Déjà Vu Pada Suatu Ketika

Posted on 17/11/2010

0


Mimpi itu kembali mengganggu tidur Marla. Seorang lelaki tak dikenal berwajah cukup tampan masuk ke kamar saat ia hendak berbaring tidur. Marla terkejut bukan kepalang. Ketika ia hendak berteriak lelaki itu menyapanya dengan tenang. Marla tak bisa berkata-kata lagi karena lelaki itu segera mengunci bibirnya. Mulutnya yang beraroma mint itu menularkan rasa mint-nya sehingga membuat Marla ingin terus merasakannya lagi…dan lagi…

Entah mengapa, ketakutan Marla lenyap seketika. Bahkan justru ia yang kemudian mendekat dan langsung menyandarkan wajahnya ke dada lelaki itu. Lelaki itu, ya, lelaki itu tak sedikit pun memancarkan maksud jahat dari matanya. Belum pernah Marla melihat pria itu sebelumnya. Seolah ia datang begitu saja, mengusik kehidupan Marla.

Marla terbangun. Pandangannya terpanah pada langit-langit kamar Ekspresinya tegang. Ini sudah hari ke delapan Marla dilesakkan mimpi-mimpi itu.

Siapa lelaki itu? Aku tak pernah bertemu dengannya.

Dalam kehidupan sebenarnya sulit buat Marla untuk jatuh cinta lagi semenjak kekasihnya, Dave melamar. Hubungan mereka toh baik-baik saja hingga tak terasa sudah mencapai tiga tahun. Tiga tahun adalah waktu yang cukup untuk saling mengenal pribadi masing-masing. Tapi, begitu Dave melamar entah mengapa Marla merasa ketampanan kekasihnya mendadak luntur, bahkan terlihat tolol. Jauh beda seperti cerita teman-teman, adegan film atau novel-novel roman…

“Saat mengajukan lamaran pacar kita akan tampak seperti Brad Pitt!” celetuk Mona.

“Atau Reeves, Keanu Reeves!” tambah Jessica.

“Ya, asal jangan kayak Mr. Bean,” desis Marla mengingat ekspresi Dave saat melamarnya.

Jika mengingatnya perasaan Marla campur aduk. Dave melamarnya di food court, di tengah keramaian. Bukan di antara temaram nyala lilin resto mahal diselingi liukan violin atau desahan saksofon… Oh, sungguh memalukan!

Sempat, sebelum mimpi aneh itu, peristiwa memalukan itu terulang lagi dalam mimpi. Saat Dave mengucapkan “Will you marry me?” mendadak orang-orang yang sedang lalu lalang dan duduk di food court menatapnya. Beberapa dilihatnya tersenyum-senyum, kemudian tertawa. Lainnya lagi bertepuk tangan, lalu berdiri mengelilingi meja mereka berdua. Suasana jadi riuh seperti film komedi Friends…

Kawin, ah, ini dia yang sangat rajin diucapkan ibunya semenjak berhubungan dengan Dave. Menjelang pergantian tahun pertanyaan itu terus diulang-ulang, bahkan semakin berapi-api. Apalagi di saat usia Marla sudah menginjak tiga puluh, tak hanya ibu, teman-temannya semakin santer saja.

Kawin?

Hm.

Ucapan Dave masih terngiang di telinga. Tapi keinginan untuk memutuskan tak kunjung datang. Kala itu Marla minta waktu untuk berpikir dan Dave yang baik hati mengijinkannya sampai pertanyaan itu datang lagi. Sementara mimpi aneh dengan lelaki tak dikenal itu berturut-turut mengusik tidurnya…

“Barangkali mimpi itu pertanda kamu harus segera kawin,” ucap Jessica. Ia mengucapkannya dengan tekanan pada kata ”harus”.

“Iya, apalagi yang lebih penting dari menjawab lamaran seorang pria?” celetuk Mona.

“Kasihan, lho. Dia minta jawaban segera…please, urgent immediately!”

“Eh, nanti malam I Like Monday-nya siapa? Atau nomat aja di PS? KC? Djakarta? PI?”

“Marla, knock, knock are you still there?”

“Ah, sudahlah! Kalian seperti ibuku saja!”

“Terus?”

“Terus, terus apa? Ya, pikir-pikir dulu!”

“Pikir-pikir apa? Kenapa pacaran lama-lama?”

“Lho, pacaran lama-lama ya…”

“Ya, buat apa? Perempuan lain belum ditanya sudah bilang ya. Kamu malah santai-santai, pakai pikir-pikir segala lagi! Terus kapan kawinnya?”

“Malas, ah!”

“Memangnya kenapa kalau kamu terima lamarannya?”

“Apa ya? Ya…rasanya…”

“Rasanya apa?”

“Kok jadi interogasi begini, sih? Rasanya tidak tertarik…”

“Ha, tidak tertarik kawin sama Dave?”

“Nggh, ehh…”

“Payah!”

“Aku…aku…nah…yang itu aku tidak tahu!”

Lho, kan bisa bilang iya dulu? Toh, akhirnya nanti kawin juga. Gampang kan?”

