Strange Frequency: Rockmovie ala Suspens

Posted on 27/10/2010

0


 

Serial teve tentang musik rock. Meski hanya setting, jadi brilian dengan mencampurkan humor, horor dan suspens thriller yang memikat.

Sudah banyak film-film tentang musik rock diproduksi mulai dari perjalanan konser seperti A Hard Days Night The Beatles, biografi sang artis seperti Elvis and Me, The Doors sampai kehidupan para musisinya yang diangkat secara dramatis seperti Still Crazy dan Almost Famous yang mendapat piala Golden Globe Award, sampai kehidupan nyata keluarga pentolan Black Sabbath, Ozzy Osbourne dalam The Osbournes. Di Amerika film jenis ini disebut rockmovie atau movies that rock.

Film yang terdiri 3 volume ini masing-masing menyuguhkan cerita yang dekat dengan musik rock. Dalam episode Disco Inferno dikisahkan dua remaja Buck dan Randy pemuja musik heavy metal mengalami kecelakaan mobil setelah pulang dari nonton konser musik rock. Mobil mereka menghantam pohon di sebuah jalan sepi. Anehnya di dekat lokasi kejadian itu ada sebuah night club disko. Tak ada pilihan kecuali minta pertologan terdekat dengan masuk ke dalam klub itu. Kejadian lucu timbul saat Buck mencela disko adalah musik jelek. Setelah mengumpat mendadak musik berhenti dan seluruh pengunjung klub memandangnya.  Ketika mereka duduk di meja bar tak ada yang melayani walau sudah berteriak memesan minuman.

 

Anehnya, ketika keluar dari klub, Buck menemui dirinya masih di dalam mobil yang tertubruk pohon. Selanjutnya Buck mengerti sedang berada di antara hidup dan mati. Tapi Buck sulit mengajak Randy yang masih berada dalam klub lantaran Randy tiba-tiba kepincut dengan seorang gadis saat diajak bergoyang. Mati-matian Buck membujuk Randy supaya tetap hidup dengan keluar dari klub itu. Tapi takdir tak bisa ditolak. Dalam kehidupan nyata Randy memang tewas karena ia memilih bergoyang dalam klub itu. Sedangkan Buck yang tetap setia pada musik rock hanya menderita luka-luka.

 

Episode berikut, Heartbreak Hotel mengisahkan rocker terkenal Jimmy Blitz (John Taylor) yang urakan. Kelakuannya yang urakan itu selalu terbawa sehabis konser atau pesta bersama temannya dengan mengacak-acak sebuah kamar hotel mewah langganan bintang-bintang terkenal. Anehnya, di kamar suite room yang didiaminya selalu dalam seketika cepat menjadi bersih dan rapi sehingga membuat Jimmy penasaran.

 

Puncaknya terjadi kala seorang wartawan tak jadi menulis profil Jimmy Blitz setelah menemui pelayan tua petugas kebersihan. Sang wartawan lebih tertarik kepada pelayan yang menurutnya punya pengalaman unik membersihkan kamar bintang rock selama tiga zaman, mulai dari Elvis Presley, Jimi Hendrix, John Lennon sampai Mick Jagger! Ketika pelayan itu datang Jimmy melampiaskan kemarahannya dengan sengaja menghancurkan kamar tersebut di depan mata wanita pelayan tua itu sampai wanita itu syok dan penyakit jantungnya kumat.

 

Esok hari, Jimmy yang tengah mabuk seperti biasa melampiaskan diri dengan menghancurkan kamar hotel itu. Kejadian aneh muncul seperti kursi yang mendadak bergerak sendiri menyerangnya atau teve yang sudah ia hancurkan masih tetap menyala. Ancaman dari wanita itukah? Penonton sendiri yang menebaknya.

Tafsir Baru

 

Kendati bukan film layar lebar, serial teve keluaran Paramount Pictures yang sekarang sudah dapat ditonton dalam bentuk VCD ini menyuguhkan sudut pandang baru dalam menonton rockmovie. Dengan lihai film kreasi Jim Sharp dan Dan Merchant ini mencampurkan suspens, humor, horor dan drama dalam tiap episodenya. Maka dalam menonton film yang terdiri dari empat episode ini, mulanya kita bakal tergelak kemudian sedikit merinding dalam Disco Inferno dan Heartbreak Hotel. Atau larut dalam kengerian di More Than A Feeling.


