Yang Usil Menyentil

Posted on 16/11/2010

0


Judul Kartun Benny & Mice Jakarta Luar Dalem

Illustrasi Benny Rachmadi & Muh. Misrad

Pengantar Bre Redana

Isi viii+136 hlm.

Penerbit Nalar, 2007

Tak terasa sudah hampir empat tahun kartun Benny dan Mice muncul di harian Kompas hari Minggu setelah sebelumnya sempat nongol sebentar di harian Suara Pembaruan Minggu. Kali ini duo komikus cum kartunis ini berkesempatan membukukan karya mereka sendiri bertajuk Jakarta Luar Dalem khas Jakarta yang usil dan menyentil.

Seperti karya terdahulunya enam seri Lagak Jakarta yang sukses diterbitkan Kepustakaan Populer Gramedia pada 1997-1999, Jakarta Luar Dalem juga penuh dengan candaan khas mereka tanpa bermaksud mengarif-arifkan diri atau menyelipkan pesan moral tertentu seperti, misalnya seri Panji Koming yang juga terbit di Kompas Minggu.

Buku ini dibagi dalam sepuluh bab yang rata-rata mentertawai orang-orang berkelakuan suka pamer alias snob. Sebutlah di halaman 17 memerlihatkan tiga orang pria mengenakan kostum bola Brasil, Inggris dan Argentina menjelang Piala Dunia 2006. Sebagai ‘balasan’ Benny dan Mice (‘nickname’ dari Muh. Misrad), yang memang menjadi sekaligus tokoh kartun mereka sendiri, mengenakan kostum wasit lengkap dengan peluitnya!

Atau di gambar yang lain di mana banyak kaum muda pamer memerlihatkan mereka dengan gigi yang dipasang kawat dan sudah menjadi mode. Sebagai ‘balasan’ di panel berikutnya duo Benny dan Mice tampil dengan gigi yang dipasangi kawat berduri yang biasa dijadikan pagar!

Buku ini selain menjadi telaah kritis ternyata juga menjadi medium gugat interpretasi penulis dan komikus terhadap problem-problem sosial. Cara melihat duo kartunis ini, Benny dan Muh. Misrad, tidak sekedar melihat saja namun bekerja laiknya seorang jurnalis fotografer yang jeli menangkap momen-momen tertentu yang menonjol untuk dijadikan obyek tertawaan dan banyolan mereka.

Satu hal yang tak dapat dielakkan adalah ketika karya mereka dibukukan nyaris tak terjadi pengulangan-satu hal yang sering menjadi kelemahan karya-karya kartun kebanyakan yang kemudian dibukukan. Setidaknya duo Benny dan Muh. Misrad ini sangat kreatif dan penuh persiapan matang untuk muncul setiap Minggunya. Terdapat cukup banyak varian lay out kartun yang mengawali setiap kartun mereka sebelum kisah dimulai dengan segar sehingga ketika dikumpulkan menjadi bentuk buku banyolan dan ide-idenya tetap terasa segar, usil, dan menyentil.

Meski menurut kata pengantarnya kartun Benny dan Muh. Misrad tidak terasa mengarif-arifi diri dengan kemudian menyelipkan pesan moral tertentu, dalam karya kartun ini tetap mengandung renungan yang dapat dimaknai sehabis pembaca tertawa menikmati banyolannya. Semisal di bagian Trend dan Mode di bab pertama memerlihatkan Benny yang semula ‘royal’ berbelanja di sebuah warung yang dikelola Mice sebelum memiliki telepon genggam. Di panel kedua memerlihatkan Benny yang belanja irit sekali hanya rokok dua batang dan minuman gelas setelah memiliki telepon genggam lantaran uangnya keburu habis sebagai anggaran pulsa yang sudah menjadi prioritas. Di sini terdapat renungan yang menyentil, yaitu kemampuan ekonomi seseorang yang terpaksa disunat setelah memiliki telepon genggam. Di sini juga terdapat banyolan yang tak kalah menariknya yaitu meledek orang-orang snob yang memiliki telepon genggam canggih nyatanya ketika berbelanja di warung duitnya ‘terpaksa’ dihemat sedemikian rupa sehingga menjadi sangat ‘hemat’!

Membaca Jakarta Luar Dalem pembaca pasti akan tertawa namun tetap meninggalkan kesan berarti lantaran merangsang daya intelektual pembacanya sehingga dapat ‘mengambil’ renungan yang termaktub di dalamnya.

Cara mereka mentertawai orang-orang snob dalam setiap gambar dan illustrasinya bisa jadi adalah cara mereka memaknai cara pandang orang kebanyakan yang mudah termakan iklan yang didentingkan pelbagai media massa namun gagal memaknai hidup mereka sendiri untuk tidak menjadi snob.

Pemilihan kedua tokoh yang mencuplik diri mereka sendiri sebagai cara pandang pembaca untuk menertawai diri sendiri juga unik, yaitu ‘arbitrer’-mana suka, satu hal yang belum pernah terjadi dimana setiap kartun lazimnya menyodorkan tokoh tertentu yang diciptakan sebagai ikon kelucuan, semisal Dwi Koen dengan Panji Koming-nya atau Rachmat “Libra” Riyadi dengan tokoh Timunnya yang juga muncul di Kompas Minggu. Jadi, tokoh kartun Benny dan Mice bisa saja ‘gentayangan’ di mana saja dalam berbagai profesi: menjadi pelayan toko telepon genggam, pemilik warung, tukang tambal ban, pencukur rambut atau hanya sekedar dua orang usil yang tak tahan untuk membalas perlakuan orang-orang snob yang suka pamer.

Pemberian komentar di sampul belakang buku mereka pun juga unik, yaitu tidak mencuplik kata-kata ‘blurb’ dari orang-orang ternama-lazimnya dilakukan buku kartun, melainkan diambil dari pandangan orang-orang awam saja yang muncul di internet sehingga membuat buku kumpulan duo kartunis ini benar-benar menjadi buku yang memang mampu ‘dimiliki’ semua orang.

Kemampuan mereka sebagai pengamat sosial boleh jadi sama dengan pengamat sosial pada umumnya. Bedanya mereka sebagai penagamat sosial menyajikan humor-humor segar yang berisi dan mempunyai kekayaan makna dalam setiap amatan sosialnya. *

Iklan
Posted in: Comic Review