“Iya, kalau nggak jadi, ya, nggak apa-apa. Paling tidak…”

Tuhan, yang mau kawin kalian atau aku, sih? Tapi bukan itu yang keluar dari mulut Marla. Sepotong lagu yang dikenalnya terngiang di radio.

“Ssst! Nah, ini lagu barunya Dido! I know you think that I shouldn’t still love you or tell you that…” Marla mengeraskan volume-nya.

“Mar…”

“I will go down with this ship and I won’t put my hands up and surrender…”

***

Seorang perempuan cantik tak dikenal masuk ke kamar saat ia hendak berbaring tidur. Jeff terkejut bukan kepalang. Ketika ia hendak berteriak perempuan itu menyapanya dengan tenang. Jemari kaki mungil yang lentik, kukunya berkilat sempurna. Perempuan itu menatapnya lalu tersenyum. Jeff mendekatinya. Bibirnya merekah penuh gairah.

“I want you…” bisiknya lembut. Jeff tak bisa berkata-kata lagi karena perempuan itu segera mengunci bibirnya. Bibirnya yang basah, merah dan sedikit terbuka itu membuatnya ingin terus merasakannya lagi…dan lagi…sementara Jeff segera menyingkapkan kain yang membelit kaki rampingnya.

Belum pernah Jeff melihat perempuan itu sebelumnya. Seolah ia datang begitu saja dari langit. Jeff bekerjap-kerjap sampai tubuhnya bermandi peluh. Pandangannya terpanah pada langit-langit kamar. Ekspresinya tegang. Mimpi itu, ya, mimpi itu lagi.

Hari berganti hari Jeff semakin bingung. Ini sudah hari ke delapan Jeff menemuinya. Siapa perempuan yang tiba-tiba nyelonong seperti bidadari impian Itu? Darah Jeff seketika teracuni kejelitaannya. Otaknya mendadak tersumbat. Tapi siapa gadis itu? Siapa dia? Jangankan kenal, aku tak pernah bertemu dengannya!

Seingat Jeff hanya Monica, perempuan terdekat yang belum lama ini hampir dikawininya. Ah, kalau Jeff mengingatnya ia serasa bodoh. Barangkali ini karena terlalu buru-buru…ya, semakin dipikir Jeff paham waktu itu ia terlalu tergesa-gesa. Begitu tergesanya Jeff hingga ia melamarnya bukan di restoran yang romantis, atau di tepi danau di bawah sinar bulan purnama…Jeff melamarnya di restoran fast food Mc Donald! Entah apa yang dipikirnya waktu itu, yang jelas Jeff sudah tak tahan. Tiga tahun adalah waktu yang cukup untuk saling mengenal. Lantas ketika keberanian itu muncul, kenapa harus di saat lunch? Kenapa harus…

Jeff paham mengapa Monica minta waktu untuk berpikir. Tak hanya berpikir, waktu bertemu juga. Jeff masih ingat perkataan Monica di telepon, “Sepertinya kita jangan ketemu-ketemu dulu ya, Jeff. Hmm, uh, bukannya aku… ya…tapi…”

“Oke, aku mengerti. Kamu butuh waktu untuk berpikir, kan? Aku sangat mengerti, Mon. Aku…”

“Nggg…er…ehh…beri aku waktu beberapa hari, Jeff. Aku tidak bisa memutuskan secepat itu…”

Dan hari berganti minggu dan minggu berganti bulan. Sampai tak terasa Monica telah menggantung jawaban itu sampai tiga bulan…Jeff menyesali kebodohannya. Tiga tahun pacaran diselingi putus sambung ditambah tiga bulan penantian betapa menyiksanya!

“Sudahlah, tidak ada yang perlu disesali. Toh kalau kamu tidak segera mengatakannya kamu tidak tahu jawabannya, kan?” kata Anton.

“Kalau aku mempersiapkannya lebih matang pasti nggak bakal begini jadinya! Sabar itu ada batasnya, Bung. Ini sudah tiga bulan, Ton. Tiga bulan!” cetus Jeff.

Ah, apakah ini gara-gara Jeff pernah meminjaminya buku F. Nietzsche dimana filsuf kondang itu pernah bilang, “Membuat orang gelisah itulah tugas saya”? Pikiran Jeff campur aduk tak keruan sampai ia mimpi bertemu gadis asing tak dikenal.

“Nah, itu pertanda kamu harus mencari pengganti,” kata Anton.

Mencari pengganti? Ya, begitu mudah dikatakan. Dalam kehidupan sebenarnya sulit bagi Jeff untuk jatuh cinta lagi. Hubungan mereka toh baik-baik saja hingga tak terasa sudah mencapai tiga tahun. Tiga tahun adalah waktu yang cukup untuk saling mengenal pribadi masing-masing. Tapi, begitu ia melamar entah mengapa kelelakiannya luntur, bahkan terlihat tolol. Jauh beda seperti cerita teman-teman, adegan film atau novel-novel roman…

Untuk mencari pengganti sebenarnya mudah. Ada Clara yang memang terang-terangan menunjukkan perhatiannya di kantor, ada Stella yang pernah ditolong Jeff ketika pacarnya yang rocker itu mabuk berat, kalap lantas memukul Stella di kafe. Ada Rosa, tetangganya, masih mahasiswi yang selalu bersemangat kalau diajak bicara soal politik, sastra sampai film-film terbaru. Ada Tina kawannya di lantai lain yang setiap pagi mengirimkan cerita-cerita lucu di internet…ada…

Aih, mengapa tak ada wanita lain seindah Monica?

