Remake Setengah Hati

Posted on 27/10/2010

0


 


Nightmare on Elm Street kembali ke layar lebar.

Karakter Freddy diubah.Tak seindah aslinya.

 

Judul: A Nightmare on Elm Street

Pemain:Jackie Earle Haley,Kyle Gallner,Rooney Mara,Katie Cassidy

Sutradara: Samuel Bayer

Skenario:Wesley Strick & Eric Heisserer

Produksi: New Line Cinema, 2010

Durasi:95 menit

 

Hollywood nampaknya sedang kering ide sehingga kalau tak membuat sequel, remake atau prekuel jadi pilihan. Kali ini giliran A Nightmare on Elm Street kembali ke layar lebar. Versi baru 2010 ini digadang oleh produser versi aslinya, Robert Shaye, dan produser kondang Michael Bay bakal lebih menakutkan lantaran karakter sentralnya, Freddy Krueger sengaja tak lagi diperankan oleh Robert Englund. Aktor Jackie Earle Haley dijamin bakal lebih menyeramkan karena ia tak lagi “bercanda” tatkala membantai sang korban. Ia menjadi lebih sadis dengan sedikit bicara.

 

Tentu saja versi terbaru dari film yang dulu digarap sutradara horor kawakan Wes Craven (trilogi Scream)masih mengundang rasa penasaran. Bagi penonton lama yang setelah sekian lama benaknya dipenuhi oleh karakter yang dihidupkan aktor teater Robert Englund yang membintangi lusinan sequel Nightmare, tentu saja mengharapkan sesuatu yang baru. Sedangkan bagi penonton yang belum pernah menyaksikan Nightmare tentunya berharap dijamin bakal ketakutan.

 

Dalam kancah film horor Hollywood sosok Freddy Krueger memang fenomenal. Ia harus diakui sama bekennya dengan Norman Bates dalam Psycho, Jason Vorhees dalam Friday the 13th atau Michael Myers dalam Halloween bahkan sosok legendaris Dracula dan Were Wolf sekalipun. Selain lusinan sequelnya plus serial televisi Freddy’s Nightmare (a.k.a Nightmare’s Café) , tokoh yang pernah dihadapkan dengan sosok horor lain Jason Vorhees dari Friday the 13th dalam Freddy vs. Jason (2003) ini amat disukai penonton, bak superhero. Bedanya Freddy adalah villain (tokoh jahat) sehingga banyak penonton selalu ingin (lagi) menyaksikannya. Selera humor yang aneh dan cenderung sarkas lewat akting Robert Englund tatkala menyiksa korbannya di alam mimpi dianggap menguatkan karakter Freddy yang beda dari film horor lain.

 

Dalam sejarah film horor Hollywood sangat jarang franchise yang disukai sampai dibuat versi tevenya dan hanya franchise Nightmare yang diangkat ke layar gelas setelah layar lebarnya sukses menuai box office, persis superhero. Bahkan sampai sequel terakhirnya, Freddy’s Dead: The Last Nightmare (1991)digadang sebagai cerita pamungkas, toh penciptanya Wes Craven masih memproduksinya lagi dalam Wes Craven’s New Nightmare (1994) yang banyak diakui betul-betul menyeramkan lantaran mampu dengan brilian meretas antara realita dengan fiksi.

 

Akan tetapi versi remake ini terbilang kurang berhasil meskipun upaya Samuel Bayer boleh dibilang agak menyegarkan di beberapa bagian, terutama dengan betul-betul mengubah sama sekali karakter-karakter yang sudah ada dari film aslinya yang dirilis 1984. Adegan pembukanya yang memerlihatkan bolak-balik mimpi dan kejadian nyata di sebuah kafe cukup menyeramkan dan menjanjikan penonton penasaran untuk menyaksikan adegan selanjutnya. Cerita tentang Freddy sebelum menjadi setan adalah pemerkosa anak-anak kecil nampaknya digarap sutradara supaya lebih masuk akal ketimbang versi aslinya yang cenderung ekstrim: Freddy benar-benar pembantai anak-anak kecil. Usaha memvisualkan Freddy sebelum menjadi setan dalam versi barunya cukup berhasil dibandingkan versi aslinya yang hanya membicarakan sosok Freddy tanpa wujud visualisasinya.

