Terminator 3: Merosotnya Keeleganan T-3

Posted on 27/10/2010

0


‘Arnold is back’ sesuai janjinya di tiap episode Terminator: “I’ll be Back!”.
Masih tetap memikat, walau tak lagi elegan
.

Terminator 3: Rise of The Machines mengisahkan sepak terjang John Connor setelah berhasil mencegah perang nuklir dan ‘bakal embrio’ berupa mikro chip mesin pemusnah tersebut di T-2. John Connor di tahun 2003 menjadi pemuda yang emoh dengan semua peralatan berbau teknologi. Tidak punya ponsel, hidup berpindah-pindah agar tak terlacak, dikarenakan ia ingin melepaskan sepenuhnya dari teror hancurnya dunia yang selalu membayanginya dalam mimpi. Hidup pemuda John Connor luntang-lantung. Ibunya, Sarah Connor pun sudah meninggal. Dan, tibalah saatnya. Ternyata, seperti dalam prolog film, “barangkali sejarah dapat ditulis, tapi takdir tak dapat bisa diubah”. Singkatnya, perang mesin dengan manusia tetap berlanjut, sedangkan perang nulir tak dapat dihindari. Di tahun 2039 mesin-mesin mengirimkan Terminatrix, sosok Terminator penghancur. Sebaliknya, bangsa manusia yang diwakili John Connor, seperti di T-2 kembali mengirimkan T-101 sosok cyborg yang diperankan Arnold Schwarzenegger.

Terminatrix (selanjutnya disebut T-X) yang diperankan model cantik asal Denmark, Kristanna Loken mulai mengacak-acak sejarah. Ia tak hanya memburu John Connor yang kelak menjadi pemimpin bangsa manusia, melainkan juga orang-orang yang kelak bakal menjadi perwira-perwira anak buah Connor. Aksi film ini tergolong lebih dahsyat. Terminatrix lebih banyak membunuh manusia disamping kehebatannya mengacaukan seluruh jaringan computer, pun mesin-mesin seperti mobil bahkan program T-101 sendiri!

Setelah kehadiran T-X dan T-101 penonton dibawa dalam pelbagai action sequence menegangkan. T-X pun memiliki kemampuan yang juga dimiliki T-1000 seperti di T-2, yaitu berubah-ubah bentuk walau sosoknya tetap cyborg wanita cantik berkesan ‘chic’.

Merosot

T-3 tak lagi ditangani James Cameron, sutradara sekaligus kreator Terminator. Kendati demikian, terlepas dari segala kekurangannya T-3 masih memiliki pesona tersendiri. Mulai dari figur TX yang lebih canggih, pun dialog-dialog yang jenaka tapi cerdas. Jonathan Mostow (karya sebelumnya U-571) sang sutradara sama sekali tak meniru gaya Cameron dengan banyaknya ia menyisipkan humor. Misalnya munculnya T-101 di tahun 2003. Adegan ini diolah secara komedi, sama sekali jauh dari elegannya Arnie dalam T-1 dan T-2. T-101 muncul di klab malam dimana sedang ada acara ladies night. “Kostum” khas Arnie jaket kulitnya didapati setelah melucuti pakaian seorang stripper pria! T-101 yang bugil sempat dikira penari telanjang juga oleh penjaga pintu klab.

Kendati T-3 masih menyisakan energi dengan memasukkan action sequens yang lebih dashyat (biaya produksinya konon 170 juta dollar AS, jauh lebih mahal dari T-2), harus diakui kemampuan Mostow rada menjatuhkan pamor Terminator versi Cameron. Secara keseluruhan film ini tak lagi mampu menyisihkan pesona mendalam seperti di T-2. Kelebihan Mostow yang bisa diacungi jempol adalah menyelipkan humor di sana-sini sehingga rate film ini pun jadi kategori PG (remaja). Bandingkan, dengan film sebelumnya yang masuk kategori R.

Keeleganan yang sudah tercipta dari Cameron cenderung merosot sehingga film ini hanya mampu memuaskan sebagian penonton yang penasaran dengan kelanjutan Terminator. Action sequens yang terjadi memang lebih riuh, namun sayangnya sangat memerlihatkan ketidakmampuan Mostow bertutur panjang layaknya Cameron. Beberapa adegannya bahkan tak ubahnya film action biasa. Barangkali Mostow khawatir adegannya malah nanti dibilang mengadopsi T-2 atau film lain seperti The Matrix atau X-Men sehingga ia menyingkat film ini hanya menjadi 109 menit?

Menyikapi kekurangannya ini, Mostow lantas memasukkan banyak kejutan.Misalnya banyak menyelipkan humor, disamping ending cerita yang sangat tak diduga-duga penonton. Atau mengubah karakter John Connor yang semula cerdas, bengal dan berandalan di T-2 menjadi seorang pecundang yang takut dengan masa depannya sendiri. Connor yang diperankan bagus oleh Nick Stahl menyesal dan merasa sia-sia seusai pertempuran yang melelahkan. Apa boleh buat, sesuai prolog film, takdir Connor tetap sebagai pemimpin pemberontakan tak bisa ditolak kendati sejarah sudah berulang kali dicoba untuk diubah.

Dalam film, terbongkar bahwa yang mengirimkan T-101 ke masa kini adalah bakal istri Connor, Kate Brewster (Claire Daines). Connor yang sebenarnya malah sempat mati dibantai Terminator. Mendengar hal ini Connor jadi bingung. Stahl memerankannya dengan baik sehingga ia yang semula “sok” dan “berlagak” pada Kate, mantan teman SMP-nya karena ia “jagoan” di tahun 2039, tak bisa berkata apa-apa.

T-3 secara keseluruhan tetap memikat sebagai sequel walau dengan sangat menyesal keeleganan yang sudah diciptakan Cameron dalam film sebelumnya bukannya semakin meningkat, malah merosot. Dalam pengolahan adegan laga, Mostow barangkali juga sudah kehabisan ide apa lagi setelah ide fenomenal di T-2 yaitu mengoptimalkan teknologi digital morphing sudah digenjot habis-habisan di T-2, serta di beberapa film lain. Belum adegan lain yang menjadi khas beberapa film laga yang tengah beredar seperti The Matrix. Akibatnya durasi film jadi terlalu pendek (109 menit). Apa boleh buat, untuk film laga sci-fi sekelas Terminator 2, film ini barangkali hanya mampu memuaskan sebagian penonton yang memaklumi atawa ‘memaafkan’ Mostow mengolah T-3.*

Iklan
Posted in: Film Review