Selain didukung bintang tenar seperti Eric Roberts, Judd Nelson dan Ally Sheedy, para pemain yang juga bintang rock sungguhan juga tampil. Misalnya John Taylor, personil Duran Duran  yang berperan sebagai rocker sombong dan urakan Jimmy Blitz di Heartbreak Hotel. Roger Daltrey, eks personil grup lawas The Who pun menjadi host dalam film ini. Judul tiap episodenya pun unik, yaitu dengan mengambil judul lagu. Sebutlah Disco Inferno (soundtrack film Saturday Night Fever), My Generation (The Who), Heartbreak Hotel (Elvis Presley) dan More Than A Feeling (Boston).

 

Meski pendek Strange Frequency begitu memikat dengan pelbagai kejutan dan ending tak diduga bak menonton serial misteri Alfred Hitchcock Presents dan Twilight Zone namun dibungkus film musik ala serial teve Dreams yang pernah melejitkan aktor John Stamos atau The Heights. Walau hanya rekaan, ide mencampurkan antara suspens, humor dan horor dalam rockmovie ini begitu brillian karena menjadi semacam tafsir baru kita dalam menonton rockmovie.

Simaklah Jules yang terkenal memainkan lagu-lagu bernuansa gothic, syok dan kapok main musik rock lagi lantaran dua fansnya benar-benar mati di saat konser (episode Don’t Fear The Reaper). Uniknya, pangeran kematian yang menjemput jasad dua fans tersebut diam-diam fans berat Jules. Begitu fansnya pangeran kematian tersebut hingga ingin berduet dengannya di panggung!

 

Episode ini tak lantas berkembang menjadi horor, melainkan menjadi komedi yang tak diduga. Menjadi tafsir baru, karena dalam dunia musik rock yang kerap identik dengan musik setan toh dalam episode ini bisa digabungkan dengan jenaka, bahkan tanpa pretensi untuk menakuti penonton.

 

Selain menyodorkan gaya baru, Strange Frequency sebenarnya adalah interpretasi di baliknya gemerlapnya dunia showbiz dengan tak hanya mengangkat rock n’roll sebagai tema. Cerita-cerita dalam tiap episodenya selalu merupakan interpretasi sejarah rock. Lihatlah kelakuan urakan Jimmy Blitz dalam Heartbreak Hotel yang pasti mengingatkan kita pada tingkah bengal personil Van Halen, Guns N’ Roses dan Motley Crue yang terkenal suka mengacak kamar hotel. Atau episode Disco Inferno yang lucunya bukan menyorot bintang rock, melainkan fansnya yang menghina musik disko namun tengah terdampar ke neraka yang oleh sutradara digambarkan menjadi klab disko. Hal demikian sebenarnya memutarbalikkan ketidaksukaan mereka pada disko dengan digambarkannya menjadi neraka.

 

Sebelum Strange Frequency memang banyak rockmovie lain yang juga merupakan interpretasi dan representasi kehidupan sesungguhnya dunia showbiz seperti School of Rock, Rockstar, Almost Famous, Still Crazy atau This Is Spinal Tap yang begitu kuat unsur parodinya. Bedanya, Strange lebih dari sekedar komedi dan drama , melainkan menggabungkan suspens dan horor. Ide menghadirkan bintang rock sungguhan sebagai pemain dan host pun juga menarik sebagai penguat karakter rockmovie.

 

 

 

Judul Strange Frequency volume 1-3

Kreasi/Produser Eksekutif   Jim Sharp, Dan Merchant

Pemain Eric Roberts, John Taylor, Roger Daltrey, Jason Gedrick, Ally Sheedy, Judd Nelson

Sutradara Mary Lambert, Bryan Spicer

Cerita Joseph Anaya, Jim Sharp, Dan Merchant

Produksi Paramount Pictures, 2002

Distributor MovieLine Entertainment

Durasi 84 menit

 

 

 

 

 

Iklan
Posted in: Film Review