Nostalgia Suspens Si Buta

Posted on 12/11/2010

0


Judul Kunjungan Di Tengah Malam

Cerita/Gambar Ganes TH

Isi 64 hlm.

Penerbit Pustaka Satria Sejati,

2006

 

Di masa kini, kenangan pada Ganes TH komikus yang kondang dengan serial Si Buta-nya nyaris berhenti pada sosok itu saja. Padahal Ganes pernah melesat sebagai penerus kisah jagoan Betawi legendaris Djampang Djago Betawi yang dibuat 5 jilid. Menurut JJ.Rizal dari Litbang Kebudayaan Betawi, dalam sejarah komik Indonesia karya Ganes yang terbit tahun 1967 itu dianggap sebagai karya yang menandai era diangkatnya jagoan Betawi di ranah komik. Karena begitu populernya, Jampang pun sampai menuai epigon komik dengan tokoh yang sama karya A.Tatang.S (1969) dan Tati, komikus perempuan Indonesia.

 

Beruntung, setelah mengadakan angket yang ada di komik cetak ulang Si Buta Misteri di Borobudur (2005) sebagai wadah pengumpulan komentar masyarakat menanggapi penerbitan ulang serial Si Buta, pihak penerbit yang notabene adalah famili Ganes TH (Pustaka satria Sejati) mendapat kepercayaan untuk menerbitkan karya Ganes lainnya selain Si Buta. Kepercayaan itu muncul dengan menerbitkan Kunjungan Tengah Malam. Beda dengan Si Buta dan Jampang, komik ini mencoba bermain dalam genre suspens thriller, satu hal yang bahkan jarang dilakukan oleh penulis kita, apalagi komikus.

 

Nampaknya edisi cetak ulang (remaster) ini disiapkan betul untuk tak sekedar menjadi nostalgia penggemar Ganes Th saja. Kalau dalam Si Buta dari Gua Hantu ejaan lama dipertahankan, ejaan bahasa komik ini diolah menjadi ejaan baru selain gambarnya diperhalus dengan warna biru tua yang dicetak di atas kertas paperback. Teknik penghalusan gambar ini cukup baik sehingga tak menurunkan mutu gambar aslinya. Desain sampul berkesan horor pun cukup jeli sebagai siasat pemancing pembeli di zaman sekarang (bandingkan dengan edisi aslinya yang terbit tahun 1967 dan tercantum di sampul belakang komik ini), dibandingkan versi asli yang kelihatannya berkesan seperti cerita drama biasa saja.

 

Jangan salah walau desain sampulnya terkesan horor, komik ini bukan horor. Gambar sampulnya yang mengingatkan kita pada sampul novel horor Tara Zagita ini dibuat oleh Hans Jaladara, sobat Ganes yang juga termasuk komikus legendaris kita. Lucunya, dengan desain seperti itu Kunjungan Tengah Malam nampaknya diharapkan bakal meraih segmen pembaca sekarang yang lahir dari masyarakat penggemar sinetron horor Indonesia. Horor masih diminati masyarakat kita apalagi dengan diangkatnya cerita religius dari majalah Hidayah, sinetron horor misteri tumbuh dengan mengawinkan aspek religius sehingga tak lagi hanya ditayangkan di bulan Puasa atau Ramadhan.

 

Komik ini mengisahkan keluarga sederhana, Indra, Erlia dan anaknya, Liza. Untuk menopang kehidupannya, Erlia bekerja sebagai tukang cuci. Suatu hari mereka kedatangan kawan lama Erlia, Aidiah. Bermaksud menolong Erlia, Aidiah menawarkan Indra untuk bekerja di perusahaan ayahnya. Gayung bersambut, Indra pun bekerja sebagai pegawai di sana. Prestasinya yang makin baik mengangkat karir Indra sebagai wakil perusahaan. Di tengah kehidupan yang tampak sempurna itu, pikiran jahat Indra timbul. Ia berniat membunuh istrinya sendiri yang pernah didiagnosa menderita penyakit jantung. Setelah membunuh ia berharap dapat mengawini Aidiah guna mendapatkan warisan ayahnya yang kaya. Kesempatan itu muncul ketika Erlia mendapat serangan jantung. Dengan mencekiknya, kematian Erlia yang mendadak tentu tak menimbulkan kecurigaan, apalagi Erlia menderita penyakit jantung.

