kemungkinan…sementara kamu dan…dia…Lebih baik…Ini dia kalau…”

Dan seterusnya, dan seterusnya Bob terus ngoceh sampai Steve remuk redam. Benar. Dia sudah mulai jemu menghindar terus. Dia sudah bosan dengan olahraga yang dilakukannya baik itu dengan melompat-lompat di kamar pada malam hari sampai letih atau sengaja bangun cepat untuk bersepeda atau jogging tiap pagi.

Tapi, Steven benar-benar tak berani kalau harus pergi ke pelacuran seperti usul Bob. Turun temurun sejak mendiang ayahnya yang juga pendeta itu Steven sudah terbiasa dengan dunia iman, moral, gereja dan doa-doa…Lantas, kenapa dia sekarang jarang berdoa? Bagaimana kalau sekarang? Ya, ya, sekarang! Sekarang saja! Ah, tanggung! Sebentar lagi juga ngantuk. Tapi doa tak baik mengada-ada dan dipaksa, begitu kata ayahnya dulu saat masih sekolah minggu. Lagipula, bukankah dia besok harus bangun cepat-cepat?

Steven mulai bersiap-siap tidur. Dia meraih guling dan memeluknya dengan erat. Dia harus cukup istirahat. Kalau bisa bangun duluan daripada pembantu dan baby sitternya agar mereka tak sampai mengetuk pintu kamarnya.

00:00

Dada Steven bergemuruh. Rasa panas mencekam. Keningnya berkeringat. Mendadak segala yang dipendamnya menyeruak. Bayang-bayang itu menggodanya. Sekali-sekali…ya, sekali-sekali, tidak apa-apa, kok. Asal nggak ketahuan tetangga, tidak ketahuan mertua, tidak ketahuan, tidak, tidak, tidddaaakkkk….

Kening Steven berkeringat. Hatinya semakin gelisah. Sekali-sekali tak apa, tak ada yang tahu, Stev…masa kau tahan terus nafsumu? Dia bangkit dan langkahnya tak tertahan untuk pergi keluar kamar. Gelap. Cuma ketika matanya menatap lurus ke belakang ada cahaya dari kamar si pembantu. Pembantunya lupa menutup pintu? Ah, aku pura-pura saja ke kamar mandi.

Dalam kegelapan dengan tenang dia melangkah di depan kamar si pembantu. Hasratnya yang kembali muncul selintas agar membuka pintu itu berhasil ditekannya dengan menarik nafas dalam-dalam.

Krrrtttkaaakk!!

Steven terhenti. Pintu kamar pembantunya terbuka. Steven merasa silau. Pembantunya menjengukkan kepala. Di wajahnya begitu jelas rasa mengantuk.

“Eh, Tuan?” cetusnya heran.

Steven tergeragap. Tapi dia meneruskan langkahnya menuju ruang makan tanpa menyahuti kata-kata pembantunya. Steven tak berani melihatnya hanya mengenakan kutang dan rok lusuh. Oh, sialan…

Steven langsung masuk ke kamar tidurnya.

***

Starbucks, Sabtu sore. Pelayan menyodorkan menu list. Tanpa dibaca lagi Steven memesan favoritnya, coffe latte. Ada nomor di ponsel. Nomor pemberian Bob. Untung ada Bob. Pokoknya beres, rahasia terjamin.

Jantung Steven berdebar. Dadanya bergemuruh. Dipejamkan matanya. Oh, tidak, tidak. Ini bukan karena aku tidak setia. Keterlaluan. Ini memang gila. Aku sulit menolaknya. Maafkan aku. Percayalah, aku tetap mencintaimu, Susan.

Dipencetnya nomor itu. Ada suara merdu di ujung sana. Benar kata Bob. Si pemilik nomor itu sebentar lagi datang. Benak Steven berkecamuk. Memang ini karena jasa baik Bob. Tapi, bagaimana kalau mengecewakan? Bagaimana kalau dia tak seperti yang Steven harapkan? Bagaimana kalau Susan tahu? Bagaimana kalau ada teman Susan kebetulan lewat? Bagaimana…?

“Steven Apoloniaris?”

