Potret Usil Benny & Mice

Posted on 16/11/2010

0


Judul Lagak Jakarta 100 ‘Tokoh’ yang Mewarnai Jakarta

Cerita/Gambar Benny Rachmadi & Muh. ‘Mice’ Misrad

Penyunting Candra Gautama, Pax Benedanto

Isi 160 hlm.

Penerbit KPG,2008

100 ‘Tokoh’ yang Mewarnai Jakarta ini menghibur dan mengajak kita mentertawakan para tokoh yang sempat tergarap duet kartunis Benny dan Mice. Beda dengan buku sebelumnya Jakarta Luar Dalem yang hanya mengumpulkan kartun strip mereka di Kompas Minggu, buku ini sarat dengan potret-potret warga Jakarta yang rata-rata digarap dengan humor yang usil. Jangan salah, tokoh-tokoh dalam buku ini bukan berarti tokoh-tokoh seperti artis, pejabat atau orang penting lainnya.

Dalam buku 100 ‘Tokoh’ ini mereka mengangkat keseharian warga Jakarta yang diwakilkan dalam 100 profesi yang berbeda-beda. Semua sosok digambarkan secara fisik lengkap dengan keterangan-keterangan untuk memperjelas setiap profesi. Ada penjual baskom, pedagang VCD-DVD bajakan, penari latar yang terus tersenyum dengan tangan yang selalu terangkat ke atas, aktivis LSM, cewek SMA, cewek di mal, cewek pengeretan dan banyak lagi. Tatkala membaca periksalah juga dengan teliti. Jangan-jangan profesi Anda termasuk di dalamnya!

Cara melihat duo kartunis ini, Benny dan Mice, tidak sekedar melihat saja namun bekerja laiknya seorang jurnalis fotografer yang jeli dengan memotret secara “close up” warga Jakarta lewat kacamata humor. Misalnya ciri-ciri pemulung lengkap dengan “senjata”nya tongkat dan mantel pelindung hawa dingin. Atau gambar lain “penuntun binatang di mal”. Pandangan matanya kosong sementara ia harus memegang anak yang sedang gembira naik mainan binatang keliling-keliling di mal setelah orangtuanya membayar dengan tarif tertentu. Ini sebuah gambaran yang kerap kali terlihat di mal.

Membaca 100 ‘Tokoh’ tetap meninggalkan kesan berarti lantaran merangsang daya intelektual pembacanya sehingga dapat ‘mengambil’ renungan yang termaktub di dalamnya. Cara duet kartunis ini  menggambarkan warga Jakarta dalam setiap gambar dan illustrasinya bisa jadi potret sosial mereka secara langsung tanpa harus menggurui kepada pembaca mengapa fenomena sosial seperti ini bisa terjadi.

Kemampuan mereka sebagai pengamat sosial boleh jadi sama dengan pengamat sosial pada umumnya. Bedanya mereka sebagai pengamat sosial menyajikan humor-humor segar yang berisi dan mempunyai kekayaan makna dalam setiap amatan sosialnya.

Tanpa Berprasangka

Satu hal yang menarik ketika mereka menggambarkan enci-enci gaya, Arab Atrium, Nigeria Kebon Kacang, dan Arab Pasar Baru tanpa bermaksud rasis atau berprasangka terhadap etnis tertentu. Pembaca dapat menerimanya  sebagai olok-olok tatkala mengenali kelompok yang berbeda sebagai fakta sosial di sekitar kita. Setidaknya duo Benny dan Muh. Misrad ini sangat kreatif dan penuh persiapan matang sehingga penggambaran mereka tidak menyinggung dan dapat diterima sebagai “potret usil” terhadap etnis atau agama tertentu. Sebutlah di halaman 24 dan 25 memerlihatkan cewek berjilbab “yang sangat agamis”. Di gambar yang pertama memerlihatkan cewek berjilbab yang mengenakan jilbabnya dengan benar plus mukena dan sajadah yang selalu tersimpan dalam tasnya. Di gambar kedua memerlihatkan cewek berjilbab yang mengenakan jilbabnya hanya karena bagian dari fashion mengenakan kaos ketat dan celana ‘strecth’ dengan lekuk pinggul dan paha yang kelihatan!

Meskipun mereka memotret dengan kacamata humor, dalam karya kartun ini tetap mengandung renungan yang dapat dimaknai sehabis pembaca tertawa menikmati banyolannya karena rata-rata yang ditampilkan di dalam buku ini mewakili orang-orang yang terpinggirkan, orang-orang yang sedang berjuang di tengah kerasnya kehidupan kota metropolitan Jakarta. Semisal gambar pedagang kaki lima yang digusur lengkap dengan barang dagangannya yang hancur berantakan oleh petugas Pamong Praja (Satpol PP). Pada gambar ini kita tak hanya dibuat trenyuh melainkan juga tersenyum simpul. Di sini terdapat renungan yang menyentil, yaitu masalah sosial  keseharian Jakarta yang tak surut dengan gusur menggusur. Di gambar sebelahnya adalah profil Satpol PP yang selalu berdalih “hanya menjalankan tugas” tatkala menggusur tanpa ampun pedagang kecil lengkap dengan topi baretnya yang digunakan bak tentara Green Beret!

Yang menarik, dalam buku ini tak ketinggalan Benny dan Mice juga mengangkat pengidap fetishis yang naluri seksnya baru terangsang jika melihat pakaian dalam wanita. Di tangan Benny dan Mice sosok ini tidak menjadi menjijikkan bahkan memancing tawa tatkala celana dalam yang dicurinya ternyata milik seorang nenek-nenek bukan wanita cantik pekerja kantoran yang menjadi incarannya! (hlm.81, bagian komik “Kasih Tak Sampai”).

Tak ketinggalan anggota Dewan yang terhormat yang kerjanya hanya nongkrong di kantor dengan alas an ‘untuk rakyat’ juga diangkat Benny dan Mice. Melihatnya kita tak jadi kesal malah tersenyum simpul tatkala melihat laptopnya hanya digunakan untuk mengetik dan main games!

Mungkin masih terlalu dini dengan diterbitkannya buku ini menandai bangkitnya penerbitan buku komik Indonesia dari keterpurukan. Namun hasil karya duet Benny dan Mice membuktikan bahwa buku komik Indonesia masih mampu dijual asalkan punya materi yang kuat. Dalam hal ini amatan sosial mereka sebagai materi yang menjadi daya tarik tersendiri. Misalnya saja buku seri Lagak Jakarta edisi koleksi yang mereka garap 10 tahun lalu menurut sebuah sumber laku terjual sebanyak 10.000 eksemplar. Sebuah angka penjualan yang fantastis untuk penjualan buku komik Indonesia. *

Iklan
Posted in: Comic Review