Ketika Dunia Sudah Berjarak

Posted on 16/11/2010

0


Dunia film kita belum lama ini seperti menunjukkan geliatnya kembali. Meskipun demikian harus diakui kebebasan berkarya belum banyak dimanfaatkan sebagai peluang karena masih ada kekhawatiran jika tak membuat film sebagai hiburan, ia akan ditinggalkan. Nampaknya “dosa asal” film kita seperti lontaran Salim Said (Pantulan Layar Putih, Penerbit Sinar Harapan, 1991) dalam kerangka “selera saudagar” masih saja menggayut walau lima tahun terakhir ini film Indonesia mulai diproduksi.

Pertanyaan mengusik, kenapa sampai kini belum ada bintang yang menjanjikan, baik dari kualitas akting sampai penyutradaraan sehingga lagi-lagi jika kita mendiskusikan pelbagai problema yang menyelubungi film nasional masih nama-nama lama saja yang dibicarakan?

Tentu saja hal termudah yang sampai kini jika enggan dibilang tak dihiraukan adalah begitu sulitnya memunculkan keaktoran dalam teater kita-satu dari fondasi dasar sebuah produksi film. Memang, bibit-bibit teater kita di berbagai tempat tumbuh, tetapi untuk mendapat tempat di dunia film bak mimpi di siang bolong saja.

Produksi film seperti halnya televisi lantaran masih berpijak pada “selera saudagar” akhirnya begitu bergantung pada prominence (keterkenalan) selebritas. Keaktoran yang sudah mandek dalam teater Indonesia semakin memburuk selain perannya dalam masyarakat sudah berjarak dengan masyarakat awam, kiprahnya untuk paling tidak memerkaya produksi film kita juga berjarak. Sangat jarang orang teater mampu berkiprah lagi di film seperti halnya Teater Populer besutan almarhum sineas dan dramawan Teguh Karya yang pernah berhasil melahirkan bintang sesungguhnya macam Slamet Rahardjo Djarot, Christine Hakim, dan lain-lain.

Belum lama ini ada profesi lama tapi baru (dengan nama baru-maksudnya) yaitu acting coach. Profesi ini bertugas mengarahkan akting-akting bintang baru (umumnya dari dunia model) yang sangat berjarak dengan seni akting sesungguhnya agar mampu berakting untuk sebuah produksi film. Memang profesi ini dibesut oleh sutradara maupun orang-orang teater yang paham dunianya. Tanpa bermaksud mengecilkan arti acting coach, lantaran mereka sendiri yang turut terdampar dalam skedul produksi film yang juga tergesa-gesa (baca: ketat) seperti sinetron, akibatnya jasa mereka hanya melahirkan kualitas akting “seadanya” – kecuali jika bintangnya sendiri sadar harus belajar meningkatkan kemampuannya. Ilmu seni peran hanya diperoleh sepintas lalu untuk film itu saja tanpa merasuk ke dalam proses belajar semestinya, misalnya turut berpentas teater.

Segala posisi produksi film pun dihemat dengan cara tak layak. Bahkan kalau perlu memanfaatkan ketidaktahuan (tepatnya, memanfaatkan keluguan seorang bintang remaja yang seharusnya sudah cukup jika ia memaksimalkan saja aktingnya) yang mendadak dibaiat juga oleh seorang produser menjadi penulis skrip film!

Menggunakan keterkenalan bintang memang tak sepenuhnya salah di tengah giatnya kembali produksi film supaya memancing orang kembali menonton film Indonesia di bioskop. Tapi alangkah naifnya jika hanya hal tersebut dipentingkan, mengingat begitu banyaknya bibit-bibit dari sekolah teater sendiri sangat sedikit dilibatkan dalam produksi film.

Memang, suksesnya film Ada Apa dengan Cinta? (AADC, 2002) dengan melahirkan bintang Nicholas Saputra dan Dian Sastro menjadi fenomena tersendiri lantaran kedua bintang tersebut bukan lahir dari teater, melainkan dari pencarian bibit (talent scout) yang ketat. Hal tersebut juga terulang dalam Arisan! (2004) besutan sineas Nia Dinata. Tapi seberapa banyak film yang berhasil sebaik AADC atau Arisan dengan cara itu? Bukankah dengan cara demikian meskipun boleh-boleh saja dilakukan, hasilnya masih jarang yang mampu berkualitas sebaik kedua film tersebut?

***

Bukan hal mudah mensinergikan teater dan film-dua kubu yang seharusnya bercengkerama seperti zaman keemasan Teater Populer- lantaran kehidupan teater kita sendiri toh juga berjarak dengan masyarakatnya. Contoh sederhana, untuk melihat proses latihan Teater Mandiri saja di zaman sekarang pun tertutup untuk umum. Bagaimana masyarakat memahami teater jika akses untuk mengenalnya saja sudah tertutup?

Dunia teater Indonesia sendiri menjadi asing sehingga ketika pentas teater atau monolog yang belum lama ini difestivalkan Dewan Kesenian Jakarta, pentas yang ada cenderung “beraneh-aneh” tanpa pijakan jelas. Maklum, missing link sejarah teaternya sendiri oleh para penggiatnya yang (jangan-jangan juga tak paham sejarah teater) membuat seni teater tercemar lantaran hanya ingin sekadar disebut tampil beda sambil berkilah “ini seni kontemporer”. Teater dan film masing-masing asyik dengan dunianya sendiri dengan meminggirkan aspek sejarah, pun dalam dunianya sendiri.

Sejarawan Lewis W. Spitz dari Universitas Stanford dalam tulisannya Sejarawan dan Ia Yang Lanjut Usianya (God and Culture, D.A Carson/John D. Woodbridge (ed.), sebenarnya sudah mengingatkan bahwa seperti perkembangan semua umat manusia lainnya, sejarah pun memerlukan penglihatan ke depan seperti juga hikmat akan pandangan masa silam. Dengan kata lain, jika mau berkembang, sejarah pun juga harus dilihat sebagai cermin untuk memerbaiki keadaan ke masa depan, bukannya terkungkung ke masa lalu untuk mengulangi kesalahan yang sama.

 

Kedua kubu- teater dan film- makin berseberangan jika enggan dikatakan bermusuhan. Aspek produksi film dengan bertumpu pada memori kolektif pendek untuk meraih untung yang cepat akhirnya hanya melahirkan bintang yang dikenal karena aspek prominence saja. Dunia tanpa ingatan-meminjam istilah Anton Kurnia- memang begini resikonya: maunya serba mudah.

Sungguhlah masygul kalau sikap penggiat kesenian kita-baik film dan teater- justru masih membekukannya- lantaran hanya berpikir dalam jangka pendek, sehingga hasilnya selalu menjadi realitas tunggal yang umum. Pasar bebas sebenarnya sudah memberi banyak kesempatan, hanya ia masih saja dianggap sempit dalam arti selalu mengulang pemahaman stereotip yang klise.

Iklan
Posted in: Film Review