Mentertawakan Kejujuran

Posted on 16/11/2010

0


Judul Pecker

Sutradara/skenario John Waters

Pemain Edward Furlong, Christina Ricci, Bess Armstrong,

Brendan Sexton

Produksi New Line Cinema, 1998

Masa Putar 98 menit

 

Apa jadinya ketika seorang anak dari kota kecil di Baltimore mendadak dikenal menjadi seniman fotografer andal? Ketenarankah? Lantas setelah tenar apakah semuanya berubah menjadi lebih baik dalam kehidupan Pecker? Tidak juga. Film arahan sutradara John Waters ini mengisahkan kehidupan seorang anak remaja bernama Pecker (Edward Furlong) yang tinggal di Baltimore. Pekerjaannya sehari-hari adalah pegawai toko sandwich. Tapi di luar itu diam-diam ia punya hobi lain yaitu memotret. Meski hanya dengan kamera pocket ternyata hasilnya luar biasa. Ya, kemana-mana Pecker tak ketinggalan membawa kameranya. Ekspresi apapun ia potret, dibantu kawannya Matt (Brendan Sexton) seorang kleptomani, Pecker banyak menghasilkan foto-foto menakjubkan.

 

Matt sering dengan kelakukannya yang sering mencuri itu tak sengaja dapat mengalihkan perhatian obyek yang Pecker potret. Ketika foto-foto hasil jepretan Pecker dicetak, banyak terekam ekspresi-ekspresi dan kehidupan natural keluarga serta kerabat Pecker. Misalnya Tina, kakaknya yang bekerja sebagai MC dan bartender di klab gay, ekspresi Shelley, kekasihnya yang bekerja di binatu sedang bete, atasannya di toko sandwich, macam-macam. Singkatnya segala aspek kehidupan yang natural namun berhasil terekam hal-hal yang tak biasa oleh Pecker. Masalah muncul ketika foto jepretan Pecker mulai dipajang di kafe tempat Pecker bekerja. Sang bos ternyata tidak suka karena ekspresi jeleknya terpotret. Buntutnya, Pecker malah dipecat. Untung ada Rorey Wheeler (Lili Taylor), seorang agen seni dan pemilik galeri di New York. Setelah ia melihat foto-foto jepretan Pecker di kafe itu, ia tertarik, bahkan segera mengajaknya berpameran di New York.

 

Selanjutnya kehidupan Pecker berubah. Ia memang menjadi tenar berkat hasil karyanya, tapi bukan berarti semuanya mendatangkan kebaikan. Shelley merasa terhina ketika fotonya disebut seorang kritikus foto “foto seorang Miss Debu”, padahal maksudnya “foto yang berhasil menggambarkan secara estetis eskpresi pegawai binatu”.

Maklum, kerabat Pecker notabene orang-orang yang tidak paham seni. Jadi, segala puja-puji tersebut cenderung jadi salah arti dan nggak nyambung. Ironis, sedangkan yang bangga hanya kedua orangtua Pecker. Seterusnya film ini menghantarkan kita pada kejadian-kejadian lucu yang nggak nyambung antara penduduk kota kecil dan kota metropolitan yang sangat berbudaya itu.  Bagi orang Baltimore, kerabat Pecker foto-foto itu sangat mempermalukan. Tapi bagi pengamat seni New York hasilnya menakjubkan karena berhasil merekam segala aspek kehidupan dengan natural.

 

Tidak Konyol

 

Pecker memang hiburan yang segar dan lucu. Ia memang tak menyajikan hal baru namun humor yang diangkat John Waters (karyanya yang terkenal adalah Hairspray dan Serial Mom) sebenarnya setengah ironi dan satir. Lihatlah ekspresi yang menunjukkan “gegar budaya” orang desa dengan orang kota pada adegan Shelley yang terus ngedumel ketika Pecker berpidato atas keberhasilan pamerannya. Ia terus ngoceh karena foto dirinya yang jelek (padahal Pecker dan orang-orang seni menyebutnya  karya seni foto yang brilian).

