Dongeng dari Sungai Nipah

Posted on 16/11/2010

0


Novel ini semula berpusat pada tokoh karakter bernama Karyo Petir, seorang lelaki pande besi penyendiri yang muram dan penuh misteri bahkan di saat kematiannya orang tak tahu kenapa ia meninggal. Perselingkuhan Karyo Petir bermula ketika istrinya, Dalloh hamil tua anak pertamanya. Nafsu Karyo Petir yang besar membuatnya dirinya sendiri kelimpungan mengendalikan syahwat sehingga ia terlibat percintaan dengan Wasti, anak janda tua yang tinggal di desa sebelah. Karyo Petir dan Wasti tak ubahnya seperti sepasang muda mudi yang dimabuk asmara, meski semua itu tak berlangsung lama. Tatkala ketika anaknya (lelaki) sudah lahir (Dagu) Karyo Petir gembira hingga nyaris lupa dengan Wasti, perempuan desa sebelah yang kemudian hamil (juga anak lelaki) yang dinamai Kulung.

Wasti hidup tak menentu ditinggal Karyo Petir. Orang-orang di sekitarnya menggunjingkannya sebagai lonte dengan anak haram bernama Kulung yang dilahirkannya.  Wasti tak mau buka mulut perihal siapa lelaki yang menghamilinya. Ibu Wasti menyimpan rapat-rapat rahasia itu sampai Wasti bunuh diri dengan menenggak pestisida lantaran tak tahan gunjingan orang-orang di sekitarnya.  Wasti menyimpan rahasia itu sampai akhir hayatnya. Kulung yang masih belia tak tahu kelakuan ibunya. Yang ia tahu, ibunya meninggal dan dikubur dekat pohon kamboja di belakang rumah. Kulung kemudian diantar neneknya ke rumah Karyo Petir, lelaki yang menanam benih di tubuh Wasti.

Di rumah Karyo Petir nasib Kulung tak berubah seperti yang ia alami di desanya. Kulung malah pernah tak menemui lagi rumahnya tatkala ia lari dari rumah Karyo Petir. Rumahnya sudah berubah menjadi hamparan tanaman tebu melampaui tinggi tubuhnya. Tubuh kecil Kulung bergetar. Ia hanya bisa berlari ke kuburan ibunya yang masih ia temukan. Kulung menangis meraung-raung di sana dan sejak saat itu ia bersumpah akan membalas dendam.

Sementara itu Dalloh, istri Karyo Petir membalas dendam perzinahan suaminya dengan bercinta bersama mandor tebu bernama Jarot. Dalloh yang sudah lama tak disentuh Karyo Petir itu menikmati perselingkuhannya dengan Jarot, yang kemudian Jarot diketahui Dalloh memerkosa Genuk, pembantu Dalloh.

Genuk hamil, namun untungnya janin yang dikandungnya mengalami keguguran sehingga ia tak jadi melahirkan benih mandor Jarot yang memerkosanya. Genuk trauma  jika melihat batang-batang tebu. Jika ia melihatnya seolah ia membayangkan peristiwa mengenaskan itu terulang bak kaset yang diputar kembali rekamannya.

Lewat dua tahun setelah ia diperkosa mandor Jarot, mandor Jarot meninggal di masa intrik peralihan tanah santer terjadi di desa Sangir, setahun setelah Kulung menghilang dari rumah karyo Petir.

Bertahun-tahun kemudian Kulung tumbuh dewasa dan sempat menjalin percintaan dengan Gora, anak kedua, anak perempuan karyo Petir.

***

Demikian sekelumit kisah novel ini. Yang menarik di lembar-lembar berikutnya pembaca tidak dibawa pada paparan cerita seperti sinopsis yang saya utarakan tadi. Melainkan pembaca dibawa ke kisah masa lalu Gora, terutama masa kecilnya yang bahagia dengan ayahnya, Karyo Petir serta kisah-kisah lain yang terjadi di Sangir. Alur novel ini pun yang semula sepertinya hendak mengisahkan Karyo Petir malah berputar kepada tokoh-tokoh lain yang tumbuh bersama Karyo Petir sehingga pembacaan pembaca terhadap Karyo Petir teralih.

Mario Vargas Llosa, sastrawan Peru dalam bukunya A Letters to Young A Novelist (Cartas a un joven Novelista) pernah berujar bahwa seorang novelis melakukan hal yang kurang lebih sama dengan seorang penari striptease. Kalau mereka naik ke atas panggung melepaskan pakaian dan mempertontonkan tubuh telanjangnya di atas panggung, penulis novel melakukan hal yang sama dengan cara terbalik.

