Keriuhan Mini Kata

Posted on 16/11/2010

0


Sebuah karya animasi yang universal dengan kemampuan artistik, meretas antara ironi dan estetika.

Champion adalah bocah yang diadopsi neneknya, Madame Souza. Sang nenek yang melihat Champion punya bakat bersepeda  mengikutsertakannya ke dalam lomba Tour de France yang termashyur itu. Champion digembleng sang nenek menjadi atlit dengan program latihan yang keras dan disiplin. Tatkala perlombaan berlangsung Champion dan tiga peserta lainnya diculik dua tokoh misterius yang belakangan terungkap sebagai bagian dari sindikat mafia Perancis. Madame Souza dan anjing setianya, Bruno mulai menjelajah mencari sang cucu hingga terdampar ke sebuah kota megapolitan Belleville.

 

Luntang-lantung mencari sang cucu, dalam perjalanan jauh itu Madame Souza bersua dengan trio bintang musik Belleville yang legendaris dari era 1930-an. Bersama trio eksentrik yang sudah gaek ini mereka bersama-sama mencari Champion, selain Madame Souza sendiri ikut tampil pula di salah satu pertunjukan Trio Belleville. Berbagai petualangan seru terjadi tatkala Champion ditemukan, dirinya dijadikan ajang taruhan judi illegal oleh mafia Perancis bak kuda pacuan.

 

 

Mini Kata

 

Menonton Les Triplettes de Belleville kita bakal terhenyak pada serangkaian adegan-adegan komikal plus permainan  musik yang mengagumkan. Film produksi patungan BBC (Inggris), Vivi Film (Belgia) dan Champion Prods (Kanada) ini oleh editor Phillipe Moins dari Animation World Magazine, Les Triplettes disebut “sangat Perancis” (Frenchie) dengan menggabungkan kenakalan komikal ala dua sineas kondang Perancis : Jean Pierre Jeunet dalam Amelie Poulain dan karya Marc Caro di Delicatessen.

 

Kepiawaian Chomet tak sendirian. Dalam produksinya ini ia ditemani Nicholas de Crecy, animator dan kartunis peraih penghargaan Grand Prix di Annecy   1997 dan Cartoon d’Or atas karyanya La Vielle dame et Les Piegons. (The Old Lady and The Pigeons).

Penggambaran setiap karakter ciptaan Sylvain Chomet selain begitu karikatural digambarkan demikian ganjil. Lihatlah tiap karakter perempuan dalam film ini rata-rata selalu digambarkan bertubuh gemuk. Jangankan bertubuh seksi seperti, sebutlah karakter Jessica dalam film animasi Who Framed Roger Rabbit (1988). Dalam film ini nyaris tak ada perempuan dengan bentuk tubuh yang wajar! Kalaupun kurus digambarkan kurus sekali (Trio Belleville) selain bentuk tubuh Champion sendiri begitu bongkok walau tubuhnya kekar berotot akibat terlalu banyak mengayuh sepeda!

 

Serangkaian kisah mampu terurai dengan lancar tanpa harus disusupi dialog. Les Triplettes malah sangat meminimkan dialog. Dialog yang sungguh-sungguh terjadi  hanyalah monolog Champion di permulaan film yang tengah mengisahkan kehidupannya secara flash back.

 

Ya, animator Perancis Sylvain Chomet benar-benar memanfaatkan media visual dan bunyi dengan total, walau dengan cara itu ia tetap setia pada kisah- sesuatu yang jarang dilakukan dalam film animasi Amerika ala Disney dan Pixar maupun anime Jepang. Dengan cara itu ia seolah kembali pada idiom musik pada awalnya, yaitu kembali pada bunyi. Justru dengan minimnya dialog film ini tetap “bunyi”, bak menyimak karya musik eksperimental.