 

Karakter-karakter lain cenderung komikal walau tidak berlebihan seperti nenek Pecker yang mengaku bisa memunculkan sosok Bunda Maria yang bisa bicara (sedangkan ia menenteng patung Maria di pangkuannya dan bicara dengan suara perut/ventriloguist) atau adik Pecker yang sepertinya tak tertarik hal lain kecuali keranjingan makan cokelat saja, atau Matt yang ganteng tapi kleptomani sehingga membuat film ini makin menarik.

 

Konflik yang muncul, seperti ketika Pecker kembali ke Baltimore seusai pameran di New York berkembang semakin meruncing. Begitu habis bergembira merayakan suksesnya, rumah Pecker yang kosong dirampok. Lucunya, dua hari kemudian ketika Pecker sedang berjalan-jalan ia menemui  perampoknya. Ketika mereka berpapasan, si perampok ngomel, “Kamu kenapa memotret saya? Sekarang rasakan akibatnya!” Sang perampok berlalu dan meninggalkan Pecker yang kebingungan.

 

Film ini walau jenaka tapi unggul karena tak konyol. Lelucon-leuconnya menyiratkan kita bahwa tak selamanya kejujuran seseorang selalu membuahkan hasil yang baik. Kejujuran yang ditangkap secara artistik oleh Pecker bisa juga berakibat malapetaka (contoh rumah Pecker yang dirampok). Adegan lain ketika Tina, kakak Pecker yang kerja di bar untuk kaum gay bangga dipotret. Tapi pemilik bar dan banyak orang protes karena ada bar kaum gay di Baltimore. Buntutnya Tina dipecat! Atau ketika pegawainya digrebek polisi, polisi berterimakasih pada Pecker sementara mereka tak berdaya digiring ke polisi. Pecker menjerit, itu bukan karena aku! Dengan lihai Waters membingkai film ini dengan selera humornya yang apik. Walau Pecker seorang remaja, film ini toh bukan menjadi film remaja kebanyakan, melainkan menjadi sebuah komedi yang kadang satir pun ironi.  Permainan Edward Furlong sebagai Pecker patut dipuji. Ekspresinya yang inosen cocok sebagai pribadi yang jujur tapi dilematis begitu melihat banyak obyek footnya menderita justru ketika kariernya sedang melesat sebagai seniman fotografer. Sebaliknya ketika Pecker berhasil membuka bar yang dilengkapi foto-foto hasil jepretannya, orang-orang kota New York ganti merasa “ditelanjangi” karena mereka adalah obyek foto Peceker saat ia ke New York.

 

Lewat film ini Waters seperti tengah mentertawakan kejujuran. Ya, kejujuran tak selamanya baik dan kebaikan bagi satu orang justru bisa berarti kemalangan bagi yang lain. Berbekal idenya yang cemerlang film ini mempunyai nilai lebih dan tak berkembang menjadi dagelan saja. Banyak karakter yang komikal, tapi semuanya tak lantas menjadi konyol walau akhir film ini kurang meninggalkan kesan yang menggigit. Film Pecker seolah mengingatkan kita  bahwa di zaman sekarang kejujuran memang sulit dicari, kecuali Pecker sendiri yang memang hanya ingin hidup baik-baik saja dengan karier fotografinya, selain memang dalam hidup adalah sulit mencari ketulusan.

 

Tengoklah  Rorey Wheeler yang diam-diam naksir perjaka tingting Pecker padahal ia sudah punya kekasih. Pecker memang komedi yang berhasil  mentertawakan kita yang sulit untuk jujur apalagi tulus. Humornya selain bermakna juga menyindir kehidupan berkesenian itu sendiri yang dianggap agung, tapi toh juga asal-asalan  dan memang tak selamanya agung. Contoh ketika Rorey mengenalkan kepada Pecker pacar barunya yang juga fotografer. Fotografer yang muda, ganteng, gagah tapi…buta saudara-saudara! Dengan entengnya si fotografer muda bilang dengan gaya sok nyeniman, “Saya menawarkan sesuatu yang baru, yang tidak fokus itulah karya-karya saya!” sambil jeprat sana-jepret sini…*

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan
Posted in: Film Review