Kendati karakter Freddy Krueger yang semula penuh humor sarkas seraya menjentikkan jari jemari besi pisaunya yang berkilat tajam diubah menjadi lebih seram sehingga tak lagi menghentakkan humor, sayangnya tak dapat dipungkiri masih terlalu banyak adegan yang mengulang dari versi aslinya. Adegan cakar Freddy yang muncul dari bath tub dan kantung mayat penuh darah yang berbicara sudah pasti tak bisa melepaskan memori penonton dari versi aslinya gubahan Wes Craven. Memang ada beberapa pengulangan adegan yang tak mungkin diubah seperti adegan orang yang dilemparkan ke langit-langit kamar dari ranjang atau Freddy yang muncul dari balik tembok karena itu memang “khas” Freddy membantai korbannya. Tapi setelah berlalu beberapa adegan, nyatanya banyak sekali adegan yang mengulang versi aslinya. Nampak sekali ada keraguan di benak sineas dan tim penulis skenarionya antara membuat baru atawa carbon copy walau rata-rata akting yang diperlihatkan dalam versi baru ini cukup bagus.

 

Kalaupun ini adalah remake kenapa Samuel Bayer banyak melakukan pengulangan? Apakah ia tak percaya diri membangun adegan-adegan baru yang lebih seram? Bisa dibilang ini adalah versi remake Hollywood yang berjalan setengah hati. Banyaknya pengulangan tak dapat dipungkiri sutradara seperti tak mampu menyuguhkan efek kejutan baru lagi yang seharusnya mengagumkan untuk penonton generasi sekarang. Sayang, padahal efek kejutan baru itu sepertinya sudah berhasil di awal film.

 

Banyak versi remake Hollywood yang berhasil menyuguhkan kejutan baru yang mengagumkan, kendati karakter asli diubah. Sebutlah Batman versi Christopher Nolan (Batman Begins dan The Dark Knight) yang menjadi lebih menarik dan kaya dari versi Tim Burton sehingga tetap mengundang decak kagum walau tak terlalu mengumbar spesial efek. Benar, Nightmare bukan Batman. Tapi seharusnya versi remake yang berhasil rata-rata cenderung melepaskan diri dari versi aslinya. Perihal perubahan karakter Freddy dan cerita yang sama sekali baru sebenarnya patut diacungi jempol sebagai upaya melepaskan diri dari versi aslinya hanya sayangnya usaha seperti itu nampaknya gagal tatkala beranjak ke adegan-adegan berikutnya. Akibatnya usaha perubahan karakter Freddy toh sia-sia. Ia tak secemerlang Joker dari Batman yang semula diperankan sangat baik oleh Jack Nicholson menjadi lebih “gila” tatkala diperankan almarhum Heath Ledger. Padahal remake ini bukan seperti remake Psycho besutan Alfred Hitchcock yang digarap Gus Van Sant yang memang sedari awal diakui sebagai carbon copy. Lain perkara kalau film ini memang diakui sebagai penyempurnaan versi aslinya. Skenario yang lemah dan penyutradaraan yang setengah hati membuat film ini dijamin tak mampu mengulang sukses versi aslinya.

 

Kejutan yang disiapkan bagi penonton baru pun juga jadinya kurang memuaskan kendati sebenarnya sudah tercipta di menit-menit awal. Memang tak banyak spesial efek yang dikeluarkan demi membangun kekuatan yang dianggap baru dan beda dari film-film horor lain. Tapi sayangnya semua upaya itu nampaknya sia-sia. Versi remake ini betul-betul kedodoran tak sesuai dengan tagline-nya “welcome to your new nightmare.”

 

Versi terbaru A Nightmare on Elm Street ternyata tak seindah aslinya. Sayang.*

Iklan
Posted in: Film Review