Tatkala Juru Kisah itu Kembali

Posted on 17/11/2010

0


Judul Cerita-Cerita Negeri Asap

(kumpulan cerpen)

Penulis Radhar Panca Dahana

Penerbit Buku Kompas, 2005

Isi 180 hlm.

Radhar telah menulis. Dan itu lantaran alasan yang elektronik: ia memiliki diri yang berdegum hati, pikiran, dan kelenjar-kelenjar biologisnya, dimana bahasa prosa yang meluncur dari jarinya tak terhindar untuk bicara …(Pengantar 2005)

Demikianlah pengantar penulis berkesan naratif ala E.B White yang ditulis Radhar di halaman awal dan disajikan penerbit dengan tulisan tangannya sebagai pemanis desain berkesan personal. Ya, sang juru kisah itu telah kembali. Walter Benjamin berujar, setiap pagi membawa kita berita dari seantero bumi tapi toh kita hampir tak punya cerita-cerita yang layak dicatat. Dalam keadaan seperti itu Radhar telah menggantikan sosoknya dari seorang pewarta dalam esei-eseinya menjadi juru kisah. Momen-momen tatkala fragmen kehidupan datang dalam pemberitaan dan terancam hanyut oleh arus waktu Radhar kembali mencatatnya, mencatat sebentuk cerita untuk menebusnya dalam proses yang tak terberai.

Kiprah Radhar sebagai juru kisah nyaris pupus di tengah aktivitasnya sebagai penggerak kebudayaan. Memang beberapa cerpennya masih muncul seperti Sepi pun Menari di Tepi Hari (ada juga dalam kumpulan ini) yang kemudian dijadikan cerpen unggulan buku cerpen terbaik Kompas 2004. Maklum buku kumpulan cerpennya, Masa Depan Kesunyian terbit 8 tahun lalu.

Buku antologi Cerita-cerita Negeri Asap ini membuktikan dirinya kembali sebagai juru kisah. Pelbagai persoalan seperti “manis”nya dusta yang tersimpan (Dua Meter dari Kursi Tang Nadim, Hikayat Johnny, Anak Berbudi, Selamat Pagi, Tuan Menteri), kegetiran hidup (Senja Buram Daging di Mulutnya, Sepi pun Menari di Tepi Hati, Benarkah Duri Bisa Melukai?) mengalir dalam buku yang menghimpun sebanyak 14 cerpen ini.

Cerita adalah kekuatan yang menonjol dalam buku ini. Tanpa berlarat-larat dengan metafora atawa kata yang menjadi “peristiwa”, ia kembali menjadi semangat untuk menghadirkan kembali dunia dan persoalan-persoalan di dalamnya walau sebagian besar rata-rata pencapaian antara berita dan cerita dalam cerpen Radhar jaraknya cuma selangkah.

Cerpen bernada getir, Lelaki dengan Bibir Tersenyum membuka buku ini. Syahdan, Jaron pemuda yang hidupnya begitu lurus, nrimo, patuh dan apa adanya. Pada suatu ketika ia harus menghadapi problem yang menantang hati nuraninya. Bukan hal mudah walau ayah Jaron, Pak Arkiam adalah contoh korban dari sebuah sistem yang tercemarkan korupsi. Pak Arkiam sulit berdusta dalam peristiwa soal jual beli tanah warga kepada seorang investor pabrik yang harganya tak lebih 25% dari harga di plafon. Arkiam tahu banyak tapi tak bisa berbuat apa-apa. Ia lalu dijadikan korban atasannya karena tak bisa bohong. Ia mati di penjara dalam rasa penasaran yang besar. Jaron mewarisi bakat ayahnya yang lurus di tengah hidupnya yang bergejolak, terombang-ambing dalam kekonyolan nasib. Cerpen ini ditutup dengan bayangan wajah ayah Jaron yang muncul di benak Jaron. Bayangan wajah yang tersenyum hangat lantaran nasib Jaron sendiri mirip sang ayah: berakhir di balik jeruji penjara karena kejujurannya.

Kegetiran serupa muncul dalam Hikayat Johnny, Anak Berbudi (h.131). Johnny, nama beken dari Jono, bunuh diri setelah melakukan pertobatan atas dosa-dosa yang telah dilakukannya. Cerita lalu flashback ke dalam kehidupannya yang menurut banyak orang nyaris sempurna sedangkan di balik personifikasinya yang santun Johnny banyak melakukan kecurangan, pun ketika ia masih bocah dengan menyebabkan tetangganya, Kuncir jatuh dari pohon rambutan. Kuncir tak mati tapi ia gila karena belakang kepalanya menghantam akar pohon yang menonjol. Setelah merenung ia tak menghasilkan apa-apa kecuali kebohongan saja. Ada pergulatan ironi karakter menarik di sini antara alter ego Johnny yang mirip Oedipus, tokoh yang begitu banyak mengandung kebalikan dalam hidupnya.

