Maestro yang Dilupakan

Posted on 16/11/2010

0


Judul Kritik Sosial dalam Film Komedi :

Studi Khusus Tujuh Film Nya Abbas Akup

Penulis Harun Suwardi-Veven Sp. Wardhana

Isi xxiii + 180 hlm.

Penerbit FFTV-IKJ Press, 2006

 

Dalam perfilman nasional nama Nya Abbas Akup tak bisa dilupakan walau pada kenyataannya sineas kelahiran Malang berdarah Aceh ini sampai akhir hayatnya tak pernah mendapatkan Piala Citra. Satu-satunya penghargaan yang pernah diraihnya adalah Piala Antemas (1978, untuk Inem Pelayan Sexy) penghargaan untuk film terlaris, dan Piala Bing Slamet (1991, untuk Boneka dari Indiana) sebagai film komedi terbaik.

Meski piala untuk Akup adalah penghargaan khusus – mirip sineas Alfred Hitchcock yang sepanjang karirnya juga tak pernah mendapat Academy Award- anak didik Usmar Ismail yang mengawali karirnya sebagai asisten sutradara dalam film Kafedo (1953) ini seperti kurang diakui juri Piala Citra lantaran prestasi tertinggi kebanyakan diraih untuk film-film drama. Sadar tak sadar walau filmnya berbobot namun sukses menghasilkan laba, sosok pendiam yang jauh dari kesan lucu ini seperti tenggelam dibandingkan nama besar Usmar Ismail, Syuman Djaya, Teguh Karya, Wim Umboh, Arifin. C. Noer, dan Asrul Sani dalam sejarah film kita yang sebenarnya sudah sangat tua ini.

Salim Said, pengamat politik yang juga kritikus film bahkan sampai menjulukinya “tukang ejek nomor wahid” atas kiprahnya “menampilkan sesuatu yang baru di tengah sejumlah komedi konyol gaya sandiwara” (Pantulan Layar Putih, Pustaka Sinar Harapan, 1991). Kalau untuk “Bapak Film Nasional” kita dapat menyebut Usmar Ismail, Nya Abbas Akup, pria kelahiran Malang berdarah Aceh 22 April 1932 dan wafat pada 14 Februari 1991 ini menyandang gelar “Bapak Film Komedi Indonesia”. Ia memang pantas menyandangnya lantaran setelah 15 tahun kepergian Akup generasi film komedi yang dipelopori pelawak kondang mulai dari Bing Slamet, Benyamin.S, Jalal, Ateng, sampai duet Kadir-Doyok yang pertama kali dipertemukan dalam film Cintaku di Rumah Susun (1987) semua lahir dari tangannya selain Akup dinilai menyegarkan aspek bertutur film komedi di tengah komedi konyol slapstick.

Selain hampir semua generasi bintang komedi kita pernah ditangani Akup, hampir semua sub genre film komedi juga disentuhnya. Sebutlah Drakula Mantu (1974, a.ka. Benyamin Kontra Drakula) Anda dapat melihat horor komedi, Tiga Buronan (1957) ada black comedy dan komedi aksi, Bing Slamet Koboi Cengeng (1974) ada parodi ketika di masa itu Indonesia sedang tergila-gila pada popularitas film koboi Django, Lone Ranger, dan Bonanza, ada komedi musikal Dunia Belum Kiamat (1971), sampai kritik sosial dalam Inem Pelayan Sexy (1976) yang menjadi masterpiece-nya.

Tak hanya itu, Akup sendiri pun punya penerus. Adalah Ucik Supra, sutradara Rebo dan Roby dan Badut Badut Kota yang dapat disebut sebagai penerus film komedi kritik sosial seperti dirinya. Sayang Ucik muncul di zaman terpuruknya perfilman nasional sehingga ia kurang produktif walau film terbarunya Panggung Pinggir Kali (2004) yang meski bukan komedi masih sedikit menyimpan greget dengan kritiknya, satu hal yang segan disentuh produser film kita lantaran kebanyakan masih berkutat dalam diktum “menghibur diri sampai mati”- meminjam istilah profesor komunikasi Neil Postman.

Karena buku ini berasal dari skripsi, Harun Suwandi saat menempuh studi filmologi di Fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta (IKJ) kontan buku ini juga mengupas sekilas perkembangan film komedi di dunia (h.27) dan jenisnya (h.49), juga pemasarannya (h.72) sebagai catatan pembuka mengawali penelitiannya pada tujuh karya film Akup yang menjadi kanon mulai dari Heboh, trilogi Inem Pelayan Sexy, Cintaku di Rumah Susun, sampai karya terakhirnya Boneka dari Indiana. Ditulis ulang sebagai karya sekunder oleh Veven Sp. Wardhana, sastrawan cum pengamat media agar bahasa skripsi dalam naskah aslinya tak “angker” sehingga layak menjadi buku, buku ini mengurai segala aspek karya Akup yang juga menjadi box office berdampingan dengan pamor film komedi ala Benyamin.S dan Warkop DKI.

Sosok penulis buku ini, Harun Suwardi alm. (meninggal 10 Januari 2004) pun terbilang unik. Namanya relatif tak dikenal sebagai penulis lantaran ia lebih banyak berkecimpung di balik layar mulai dari pengurus Kine Klub Dewan Kesenian Jakarta, pimpinan produksi film dokumenter dan terakhir menjabat sebagai dosen Sejarah Film Indonesia di FFTV IKJ khususnya jurusan filmologi, jurusan yang sampai kini kurang diminati mahasiswanya. Tak heran, buku ini toh seperti halnya Layar Kata karya Seno Gumira Adjidarma (yang juga dari skripsi dan terbit menjadi buku) semula dibuat sebagai persyaratan kelulusan pertama S1 di FFTV IKJ. (pengantar Seno Gumira Adjidarma, h.viii)

Buku ini terbilang komprehensif sebagai sebuah kajian. Kiprah Akup dalam produksi film selera pasar dengan mendirikan PT. Inem Films-perusahaan yang didirikan dengan memakai judul masterpiece-nya- juga disinggung. Kiprahnya sebagai pimpinan PT. Inem Films di luar anggapan baik buruknya sebagai kreator sebenarnya dapat memberi inspirasi betapa gigihnya ia berpijak antara idealisme yang mementingkan aspek seni- dengan komersial, dua hal yang begitu nyata berseberangan jika enggan dikatakan bermusuhan. Hal demikian mengingatkan kita pada produser film schlock atau kelas B di Eropa-Amerika yang sarat dengan adegan seks dan kekerasan (biasanya untuk konsumsi penonton teater mobil drive-in). Konon Francis Ford Coppola dan Sylvester Stallone bahkan pernah berkutat dalam industri film porno sebelum dikenal, satu hal yang sesungguhnya relatif lebih “gawat” dibandingkan Akup!

Buku ini pantas mewarnai jagat pustaka kita khususnya dari segi apresiasi kultural setelah penerbitan buku jenis ini nyaris terhenti setelah diterbitkan Layar Kata (2000), Membaca Film Garin (2002), Nonton Film Nonton Indonesia (2004) lantaran lebih diramaikan dengan penerbitan buku film jenis movie tie-in (novelisasi), buku skenario, dan how to membuat film yang dirancang sebagai pemasaran film baru di bioskop nasional. Berbulan kemudian baru terbit A to Z about Indonesian Film (2006) yang juga meramaikan buku jenis ini apalagi penerbitannya dirancang untuk meneruskan penerbitan kampus IKJ Press yang diikuti judul lain di ranah teater. *

 

Iklan
Posted in: Film Review