 

Kekuatan gambar dan teknologi visual memang dimanfaatkan Chomet dengan baik-konon ia juga menggunakan teknologi CGI (Computer Generated Image) sesuatu yang sedang trend dalam dunia animasi maupun sinematografi saat ini.  Kendati demikian ia tak menjadi tenggelam dalam keasyikan teknologi alias trigger happy-sesuatu yang lazim terjadi pada animator-animator muda yang tengah bereksperimen (baca: pubertas teknologi). Ia menjadi semacam tafsir baru kepada gaya (bahkan bunyi) .  Dengan ‘setia’nya Chomet pada gaya Les Triplettes mampu menelisik selera massa pula hingga ia tak menjadi karya yang adorateur bourgeois, sesuatu yang lazim terjadi pada film-film Eropa.

 

Manifesto Universal

 

Kekuatan lain eksperimentasi Chomet juga cenderung berpijak pada resistansinya berkisah sehingga walau kita tak paham bahasa Perancis sekalipun, kita toh masih dapat menyaksikannya dengan utuh. Ya, Les Triplettes bisa dibilang sebagai karya animasi yang sangat universal persis seperti yang pernah dilakukan animator Inggris, Nick Park pencipta Wallace and Gromit (peraih 2 kali Piala Oscar kategori animasi terbaik tahun 1994-1996). Adapun Chomet termasuk pengagum Nick Park yang begitu setia menggunakan media visual sebagai gaya bukan bentuk.  Chomet sendiri mengaku pemakaian adegan yang didominasi gerak, bunyi dan mimik ini terinsipirasi dari Nick Park yang dua tahun lalu mendulang sukses di Hollywood dengan memproduksi Chicken Run yang suara karakternya diisi aktor kondang Mel Gibson.

 

Mengenai style-nya yang tak biasa ini Chomet punya alasan sendiri, “Bagi saya animasi adalah manifesto, teknik dan lainnya akan berjalan dengan sendirinya,” jelasnya tatkala diwawancara Phillipe Moins, editor majalah Animation World Magazine.

 

“Ide mengedepankan gerak muncul ketika serangkaian gambar telah terbentuk saya menyaksikannya tanpa suara. Saya lalu membayangkan sendiri kira-kira suara apa yang terjadi dan seperti yang saya katakan  tadi hal-hal lain muncul dengan sendirinya secara alamiah,” katanya kepada jurnalis Saxon Bullock dari BBC News.

Les Triplettes memang sungguh berhasil sebagai karya animasi mengagumkan hingga tak heran ia menggondol Oscar 2004 kategori animasi terbaik, Lumiere 2004 untuk film terbaik dan Cesar sebagai tata musik terbaik. Keberhasilan Les Triplettes menambah jejak perjalanan sukses Perancis dalam dunia animasi setelah Kirikou et la sorciere (Kirikou and The Sorceress) karya Michel Ocelot. Meski universal bukan berarti Les Triplettes tak mengandung kelemahan (yang sebenarnya bisa juga menjadi kelebihan karena hasilnya demikian menjadi bermata dua).

 

Jika dibandingkan dengan Kirikou, karya Ocelot ini lebih dapat dikonsumsi penonton anak ketimbang Les Triplettes. Misalnya adegan Trio Belleville yang meskipun toh begitu komikal mampu pula mengundang rasa jijik penonton karena hobinya menyantap kodok dalam menu sehari-hari.  Adegan ini begitu ironis dengan mampu mengundang antara kesan jijik dan estetika sehingga lebih cocok dikonsumsi penonton dewasa.  Gaya seperti ini konon bukan barang baru dalam sejarah perfilman. Tengoklah tokoh Hannibal dalam Silence of The Lambs yang dengan tenang mempersilakan Clarice Starling duduk tatkala psikopat ini tengah memasak bagian tubuh korbannya. Atau karakter wanita cantik yang diperankan Angela Jones dalam Curdled yang diproduksi Quentin Tarantino, dimana ia sangat terobsesi melihat kepala yang terpenggal korban-korban pembunuhan.

 

Dalam dunia komik sendiri ini pun bukan barang baru. Tengoklah komik Fables atau beberapa serial komik produksi Fantagraphics yang terkenal mengawinkan ironi erotik berbalutkan estetika. Walau bukan hal baru, hal demikian barangkali baru terjadi pada film animasi produksi Eropa. Ya, Chomet begitu brilian mengambil elemen-elemen ini sebagai rujukan hingga Les Triplettes memang patut menuai pujian. *

 

Iklan
Posted in: Film Review