Lokal-Kontekstual:Kemiskinan Imajinasi atau Kesalahan Pembaca?

Posted on 16/11/2010

0


Tampaknya posisi sebuah karya sastra di mana ia ditempatkan tak disadari masih “menghantui” kebanyakan pembaca kita- mulai dari generasi tempo doeloe sampai zaman sekarang- khususnya yang lahir dari genre “sastra koran” dan “jurnal-majalah sastra”.

Hal demikian makin menguatkan anggapan saya bahwa sebetulnya masih ada yang tak beres dengan pembacaan kita sehingga karya apapun yang mungkin cukup punya kekuatan persuasif seperti setting yang sepertinya seolah dari negeri antah berantah, cerita dengan parabel maupun interpretasi yang terasa subversif karena berasal dari Al Quran, dan lain-lain yang sebenarnya punya potensi mengisi “jagat lain” seperti yang pernah diungkapkan Renee Wellek dan Austin Warren dalam buku klasiknya Teori Kesusastraan, tak pernah menggugah pengamat sastra untuk menelisik lantaran dirasa tidak lokal-kontekstual.

Memang, belum lama ini sajak-sajak penyair Lampung sempat menggugah Nirwan Dewanto untuk menyebutnya sebagai “Homo Lampungensis” di Koran Tempo beberapa waktu lalu. Sialnya (ini bukan tentang anggapan benar atau salah) walau esai tersebut sedikit memunculkan kegembiraan saya bahwa seorang Nirwan Dewanto mulai menelisik karya penulis angkatan baru, tak disadari ada satu hal yang masih menjadi “diktum” para pengamat untuk paling tidak menyebut sebuah karya sastra layak baca: dia harus lokal-kontekstual dulu dengan problem yang ada di Indonesia, atau tokohnya harus seorang Indonesia.

Oleh karenanya wajarlah ketika Indonesia sempat melahirkan penulis genre fiksi ilmiah yang cukup serius, sebutlah Djokolelono dengan serial Penjelajah Angkasa-nya di era 1980-an, problem masa depan dengan rasa hiperealitas dalam Opera Bulutangkis 1999-nya Titi Nginung, rasa eksistensialis dalam Rissa (Grafikatama, 1990) karya Umar Nur Zain, atau Lorca karya Sihar Ramses Simatupang (Melibas, 2005) yang tak dihiraukan lantaran tokoh-tokohnya dituding tidak membumi, tetap saja yang muncul ke permukaan adalah problem lokal-kontekstual yang menghambat kepenulisan kreatif kita sendiri.

Akibatnya, sadar tak disadari sastra seperti “jalan di tempat” dan nyaris hanya melahirkan tema yang sejalan dengan tren. Semisal geliat sastra Islami yang dipelopori Forum Lingkar Pena (FLP) atau “sastra seks”, chick lit dan teen lit yang cocok dengan kondisi kehidupan metropolis.

Pertanyaan mengusik, masalah ekskomunikasikah ini ketika sesungguhnya sudah cukup banyak eksperimen yang dilakukan para pengarang Indonesia? Mengapa karya dengan latar “antah berantah” hasilnya kurang menarik pengamat sastra kita yang agaknya lebih mengakui karya lokal-kontekstual? Lupakah kita ketika Budi Darma menelurkan Olenka dan Orang-Orang Bloomington atau Pamusuk Eneste dengan Orang-Orang Terasing yang sangat jelas berlatar dari negara asing sehingga sampai saat ini karya tersebut belum “digugat” lokal-kontekstualnya? Ada apakah ini? Kesalahan dalam pembacaan atau imajinasi kita yang memang miskin?

Apakah karena kita masih mengulang kebiasaan lama yang masih belum pulih: dengan banyaknya sastrawan yang lahir dari genre cerpen koran dan jurnal budaya yang elit, bukan buku yang sebetulnya memberi ruang sangat longgar untuk berimajinasi? Gejala ini akibatnya pun nyaris sama ketika H.B Jassin masih hidup: kalau dulu penulis baru dianggap “sastrawan” kalau karyanya di-ACC H.B Jassin, sekarang kalau dimuat terlebih dulu di sebuah harian dan jurnal sastra terkemuka.

Adagium “pengarang sudah mati” memang sah-sah saja bergulir. Tapi, sungguh celaka jika memang pembaca yang konon diharapkan khalayak umum diharapkan dapat “menuntun pembaca” ternyata “dia juga mati” bukan karena tak mampu secara intelektual, tapi jangan-jangan memang miskin imajinasi.

Dan, dampaknya ternyata lebih celaka lagi ketika “yang sudah mati” lantas dianggap publik seolah mafhum bahwa karya sastra itu harus lokal dan kontekstual Indonesia. Akibatnya penghargaan sastra maupun karya buku pun jadi “teracuni” oleh “diktum” itu sehingga penghargaan yang ada kurang bergairah secara kompetitif. Sebutlah Adikarya Ikapi, Rancage (untuk sastra Sunda) atau Buku Utama jika dibandingkan dengan Khatulistiwa Award atau penghargaan novel-roman dari Dewan Kesenian Jakarta.

