Sisi Lain Budaya Kontemporer

Posted on 27/10/2010

0



Judul Aku Selebriti maka Aku Penting

Penulis Ignatius Haryanto

Pengantar Mudji Sutrisno

Isi xxiv + 220 halaman

Penerbit Bentang Pustaka, 2006

“…dalam budaya populer pun ada hal-hal serius, hal-hal yang berbau ideologis yang bisa dibedah lebih jauh…” (h.185)

Dr.Ruth Westheimer, seorang psikolog terkenal Amerika berujar, “Saya tak bermaksud melawak. Tapi kalau ada yang menganggap acara saya lucu, dan menganggap saya penghibur, ya bagus. Kalau seorang dosen memakai humor dalam mengajar, para murid akan cepat mengingat kuliahnya.” Dari contoh Westheimer dari buku karya almarhum profesor ilmu komunikasi Universitas New York, Neil Postman Amusing Ourselves to Death (edisi Indonesia Menghibur Diri sampai Mati, Pustaka Sinar Harapan, 1995), idenya jelas jika dihubungkan dengan situasi sekarang ini, terutama dalam perkembangan media televisi dan hiburan bagi anak-anak muda sekarang (jangan-jangan) jadi merasa mungkin lebih baik jadi penghibur.

Buku ini, Aku Selebriti maka Aku Penting kurang lebih memiliki semangat dan relevansi serupa dengan buku Menghibur Diri sampai Mati-nya Postman. Kalau Menghibur mengupas dengan dalam dampak media televisi yang sudah menurunkan martabat di masyarakat Amerika pada pertengahan 1970-an sampai awal 1980-an, Aku Selebriti menjadi semacam telaah yang memberi pandangan bahwa masyarakat kita yang dicekoki produsen televisi dalam konteks ini terekstase dengan kebebasan dan melecehkan akal sehatnya sendiri. Padahal yang terjadi adalah kebebasan dangkal; kebebasan yang hanya mengais-ais pada pernyataan – atau meminjam istilah Ashadi Siregar lebih terlihat ‘realitas psikologis’ ketimbang ‘realitas sosiologis’. Produk media seperti tayangan infotainment dan gosip selebriti memberi tingkat “penglipur lara” ternyata tak lebih pancaran semu lantaran rata-rata bertumpu pada memori kolektif pendek untuk meraih laba sebanyaknya.

Sungguhlah masygul kalau sikap para pelaku industri televisi kita justru membekukannya- lantaran enggan bersusah payah, sehingga hasilnya selalu menjadi realitas tunggal yang ‘umum’ dalam arti mengulang stereotip yang klise, yaitu : kejarlah rating kau kutangkap. Motifnya selalu jatuh kembali pada perolehan laba dengan cepat, tanpa memikirkan aspek kreativitas apalagi seni. Riset dan ide membuat tayangan mendidik masih hanya menjadi paria karena tak cepat menghasilkan duit.

Bedanya, penulis dalam buku ini tak terpaku pada perkembangan media televisi saja, melainkan juga pada media lain seperti internet (Ekspresi Identitas dalam Dunia Cyber, h.123), problem copyright dan hak intelektual (Sihir Potter, Budaya Populer, dan Potter War, h.85), sikap antar generasi yang cemas meskipun hal tersebut mau tak mau harus diterima (Nationality:MTV! dan Soekarno, Budaya Populer : antara Tafsir Ahmad Dhani dan Guruh Soekarno Putra), perang bisnis komik (Komik Jepang vs Amerika) sehingga kita dihantarkan pada kuntum pemikiran yang selama ini harus diakui kurang dijelajahi “hamba-hamba kebudayaan” kita.

Padahal sebagai contoh, sadar tak sadar tokoh proklamator Soekarno pun bisa jadi ikon budaya populer (baca h.185), sama halnya di musik ada Iwan Fals sebagai ikon tokoh masyarakat marjinal, juga di sastra dengan Pramoedya Ananta Toer yang belum lama ini melahirkan pengikut dengan menamai dirinya sebagai “Pramis”.