Sedangkan impresi bernuansa misteri muncul pada Lelaki Dari Negeri Asap (h.121) dan Mayat di Tepi Semak (h.27). Uniknya, kedua cerpen ini walau diakhiri dengan suspens yang baik, awal cerita seperti tak bermaksud menuju ke arah itu. Efeknya justru baru terasa di akhir: mayat yang tiba-tiba hilang ketika polisi datang dan menanyai Tobar (cerpen Mayat) dan seorang lelaki yang mendadak tewas setelah menghisap batang rokoknya yang ke-32 (cerpen Lelaki dari Negeri Asap). Kedua cerpen ini berhasil “mengecoh” pembaca dengan baik.

Pada cerpen Mayat awal cerita nyaris biasa saja. Tobar yang suntuk dengan kesehariannya, pusing sehingga harus menelan satu-dua pil obat sakit kepala membaca berita kasus bom di koran. Suntuk dengan kesehariannya, ia menemui kabar menggemparkan: ada mayat di semak. Heboh, suasana riuh dengan bersliweran orang-orang di sekitar yang perlahan di benak Tobar beranjak kepada peristiwa biasa saja sampai kabar penemuan mayat itu tak menjadi “berita hangat” lagi. Impresi kengerian itu perlahan muncul dalam kalimat: “Sosok mayat itu. Terbujur meringkuk kaku. Sepi. Tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang aneh di hatinya. Semacam empati, tepatnya perasaan serupa dengan mayat itu. Kebekuan yang identik dan ketidakpastian yang tumpang tindih dengan kepastian” (h.33) Dengan lihai Radhar menggambarkannya seraya “menyeret” pembaca pada keajaiban: mayat itu membuka mata dan bangkit di hadapan Tobar. Ajaib, padahal Tobar baru saja melaporkan penemuan mayat itu kepada polisi!

Sedangkan pada cerpen Lelaki Dari Negeri Asap pembaca semula dibawa pada eksotika musim gugur di negeri orang, pemandangan di pedalaman Meksiko, suku-suku Indian di Guatemala dan Columbia, sampai pada taman kecil di tengah Centre Ville, ibukota Propinsi French-Comte. Uniknya kilasan tersebut digambarkan bak potongan adegan yang dirangkai terstruktur sehingga berhasil perlahan memindahkan fokus pembaca yang semula terpusat lelaki perokok-pengembara yang menjadi tokoh utama cerita ini kepada lelaki jubah putih yang tidur di setumpukan kayu. Cerita diakhiri dengan pengembaraan sang lelaki yang tiba-tiba mati di batang rokoknya yang ke-32 karena penyakit paru yang tak disadari telah lama diidapnya.

Walau cerpen ini realis dengan sedikit aroma eksil di dalamnya dan sama sekali tiada peristiwa ajaib, kilasan peristiwa seperti lelaki jubah putih yang semula diketahuinya seperti tukang tenung sakti dengan tongkat berasap atau ulama di Mesopotamia dan Babilonia yang mengatakan “tuhan datang untuk mengambil korban dan sedekah kita” (h.125) menyiratkan kesan mistis itu. Tanpa susah payah penulis menciptakan peristiwa ajaib, cerita ini sudah “ajaib” dengan sendirinya. Baiklah, sang tokoh mati dengan wajar. Tapi pelbagai peristiwa yang diceritakan sebelumnya begitu lihai dipilin Radhar. Padahal ia mati dengan cara sederhana: ia seorang perokok berat, itu saja. Kilasan demikian mengingatkan kita pada impresi cerpen klasik Edgar Allan Poe, The Tell Tale Heart yang meskipun berkesan ngeri nyaris tak ada peristiwa ajaib di dalamnya.

***

Keberagaman tema dalam cerpen Radhar mampu diolah dengan tepat walau konsekuensinya ia harus meletakkan banyak peristiwa ke dalam cerpen. Maklum, cerpen dalam buku ini rata-rata berasal dari koran (kecuali cerpen Lelaki dengan Bibir Tersenyum dan Selamat Pagi Tuan Menteri) sehingga harus bertarung dengan keterbatasan ruang.

Tapi, Radhar mampu bersiasat sehingga cerpennya tetap punya pesona walau pada umumnya cerpen diposisikan hanya mampu menguak sepenggal kenyataan serta kilasan kejiwaan yang serba tanggung. Misalnya aroma eksil yang ada dalam cerpen Aurevoir Aryani, Pulang Menanti, atau Bienvenue Aryani Juga Sekian Rindu (beberapa cerpen ditulis di Perancis tatkala Radhar menempuh studi sosiologi di sana).

Walau hanya “sekedar kumpulan” buku ini mampu menunjukkan kekuatan naratif Radhar yang barangkali agak terlupakan di dunia sastra Indonesia dengan belum adanya telaah secara khusus menyoroti jejak penulisan cerpennya.

Di tengah hiruk pikuknya perkembangan sastra kita dan “keangkuhannya”-meminjam istilah yang diberikan atas pengamatannya pada dunia sastra, Tahun Keangkuhan Sastra di sebuah harian ibu kota, Cerita-Cerita Negeri Asap mampu membuktikan dirinya kembali sebagai sosok pencerita yang andal. *

Iklan
Posted in: Book Review