Pendidikan sebagai Hamba Politik

Posted on 16/11/2010

0


Judul Politik Pendidikan Penguasa

Penulis Benny Susetyo

Penyunting Saiful Arif

Penerbit LKiS, 2005

Isi xvi + 224 hlm.

 

Hakekat pendidikan untuk mencerdaskan dan mencetak nilai-nilai luhur mengalami reduksi besar-besaran yang cenderung bertumpu pada kepentingan pragmatis liberal semata. Dunia dalam percepatan bukan diisi oleh generasi yang mampu menghadapi perubahan, melainkan lebih pada generasi yang mengabdi pada kekuasaan.

Pendidikan memang perlu, tapi esensinya sudah tak penting lagi sehingga yang dikejar adalah titel selangit. Ijazah aspal, asli tapi palsu dikejar walau belum lama ini sedang ditertibkan lembaga pendidikan “pelayan gila titel”.  Untuk itulah, rohaniwan Benny Susetyo Pr. memaparkan pandangannya tentang pendidikan yang sudah terkontaminasi habis-habisan dalam buku Politik Pendidikan Penguasa.

Cukup jeli ia menengarai luar dalam benang kusut pendidikan, pun agama sebagai kunci pembentukan moralitas yang telah terkooptasi. Kalau buku lain dengan tema pendidikan kebanyakan membahas ekses sosiologis sambil mengeritisi metode sistematika kebijakan pemerintah dalam pendidikan, buku ini jadi lebih gemuk lantaran menyoroti moral yang ditumbuhkan dalam pendidikan agama di sekolah, satu hal yang disadari atau tidak luput dari perhatian.

Dimulai dari Ketika Agama Disandera Politik (h.51) dan bab 4 Agama, Pendidikan, dan Pendidikan Agama (h.87). Pada bab ini ia menengarai, tekanan pengajaran agama di sekolah mendidik orang untuk to have  religion bukannya pada to be religious. Pendidikan agama terkesan membuat orang jadi suci dengan begitu taatnya pada aturan agama sampai sekecilnya walau tak disadari malah berakibat kurangnya perhatian pada masalah sosial. (h.89). Beban administrasi satuan pelajaran yang berat meskipun Indonesia cukup kaya dengan tradisi lokal, jadi mandeg dalam pelaksanaan sehingga menyuburkan moralitas semu dengan begitu memuncaknya kegiatan agama beserta ritualnya.

Hasilnya cukup jelas. Selain penganutnya menjadi munafik, tokoh agama sendiri pun lantas rentan terhadap godaan materi dengan praktik korupsi donatur kaya yang dihormati organisasi keagamaan. Agama menjadi cukup sibuk menambah jumlah pengikut daripada meningkatkan kualitas keimanan. Filantropi keagamaan di negeri ini jadi lebih mencorong secara pragmatis sehingga praktik kehidupan beragama sangat mudah sekali disetir untuk kepentingan politik. Misalnya, ramai-ramai kiai ikut partai politik seperti yang pernah didedahkan dalam Perselingkuhan Kiai dengan Kekuasaan (Dr. Endang Turmudi, LKiS, 2004).

Lewat pemikiran tentang agama, buku Benny mengingatkan kita misalnya pada cerita Topaz Sang Guru karya Marcel Pagnol (Gramedia, 1981) saduran Parakitri Simbolon, yang selain cukup mendapat perhatian sebagai cerbung di harian Kompas dekade 1980-an, bahkan sempat dua kali diangkat ke layar putih. Dalam buku tersebut, Topaz sang guru yang berdedikasi, pengajar sejarah dan pelajaran budi pekerti bergaji kecil. Mursalin, direktur sekolah pun mendepaknya hanya karena Topaz tak mau melakukan ketidakadilan. Pendidikan beserta pegiatnya yang diwakili sosok Topaz hanya jadi formalitas belaka dan terjerembab jadi paria dengan minimnya penghargaan.

Arah pendidikan makin jelas menuju pada kepentingan jangka pendek, seolah anak ditempa menjadi manusia yang harus paham berbagai masalah dengan mengabaikan kebebasan individunya.  Anak diharuskan menjadi pribadi dengan predikat superlatif (serba cakap-pandai), sedangkan yang tak memenuhinya silakan minggir. Menurut Benny, ini akibat proses belajar yang terjadi bukan secara humanistik melainkan doktriner (h.103) sehingga pantaslah pendidikan kita hanya menghasilkan generasi robot, generasi yang dituntut selalu seragam hingga menafikan perilaku luhur.

Buku ini cukup kaya dengan pandangan yang terbentang luas dari lini sosial hingga moral sehingga kita paham bahwa sejatinya bangsa ini sedang jatuh akibat pola pendidikan yang sedari awal diciptakan untuk menyuburkan pemikiran kerdil yang bertumpu pada jangka pendek dan jauh dari realitas, bukan pandangan ke depan yang senantiasa bertumpu pada realitas.

Iklan
Posted in: Book Review