Contoh lain lagi yang perlu disimak ada kasus merebaknya fans Harry Potter yang sampai membuat situs internet sendiri sehingga diprotes Warner Bros (WB) sebagai pemegang lisensinya di segala lini produk, mulai dari film, situs, dan merchandise. Kasus ini cukup bikin geger lantaran perusahaan komersil sebesar WB jadi terlihat rakus meraup keuntungan dari Harry Potter. Mungkin jika J.K Rowling sendiri keberatan seperti halnya grup Metallica yang lagunya dapat diunduh sebebasnya oleh situs Napster dapat dimaklumi. Tapi, Rowling sendiri ternyata sudah merasa cukup karyanya banyak dibaca orang sehingga kasus yang terkenal pertengahan 2001 lalu dengan sebutan “Potter War” ini mengesankan komersialisasi produk berlebihan menyempitkan orang untuk berekspresi selain mendapatkan informasi seluasnya.

Masalah komersialisasi ini bak pisau bermata dua. Kasus paling  terkenal tentu saja perluasan hak cipta program software Microsoft yang relatif tak terjangkau di negara dunia ketiga termasuk di Indonesia sehingga kasus pembajakan sulit dihindari. Memang dewasa ini sudah mulai diperkenalkan software Linux besutan Linus Torwalds yang bebas  diunduh siapapun. Yang menjadi pertanyaan kenapa dari dulu pemerintah dan Microsoft sendiri tak punya jalan tengah dengan menurunkan pajak penjualan sesuai tingkat ekonomi negara pengimpornya demi keadilan mendapat informasi seluasnya untuk publik? Pajak tinggi membuat produk resmi relatif mahal sehingga kasus pembajakan makin merajalela di berbagai lini.

Kasus senada di sini adalah hak cipta siaran langsung Piala Dunia 2006. Ini pun cukup memusingkan lantaran untuk bikin acara nonton bareng dan publikasi media cetak dengan logo maskot Piala Dunia dikuasai pihak tertentu yang mengklaim sebagai pemegang ijin resmi. Lantaran komersialisasi yang rakus ujung-ujungnya malah menghambat ekspresi, kasus ini pun pudar bukan karena tiada kesepakatan melainkan sulit diterima akal sehat banyak orang untuk menikmati peristiwa dunia.

Meski cukup kritis menuding kapitalisme sebagai “biang kerok” keterbatasan mendapatkan informasi, penulis juga cukup bijak menilai komodifikasi di sisi lain berdampak positif. Dalam Tarzan, Disney dan Komodifikasi Film Animasi (h.67) dikisahkan Disney yang mengolah kembali dongeng lama Tarzan besutan Edar Rice Burroughs saja di film dan produk merchandise lainnya dapat meraup untung 19 miliar dolar AS. Bukankah ide ini dapat diadopsi dengan mengolah kembali dongeng atau komik lama Indonesia sehingga kita tak terus-terusan menjadi konsumen saja?

Buku ini seolah memberi sinyal bahwa di tengah perkembangan budaya Indonesia, kegamangan meliputi antara budaya tradisi dan populer. Tak dapat dipungkiri mereka ternyata “jalan di tempat” dengan ideologinya sendiri-sendiri. Kebudayaan tradisional berpegang teguh pada nilai leluhur sedangkan yang modern (kini banyak disebut generasi “X” dan generasi “MTV” yang sungguh-sungguh tercerabut dari tradisi) begitu asyik dengan “cita rasa global”nya sehingga merasa segala perkakas budaya masa lalu perlu dipangkas menjadi sesuatu yang (sebenarnya) baru terlihat sungguh-sungguh modern.

Tapi apakah modernitas telah sungguh-sungguh dipahami masyarakat terutama yang diwakili para pebisnis media dan idustri hiburan kita? Nampaknya hal tersebut perlu dipertanyakan kembali lantaran apa yang sepertinya terlihat modern itu masih dipahami secara semu sehingga kita tetap ditelan (baca: dibentuk) menjadi generasi konsumen.