 

Berhari-hari setelah kematian Erlia, rumah Indra didatangi lelaki bungkuk yang aneh dan hantu wanita. Anehnya, sang hantu itu meninggalkan baju bayi yang dulu pernah dibuat Erlia untuk Liza. Hal lain, Liza tak takut kala bersua dengan hantu yang menurutnya adalah ibunya sendiri. Indra malah ketakutan dan menganggap Erlia menjadi arwah penasaran yang sedang menuntut balas. Apakah hantu Eliza dan lelaki bungkuk itu berhasil menuntut balas kepada Indra?

 

Dengan gambarnya yang ekspresif serta kelihaiannya menyembunyikan teka-teki dalam cerita, membuat komik ini menarik. Dalam prolognya dicantumkan ide cerita komik ini terilhami dari sebuah kisah di China Youth Daily, yaitu seorang wanita yang nyaris dikremasi, padahal ia masih hidup lalu diselamatkan oleh petugas krematorium itu.

 

Mendekati akhir, pembaca baru tahu bahwa sesungguhnya tak ada sosok hantu selain tiada tokoh hero di sini. Tak hanya suspens dan teka-teki, humor dengan memainkan kenyataan (hiperealis) pun ada di sini. Tengoklah di halaman 39. Di situ tokoh Indra sedang membaca komik Ganes Th lainnya berjudul “Taufan”.

***

Mungkin jika ada produser film pernah membaca komik ini seharusnya dapat menangkap bibit cerita suspens thriller menegangkan sebagai ide cerita karya Ganes TH yang kadung dikenal sebagai komikus tokoh persilatan yang heroik. Di awal ceritanya saja, pembaca dihadapkan pada Liza yang menjerit di bawah hujan deras memanggil ibunya. Hujan deras adalah dramatisasi yang lazim dilakukan dalam film. Di panel kedua muncul bayangan lelaki bungkuk yang aneh. Sebuah pembukaan yang misterius sehingga kesan mengerikan itu muncul.

 

Walau secara keseluruhan cerita komik ini sangat menarik, sosok lelaki bungkuk aneh di sini sulit dilepaskan dari ingatan kita pada The Huntchback of Notredame (Si Bungkuk dari Notredame) karya klasik Victor Hugo. Padahal di tiap komiknya Ganes dikenal orisinal. Si Buta adalah masterpiece-nya yang sangat Indonesia dengan menggambarkan gerakan pencak silat, satu hal yang membedakannya dengan komikus Indonesia lainnya yang terpengaruh cerita impor seperti Kusbram, pencipta Laba-Laba Merah yang terpengaruh Spider-Man atau Hasmi pencipta Gundala yang mirip The Flash. Sobatnya sendiri, Hans Jaladara yang sampai kini masih berkarya pun memasukkan unsur manga Jepang untuk meneruskan kisah legendarisnya Panji Tengkorak yang sempat diterbitkan penerbit Elex Media, selain Panji sendiri di masa awal tak lepas dari unsur persilatan China.

 

Mungkin jika Ganes masih hidup, komikus yang wafat pada 10 Desember 1995 ini dapat menjawab keterpengaruhan itu. Memang sebuah karya tak mungkin lahir dari ruang kosong. Tapi dengan penggambaran yang nyaris sama dengan si bungkuk-nya Hugo, agak menjatuhkan pamornya. Ini lain jika ia lebih tekun “mengutak-atik” lagi inspirasinya itu dengan sosok lain yang mungkin lebih seram dengan bertubuh besar atau bertangan satu.

 

Paling tidak, walau komik ini akhirnya membuka tabir bahwa Ganes TH tak hanya menghasilkan karya “one hit wonder” Si Buta saja dengan menghasilkan karya lain di luar genre yang membuatnya terkenal. Komik ini juga memberi anggapan bahwa seorang maestro pun pernah melakukan “kesalahan” yang seharusnya tak dilakukan: mengadopsi mentah-mentah sosok Si Bongkok Notredame. Maklum, ini adalah karya awal Ganes di tahun yang sama (1967) dengan menghasilkan beberapa karya sekaligus: Si Buta dari Gua Hantu, Misteri di Borobudur, Si Jampang I dan Kunjungan Tengah Malam. Tapi dengan kepiawaian Ganes membawa Si Buta jauh-jauh keliling Indonesia sampai ke Bone, Sanur, dan Larantuka, atau mengomikkan jagoan Betawi sungguh menggelikan juga kalau ia mengadopsi Si Bongkok Notredame. Sayang…

 

 

Iklan
Posted in: Comic Review