Katakan dengan Gambar

Posted on 17/11/2010

0


 

Perjuangan komik sebagai karya seni yang diperhitungkan semakin menjadi selain digunakan sebagai kritik sosial sampai kampanye politik. Upaya memberi arti komik sebagai karya seni mutakhir memunculkan istilah “novel grafis” dari Stephen Weiner yang menyebut Will Eisner sebagai “Bapak Novel Grafis” sejak Eisner menerbitkan A Contract with God (1978). Eisner sendiri pun punya buku Comics and Sequential Art (1985) dan Scott McCloud dengan  Undertanding Comics (1993) yang semakin menegaskan arti komik sebagai seni tinggi. Nama Eisner kemudian dinobatkan menjadi penghargaan komik prestisius, Will Eisner Award.

 

Seiring dengan perkembangan zaman dengan munculnya semiotika- ilmu yang mempelajari tanda-tanda dalam kemampuannya menganalisa bidang yang berbeda-beda- komik mulai diakui sebagai salah satu fenomena budaya kontemporer. Umberto Eco termasuk pakar semiotika yang menelaah komik sebagai salah satu produk budaya Amerika berpengaruh bersama bidang lain seperti film, penemuan hologram, dan lain-lain. Ahli semiotika lain, Arthur Asa Berger, juga menelaah komik lebih khusus dalam bukunya Signs in Contemporary Culture.

 

Novel grafis yang berarti “komik panjang yang dibaca sebagai cerita” (merujuk istilah Weiner) melahirkan komikus diantaranya Art Spiegelmann, Alan Moore, Frank Miller, Joe Sacco, dan Peter Kuper. Membaca karya Peter Kuper ini, Sticks and Stones (terbitan Three Rivers Press/ Crown Publishing Group, New York), kita bakal terhenyak. Tak ada narasi di sini. Tapi, gambar demi gambarnya dalam buku setebal 128 halaman ini mampu bercerita tanpa sepatah katapun! Mengisahkan kelahiran manusia batu dari gunung yang meletus. Seiring dengan perjalanan waktu, kehadirannya di bumi bertumbuh. Dan untuk menjalani hidup kondisi sosial tentunya sangat berpengaruh sehingga kehidupan manusia baru berarti. Kuper menggambarkannya dengan melukiskan manusia-manusia kecil lainnya dari batu membantu “Stones” (tokoh utama komik ini) membangun kursi tahta yang kemudian berkembang menjadi istana. “Stones” yang tubuhnya besar dinobatkan menjadi raja negeri batu.

 

Tapi, ada kehidupan lain yang digambarkan Kuper sebagai manusia kayu. Tanah tempatnya berpijak lebih hijau dan segar, sangat alami dan tak gersang seperti kerajaan “Stones”. Maka, “Stones” dan rakyatnya berusaha menguasai tanah manusia kayu berpijak yang dinamai Kuper sebagai “Sticks”. Perang terjadi. Ada tawanan dan juga pemberontak dari rakyat “Stones” yang tak setuju adanya perang. Selanjutnya, pembaca dihadapkan pada gambar-gambar kekuasaan “Stones” sampai akhirnya jatuh pada bencana alam yang ganas.

 

Laku Tanpa Kata

Lewat karyanya Kuper berhasil membuktikan bahwa tanpa balon kata pun komiknya sudah dapat bercerita dengan lugas, seperti perkataan Will Eisner yaitu komik sebagai seni merangkai adegan (sequential art). Stick and Stones sejatinya adalah ‘laku tanpa kata’, sehingga ia seolah berseru, “Katakan saja dengan gambar!” Tak heran, Alan Moore, pencipta novel grafis Watchmen dan From Hell menyebutnya sebagai karya bertenaga dengan ledakan emosional.