***

Jam 7 malam. Dave bilang akan segera tiba. Ya, mereka janjian ketemu di Spice Garden, Plaza Indonesia. Tapi begitu Marla menjejakkan kaki di sana langkahnya terasa berat. Ada sesuatu yang mengganjal. Lho, bukannya tadi aku sudah bilang ingin ketemu? Tapi, ah, demi Tuhan. Aku…aku…

Lamunan Marla buyar. Ponselnya berdering. Pasti Dave sudah di sekitar sini! Marla ragu mengangkatnya. Ia berjalan keluar. Keningnya berkeringat. Hatinya semakin gelisah. Dia bangkit dan langkahnya tak tertahan untuk pergi keluar dari Spice Garden. Hasratnya yang kembali muncul selintas untuk menjawab ponsel itu berhasil ditekannya dengan menarik nafas dalam-dalam.

Langkah Marla terburu-buru. Aku tidak siap…aku tidak bisa menemuinya…keterlaluan…tapi…kenapa aku mengiyakannya tadi siang? Bukankah aku…

Marla segera menapaki eskalator. Jantungnya berdegup kencang seperti mau copot. Pokoknya aku harus segera pergi dari sini! Di lantai selanjutnya, ada sale. Nah, di depan sana ada blouse putih yang sudah lama diidam-idamkannya. Lumayan, diskonnya sampai 50%! So, tunggu apalagi?

***

Jeff melangkah dengan gontai. Ia tak begitu yakin apakah Monica bakal menemuinya. Tiga bulan adalah waktu yang panjang untuk mengemukakan jawaban atas pertanyaan yang dipendamnya. Teringat perkataan Anton tadi siang, “Temui sajalah. Kalau dia tidak datang berarti sudah saatnya kamu mencari pengganti. Toh dia dulu yang mau menemui, kan?”

Ya, ya, baiklah. Aku akan datang. Aku pasti datang, Monica. Tapi ini masih lama. Barangkali ia masih sedang dalam perjalanan atau…ah, tapi baiklah. Aku mampir ke lantai atas dulu. Barangkali ada sesuatu yang bisa kubelikan untuk Monica. Ya, baiklah. Nah, di depan itu ada sale. Hehehe, tapi yang sale pakaian dalam, lho. Masak aku harus ikut-ikut mengaduk-aduk tumpukan itu sementara…

Langkah Jeff terhenti. Di depannya melintas seorang gadis berkulit putih rambut sebahu berpotongan sedikit shaggy dengan highlights warna kecokelatan. Pandangan mereka sekilas beradu dan sama-sama saling tertegun dalam sekejap saja. Mau menegur tapi urung karena sama-sama ragu. Jarak sekitar sepuluh meter sebenarnya tak begitu jauh untuk bisa mengenal dengan jelas wajah masing-masing.

Jeff bertanya, apakah benar gadis itu dalam mimpinya? Sementara  Marla yang sedang menenteng kantung belanjaannya pun sama halnya, bertanya-tanya bukankah lelaki itu yang…

Bukan main. Ini…ini…ini tidak mungkin. Tidak mungkin kejadian semalam dalam mimpi akhirnya terjadi di sini! Kata orang mimpi adalah bunga tidur. Jadi, biarkan saja pergi dan berlalu…dan…ya, tapi, sudah delapan kali, Marla. Dan…ah…

Marla berusaha tersenyum. Begitu pula Jeff. Senyum mereka manis sekali di balik rasa penasaran yang mulai memuncak. Gerak eskalator terasa lamban. Bibir masing-masing nampak bergerak ingin mengucapkan salam…tapi tak ada suara.

Jeff ingin memanggil Marla.

Marla juga ingin memanggil Jeff.

Tapi tak ada nama di kepala. Jeff ingin segera sampai ke lantai bawah lalu menyusul gadis itu ke atas. Marla juga ingin segera cepat-cepat sampai atas lalu menyusul lelaki itu ke lantai bawah.

Langkah keduanya terasa kaku setelah menapaki lantai tujuan masing-masing. Jeff akhirnya bergerak hendak ke eskalator lagi sedangkan Marla juga bergerak sama hingga keduanya terdiam sesaat.

Jeff bergerak, Marla menunggu. Mereka bertemu dengan puncak kerinduan yang ditekan kuat-kuat seolah takut meledak mengganggu suasana di pusat perbelanjaan itu.

“Kamu…” Marla menyapa duluan.

“Kamu…” Jeff tak melanjutkan kata-katanya.

Dua-duanya hanya saling pandang. Tercenung. *

 

Rawamangun, Agustus 2010.

 

Iklan
Posted in: Cerpen