Dalam menyusun sebuah novel, ia justru menggunakan pakaiannya, menyembunyikan ketelanjangan yang dimulainya di bawah pakaian tebal berwarna-warni untuk mewujudkan imajinasinya. Novelis “mengenakan pakaian”nya (menutupi dengan ide-ide yang didapat dari luar) dan setelah “pakaian” itu dikenakan terlihat secara samar hal-hal yang dekat dengan dirinya.

Pengarang ini justru lain. Ia malah menjauhkan diri dari sosok tokoh utama kepada masalah-masalah lain yang berkelindan hingga helai halaman terakhir. Meski demikian kisah yang digulirkannya tetap mengandung kekuatan persuasi yang disebut Llosa juga (masih dalam buku yang sama)-sebagai unsur pemikat dapat menggoda pembaca sampai helai halaman terakhir.

Mungkin terlalu berlebihan juga kalau mengharapkan semacam eksperimen baru walau dari penulis seangkatan atau sejalur dengannya lebih liat berkisah. Sayang, ending novel ini seperti dituntaskan terlalu cepat, sehingga peristiwa dramatis yang ada hanya tampak bak menjadi kilasan peristiwa saja. Banyak sekali tema yang sepertinya ingin disampaikan tapi hampir rata-rata  menjadi kilasan peristiwa saja tanpa jalinan yang menjadi kurang padu dari awal hingga akhir.

Alur dalam novel ini pun unik. Justru kisah yang sebenarnya baru dimulai di bagian “Dari Waduk ke Ladang Tebu ke Pabrik” (Episode Percintaan di Ladang Tebu) dan Sebuah Fragmen yang Dilakonkan yang sebagian dikutip menjadi back cover buku ini. Jadi, kisah baru dimulai di bagian bab kedua yang rata-rata dibagi ke dalam sub bab yang berkisah mirip cerpen ketimbang novel yang padu jalinan ceritanya.

Sesungguhnya jika ini menjadi pilihan pengarang hal tersebut dapat membuka kelemahan pengarang dalam menyusun jalinan kisah walau sebenarnya setiap sub bab diceritakan cukup lancar dengan alur yang tak bersolek. Nyaris pembaca di setiap bab dimunculkan tokoh-tokoh dan peristiwa baru yang bersliweran silih berganti sehingga pembaca jadi terengah-engah mengikuti alur cerita yang kurang padu meskipun sebenarnya pengarang ini mempunyai kekuatan persuasi dalam setiap kisahnya. Memang seperti yang diungkapkan Llosa sebuah novel tak penting jalinan ceritanya asal mengandung kekuatan persuasi di dalamnya. Tapi hal ini tidak berarti dalam Peri Kecil di Sungai Nipah karena bagaimanapun sebuah novel yang kuat daya persuasinya tetap memerlukan alur yang padu. Novel Identity (Milan Kundera), Vernon God Little (DBC Pierre), The Catcher in The Rye (JD Salinger) atau Asmaraloka (Danarto) misalnya juga berlompat-lompat alur ceritanya, tapi di penghujung atawa pertengahan cerita pembaca masih dapat menemukan alur yang padu walau penuh dengan lompatan dalam kisahnya.

Sesungguhnya novel ini cukup membawa penyegaran baru dengan mengangkat suasana lokalitas daerah Sangir yang diceritakan sangat menarik sehingga pembaca dapat membayangkan panoramanya dengan detail. Penghindaran dari metafora yang keminter juga patut dipuji sebagai kekuatan estetik novel ini walau hal tersebut nyatanya diruntuhkan dengan gagalnya menyusun kisah menjadi utuh dan padu. Imajinasi pengarang cukup meruyak ruang dan waktu. Kejadian-kejadian dilukiskan secara pararel dan simultan, berbaur susup menyusup walau kurang memperkuat kesan pengalaman dan penghayatan. Seharusnya jika pengarang lebih memperhatikan alur serta kejelasan dimana ia menempatkan pelbagai karakternya mungkin terjadi semacam dimensi baru dalam pengaluran cerita. Nampaknya kebebasan manusia dalam berpikir dan bertindak merupakan topik yang sangat menarik bagi pengarang sampai pada konsekuensi yang paling jauh. Sayang.

Iklan
Posted in: Book Review