 

Meski tanpa kata dan gambarnya dibuat bukan bermaksud untuk melucu komik ini bisa juga dinikmati anak-anak, satu hal yang membedakan dari novel grafis lain, pun karya Kuper sebelumnya Metamorphose yang rata-rata dibuat untuk pembaca dewasa. Bahkan, karena bisu komik yang dicetak luks ini bisa dipakai sebagai bahan mendongeng. Bobot yang ada dalam komik ini sangat universal dan arbitrer- mana suka- yang disimbolkan pada penggambaran karakter manusia batu dan kayu. Dengan gaya seperti ini latar cerita menjadi tak penting tapi membuatnya tetap kontekstual dibaca kapan pun. Lahir, perang, dan kematian adalah kejadian sangat manusiawi yang bisa terjadi di mana saja. Persahabatan pun juga ada seperti hubungan salah satu rakyat “Sticks” dan “Stones” yang dipenjara raja “Stones” karena sama-sama berani memberontak.

 

Tiada sosok hero di sini walau pembaca dapat menyebut tokoh “Sticks” sebagai protagonis dan (tentu saja) korban. Selain ambisi sastrawi melalui gambar yang sudah bercerita dengan sendirinya tanpa narasi sebagai syarat novel grafis (cukup tebal, 128 halaman), ada refleksi filsafati tentang manusia seperti peristiwa kelahiran, kehidupan, perang, dan kematian. Cerita bahkan diakhiri pada keadaan faktisitas- istilah kaum eksistensialis yang menunjukkan situasi tak terkendali- yaitu bencana alam.

 

Peter Kuper sendiri di jagat komik telah menghasilkan beberapa komik novel grafis. Adaptasi komik karya Franz Kafka, Metamorphose adalah karyanya yang termashyur sehingga memberinya penghargaan Will Eisner Award. Karya lainnya adalah The System dan Speechless. Kuper sehari-harinya bekerja sebagai illustrator di The New York Times, Time, dan majalah komik humor parodi legendaris, MAD. Di majalah MAD ia menggambar komik serial Spy vs.Spy yang terbit setiap bulan.

 

Meski gambar hitam-putihnya tak serumit jika dibandingkan Metamorphose, detailitas tetap ada. Pada penggambaran tanah tempat kaum “Sticks” berpijak ada warna untuk memberi penegasan visual daerah wilayahnya yang hijau dan asri. Justru desain sampul yang dicetak embossed (timbul) dan gambar yang dicetak di kertas art paper menjadikan komik ini sebagai cetak grafis mutakhir tak kalah agungnya dengan seni lukis atau karya fotografi.

 

Dalam wawancaranya dengan Tom Spurgeon dari The Comics Journal, Kuper mengaku terinspirasi dari film dokumenter karya seniman Andy Goldsworthy, Rivers and Tides. Film tersebut menggambarkan Goldsworthy sedang melakukan perjalanan ke gunung. Pemandangan batu karang dalam film tersebut membuat Kuper teringat komiknya yang terbengkalai. Ide lainnya didapat kala ia dalam perjalanan ke Meksiko. Konon, semula ia ingin komiknya berwarna. Tapi oleh penerbitnya disarankan hitam putih agar emosi karakternya lebih kuat dan pemberian warna hanya sedikit, asal berhubungan dengan kisah. Mungkin kalau berwarna komik ini jadi kehilangan greget lantaran Kuper memang terbilang kuat dalam penggambaran hitam-putih.

 

Novel grafis sendiri di Indonesia sebenarnya bukan benda asing, walau baru diterjemahkan karya Joe Sacco (Palestine), Peter van Dongen (Rampokan Java) dan Understanding Comics-nya Scott McCloud. Teguh Santosa dan R.A. Kosasih dapat disebut sebagai peletak karya novel grafis pertama di Indonesia.

 

Membaca Sticks and Stones tentunya memberi arti pada kita – juga para  komikus- betapa tak terpermananya nilai sebuah komik tatkala ia mampu menguak sisi lain yang mampu berpijak lebih dari sekedar keindahan grafis atau cerita saja.*

 

Iklan
Posted in: Comic Review