***

Meski kuntum-kuntum pemikiran penulis ini “hanya” bukan dari pemikiran utuh, tetap terasa kontekstual sehingga tak ada tulisan yang jadinya malah “kesasar” lantaran begitu banyak tema dikupas di sini-yang umumnya terjadi pada buku kumpulan tulisan. Bahkan dalam pengantar, budayawan Mudji Soetrisno menulis, jika studi kebudayaan ingin membaca dinamikanya, harus diingat bahwa untuk memasukinya diperlukan kerendahan hati- satu hal yang nampaknya mahal di zaman sekarang- dengan mau masuk dalam kode-kode bahasa prokem, bahasa gaul yang selama ini terpinggirkan. Bahasanya pun lugas, bahkan jauh dari kesan eksebisi ilmiah yang celakanya lebih banyak tuna acuan lantaran hanya mencetak pemikiran yang berasal dari hasil “omong-omong” saja.

Justru dengan bahasanya yang lugas terasa ada kerendahan hati penulis dengan ketekunannya mengangkat ilham yang semula “omong-omong” itu menjadi perspektif baru tanpa harus “kehilangan wibawa” menjadi kitsch. Sekedar catatan, banyak terbitan karya kebudayaan baik buku maupun artikel di media massa untuk mencapai masyarakat “harus diterjemahkan” dulu ke bahasa kebudayaan massa seperti diringankan menjadi artikel populer. Hasilnya membuat orang mengira mengapresiasi karya bermutu, padahal yang terjadi sesungguhnya mereka menerima sesuatu di bawah kitsch.

Walau rata-rata kuntum pemikiran penulis di buku ini belum layu, sayangnya ada dinamika penting lain yang belum tersentuh. Mungkin karena belum sempat lantaran ini adalah resiko buku kumpulan tulisan (antologi) yang tidak mematok pada satu topik saja bukankah sebuah buku kumpulan tulisan dapat dilengkapi tulisan lain yang belum dipublikasikan?

Semisal fenomena beredarnya majalah franchise yang belum lama ini sedang mengalami pukulan berat seperti kasus kontroversi majalah Playboy Indonesia, tayangan reality show yang sedang pada masa kecemasan setelah mengusik privasi, kini sedang “menciptakan penyakit baru” yaitu: membisniskan kemiskinan. Juga fenonena lain seperti perilaku pejabat (yang sepertinya terulang kembali pada masa Orde Baru) dengan begitu “tekun” membuat citra baik di televisi daripada bekerja sungguh-sungguh.

Sedangkan fenomena merebaknya peredaran majalah franchise yang seperti memberi kesan industri pers Indonesia cukup bergaung di luar negeri tak banyak yang sadar mereka gagal melahirkan penulis unggulan. Meski menguntungkan dari segi bisnis dengan terbukti sampai sekarang belum ada majalah franchise tutup, dalam sejarah pers penulis dan jurnalis unggul rata-rata lahir dari media buatan sendiri sehingga tak jarang banyak dari mereka identik dengan medianya. Sebutlah Denny Sabrie (alm) dan Remy Sylado yang identik dengan Aktuil, atau Goenawan Mohamad dengan majalah Tempo.

Terlepas dari (sedikit) kekurangannya buku ini berhasil membuka pemikiran bahwa angan-angan media yang mencerahkan mungkin masih perlu. Saya katakan “mungkin masih perlu” karena kita tahu para pelaku media  yang ditelikung kapitalisme sejatinya sedang mengalami kanker cedera logika stadium IV sehingga sungguh sulit untuk menelusuri kebenaran. Ada banyak kepentingan di atasnya dan lebih baik cari selamat sehingga mengorbankan martabat daripada berpikir menggunakan nalar.

Langkah penerbitan buku ini menambah daftar penerbitan buku studi kebudayaan kita yang dinamis belakangan ini, misalnya untuk lebih khusus ada studi semiotik Mite Harry Potter (Jalasutra, 2005), Matikan TV-mu! (Resist Book, 2005) atau (khususnya untuk komik) ada Histeria Komikita (Elex, 2006). *

Iklan
Posted in: Book Review