Sastrawan Pramoedya Ananta Toer pernah mengomentari karyanya yang diterbitkan ke bahasa asing beberapa desain sampul bukunya kebanyakan bergambar wayang. Mungkin ini hal sepele. Tapi saya menangkap apakah hanya itu yang muncul di pikiran orang asing tatkala membayangkan Indonesia, seperti halnya musik kita hanya gamelan? Bukankah ini juga memunculkan anggapan bahwa dikarenakan diktum sastra kita harus lokal-kontekstual, bayangan tentang Indonesia di mata asing jadi sempit meskipun banyak juga karya kita yang berjiwa global tanpa harus dengan simbol wayang?

Padahal sejarah sastra dunia mencatat Jhumpa Lahiri, yang dibesarkan di London, memenangkan PEN/Hemingway Award dan New Yorker Prize setelah dianggap “tidak lokal-kontekstual” di India sehingga ia sempat patah arang merasa dipinggirkan pengamat sastra dari negara asalnya sendiri. Hal ini juga yang terjadi pada Haruki Murakami yang di negara asalnya dianggap “tidak membumi”. Murakami adalah seorang penerjemah karya sastra Barat ke Jepang sehingga ketika menulis karyanya sendiri sastra Barat memengaruhi karyanya. Tapi di luar pengaruh karya asing, karyanya Norwegian Wood dan The Elephant Vanishes ternyata cukup punya nyali di pasar internasional ketika diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Ini membuktikan bahwa imajinasi yang menguatkan karyanya, pun di luar arena lokal-kontektual itu.

Begitu juga kemenangan novel Vernon God Little (yang terasa sangat Amerika dengan begitu kentalnya budaya pop di dalamnya) karya DBC Pierre dalam Man Booker Prize 2003 sempat dicaci lantaran novelnya tak mengandung lokalitas kontekstual Inggris. (Catatan: penghargaan Man Booker Prize adalah penghargaan buku dari Inggris. Salah satu penulis yang pernah jadi pemenangnya antara lain adalah Salman Rushdie dan V.S Naipaul yang peranakan India).

***

Problem lokal-kontekstual memang menarik dan terus memancing perdebatan sastra kita- bahkan dunia yang juga menyimpan problem serupa. Pertanyaan mengusik, apakah DBC Pierre menang setelah karya pemenang sebelumnya yang rata-rata sangat Inggris (catatan: Pierre dituding terlalu kental budaya Amerika-nya karena penulisnya sendiri hidup berpindah-pindah dari Amerika ke Inggris) mulai membosankan juri Booker Prize hingga mereka memilih Pierre ketimbang nominator lain seperti Rushdie atau Zadie Smith yang sangat lokal Inggris pada waktu itu?

Bisa jadi. Tapi, di luar rasa curiga itu sebetulnya saya malah menangkap kekuatan tekstual karya Pierre sehingga pada Man Booker Prize 2003 saya mencatat ada kemajuan: adanya kenikmatan tekstual yang tak lagi dilatarbelakangi dengan lokal-kontekstual. Problem Pierre sejatinya kontekstual juga walau ia diolah dengan “rasa” lain.

Saya khawatir kalau problem ini masih menggumuli pembaca dan pengamat maka imajinasi (juga para pengarangnya sehingga baru berani menulis kalau sudah ada yang memulai) kita jadi miskin walau sesungguhnya sudah hampir semua eksperimen literer pernah dilakukan penulis kita– entah itu dimaksudkan sebagai karya sastra maupun sekedar klangenan.

Sedangkan teknologi informasi dengan banyak diterbitkannya karya fantasi impor maupun demam blogger– menulis jurnal di Internet dengan blogspot– sadar tak sadar memengaruhi dunia literer kita yang pada masa kini diam-diam sudah mulai menanggalkan aroma lokal-kontekstual itu. Semisal diterbitkannya fantasi epik Pinissi karya Mama Piyo, Ledgard karya WD Yoga atau The Corruptor karya Stanley Timotius Kurnia (yang ditulis dengan bahasa Inggris), dan lainnya yang justru ditulis para penulis belia yang muncul di tengah merebaknya tren chick lit dan teen lit memberi bukti bahwa imajinasi penulis kita tidak miskin.

Pemikiran pemawas sastra kita dengan “diktum” lokal-kontesktual baru bisa tergerus dengan mulai diperbanyak penghargaan sastra maupun buku – di luar yang sudah ada- dengan aroma yang lebih kompetitif sehingga menggairahkan penulis untuk berkarya.

Dan, sinyalemen itu toh nyatanya sudah ditemukan, hadir dan mengalir tanpa harus menunggu pembaptisan para pemawas sastra kita.

Iklan