Pelan-pelan Steven membuka matanya. Di hadapannya berdiri seorang perempuan dengan rambut sebahu berpotongan sedikit shaggy, highlights warna kecokelatan. Bibirnya merah basah, setengah terbuka. Kulitnya putih mulus bak pualam. Bau Estee Lauder. Jemari kaki mungil nan lentik. Kuku-kukunya berkilat sempurna dengan ujung putih. Manicure-pedicure gaya French.

“Saya Olga de Vega,”

Perempuan bergaun hitam itu tersenyum. Darah Steven tersirap melihat bagian dadanya yang sedikit terbuka. Ternyata benar apa yang dikatakan Bob. Olga sungguh mempesona. Begitu mempesonanya sehingga…

“Kok bengong?”

Malu. Steven mempersilakan Olga duduk. Ya, sudah lama Steven tak memperlakukan putri khayangan selain Susan. Dan itu adalah Olga. Olga adalah Olga bukan Susan…

Mereka cepat sekali akrab. Olga memang sungguh menawan. Tutur katanya begitu sopan, begitu terhormat di samping perawakannya laksana top model sejati. Kelelakian Steven terusik. Malam semakin merambat. Waktunya untuk segera beranjak.

***

Olga bergerak, menggeliat dan mengganti posisi. Lengannya yang terbuka begitu putih dan halus meruapkan kelembutan. Ah, apalagi yang ditunggunya? Suaranya yang serak-serak basah membuat Steven mabuk kepayang. Jari-jarinya yang lentik meraba paha Steven. Olga tergolek di pangkuannya sambil mendesis pelan, “Fly me to the moon, baby…”

Lampu besar dimatikan. Redup. Nyatanya begitu mudah menarik Olga ke dalam pelukannya. Olga terkejut sesaat dan Steven dapat merasakannya lewat wajahnya ketika bersitatap barusan. Lalu, semuanya menjadi begitu mudah pula saat Steven mendorongnya menuju pembaringan. Bau Estee Laudernya yang kencang menyergap hidung Steven.

“Stev…” desah Olga dengan tubuh gemetar. Steven merasa tak perlu menanggapi. Dia sedang berusaha untuk melahap bulat-bulat leher jenjang yang begitu dekat dengan mulutnya. Benak Steven berganti-ganti antara wajah Olga dan Susan. Ucapan dalam desah perempuan itu menyusup dalam ruang kesadarannya.

Nafas Steven begitu liar laksana seekor singa mencabik-cabik mangsanya tanpa ampun dalam lukisan Raden Saleh. Olga…Olga, kamu memang terlalu berharga untuk ditolak. Sesaat kemudian sepertinya tidak ada lagi dunia lain bagi mereka berdua.

***

Tak penting apa yang telah terjadi semalam. Pribadinya kembali utuh sebagai lelaki sejati. Dia tersenyum-senyum sendiri di atas ranjang. Suara shower menggema di antara keheningan.

Steven meraih jam tangannya yang terserak di atas karpet bersama celana dalam, kutang, dan lain-lain.

Jam 10.00.

Steven bangkit. Dia berjalan pelan menuju kamar mandi. Dlihatnya samar-samar bayangan tubuh mulus Olga di kaca buram. Shower dimatikan. Steven menggeser pintu itu pelan-pelan.

Olga berdiri dengan posisi membelakangi Steven. Dia berdiri di depan kloset. Kepalanya menunduk. Kedua kakinya dalam posisi mengangkang. Suaranya mengerang, “Aaaaahhhhhhh!” diikuti bunyi suara air memancur ke dalam kloset.

Dada Steven bergemuruh. Jantungnya seperti berhenti berdetak. Dia lari dari kamar mandi. Erangan Olga yang terdengar begitu berat menyusup dalam ruang gelap kesadarannya. Astaga, bukankah peristiwa semalam terjadi begitu cepat? Tidak, tidak mungkin. Ini, tidak mungkin! Masakan begitu bodohnya hingga tak kuperhatikan apakah ada sesuatu di antara kakinya? Bukankah semalam sepertinya baik-baik saja? Tapi, Olga…

Nafas Steven mendengus-dengus sampai tubuhnya dibasahi kucuran keringat. Batinnya menjerit, ya Tuhan mengapa kelelakianku tak ikut terbawa Susan agar aku tak menjadi pengkhianat bagi perasaanku sendiri? Mengapa? Steven ingin menginjak-injak dirinya sendiri sementara marahnya kemudian membludak…*

 

Rawamangun, Agustus 2010.

Iklan
Posted in: Cerpen