Parodi Historis Spinal Tap

Posted on 27/10/2010

0


Salah satu masterpiece Rob Reiner.
Parodi brilian sejarah rock n’ roll yang lucu tapi tidak konyol.

Spinal Tap adalah sebuah grup band rock legendaris yang didukung tiga rocker kawakan, David St. Hubbins, Nigel Tuffnel dan Derek Smalls. Tapi film ini tidak dibuat dengan gaya berkisah laiknya The Doors karya Oliver Stone atau Almost Famous karya Cameron Crowe. Sutradara Rob Reiner mengolahnya menjadi film dokumenter, rockumentary perjalanan tur dan biografi grup rock Inggris yang sudah menghasilkan 15 album sepanjang 17 tahun karirnya di dunia musik.

Di pembukaan, Rob berperan sebagai Marty Di Bergi seorang pembuat film iklan yang berperilaku sebagai fans berat Spinal Tap. Kekagumannya lantas membuatnya untuk membuat dokumenter Spinal Tap. Selanjutnya, penonton dibawa mengikuti kisah perjalanan Spinal Tap tatkala tengah menembus Amerika Serikat, negara tujuan pelbagai musisi dunia ke tingkat superstar.

This is…Spinal Tap (1984) adalah salah satu masterpiece sineas Rob Reiner yang mengagumkan sebelum ia memukau penonton dalam film suspens-thriller, Misery (diangkat dari novel Stephen King) dan tentu saja komedi roman When Harry Met Sally yang melejitkan Meg Ryan hingga dalam peran-peran sesudahnya, ia  jadi identik dengan film komedi roman, misalnya Slepless in Seattle, You’ve Got Mail dan banyak lagi.

 

Sebelum menonton ada kalanya kita membekali dulu dengan referensi sejarah rock sehingga dapat memahami kelucuannya. Walau prolog film ini terlihat begitu serius, jangan salah. Kalau kita paham sejarah rock n’roll dan perhatikan betul, film ini sebetulnya adalah parodi sejarah rock dengan mengangkat grup fiktif Spinal Tap. Uniknya, Reiner membuatnya seolah Spinal Tap adalah grup veteran rock sungguhan lengkap dengan video klipnya. Misalnya, tatkala David mengenang masa awal Spinal Tap, adegan bergulir di studio teve tempat mereka manggung. Suasana 1960-an (gambar hitam putih dengan dandanan oldies) begitu terasa karena Spinal Tap toh sudah berdiri pada era keemasan Rolling Stones dan The Beatles.

Lucunya, adegan tersebut dibuat seolah Spinal Tap di masa karir sebelum memainkan musik heavy metal dengan dandanan yang menunjukkan wajah mereka masih culun. Soundtrack film ini pun diperhatikan betul sehingga selain humornya yang menukik, Spinal Tap sungguh menjadi satu dari film parodi terbaik yang pernah ada. Ia tak menjadi terlampau konyol karena Reiner memplesetkan sejarah rock n’ roll yang riuh dengan gejolak personil dan manajemennya. Misalnya ketika album mereka Smell The Glove dirilis, sampulnya menjadi hitam. Bagi yang mengetahui sejarah rock pasti akan segera mengerti Reiner tengah memplesetkan The White Album milik The Beatles. Dengan enteng manajer Spinal Tap berujar, “Tak apa kan’ tidak ada gambarnya? The Beatles saja punya white album, kita punya black album!” ucapan ini jelas membuat kesal personilnya yang sudah menyetujui kaver sebelumnya yang menurut mereka sangat artistik.

“Sudahlah, kalau warnanya hitam begini kan’ bisa dipakai untuk berkaca?” hibur sang manajer. Omongan tersebut tak lantas diikuti adegan konyol laiknya kita menonton film parodi macam Airplane (plesetan film Airport) yang di dalamnya memplesetkan film Saturday Night Fever, Staying Alive, dan Grease.

Atau ketika Marty Di Bergi mewawancarai ketiga personilnya tentang sejarah Spinal Tap. “Dulu kami tergabung dalam grup bernama The Originals. Setelah band tersebut memutuskan menjadi The New Originals kami membentuk Spinal Tap,“ jelas Derek Smalls dengan mimik serius. Di sinilah plesetan sejarah rock dimulai dengan memplesetkan sejarah terbentuknya grup legendaris Led Zeppelin yang berawal dari grup Yardbirds yang sempat berkeinginan menjadi The New Yardbirds!

Kemudian ketika Marty menanyakan kemana pemain dram mereka mengingatkan kita pada grup metal Iron Maiden yang kerap berganti personil, terutama pemain dramnya. Lucunya, pemain dram mereka tak hanya berganti melainkan tewas. Tewasnya bukan karena drugs. Dramer pertama tewas karena “kecelakaan aneh ketika sedang berkebun” dan “Scotland Yard, detektif Inggris menolak untuk memaparkannya lebih lanjut dan membiarkan menjadi misteri tak terpecahkan” mirip kematian Brian Jones, gitaris Rolling Stones yang sampai kini tak jelas mati dibunuh (pernah muncul spekulasi bahwa Jones tidak mati karena drugs) atau terbunuh. Atau tatkala kekasih Nigel yang selalu mengikutinya membuat kesal dan mengakibatkan permusuhan dengan personil Tap lainnya, Derek Smalls. Kejadian ini mengingatkan kita pada kisah-kasih asmara John Lennon dan Yoko Ono yang membuat persahabatan John dan Paul Mc Cartney retak di The Beatles. Lucunya, kalau John Lennon sampai membuat album solo, dalam Tap, Derek Smalls keluar dan posisinya digantikan kekasih Nigel yang memainkan tamborin, padahal Derek Smalls adalah seorang gitaris!

Formasi ini diperkenalkan Tap dengan menyebutnya, Spinal Tap Mark II di panggung. Setting panggung Tap yang mirip setting panggung Deep Purple kala manggung di California, 1974. Konser Deep Purple pada waktu itu sempat dikemas dalam rekaman video bertajuk California Jamming dengan mengetengahkan vokalis David Coverdale (sementara menggantikan Ian Gillan setelah memperkuat album In Rock dan Machine Head yang sukses besar) juga pencabik bas yang juga pandai bernyanyi dengan nada tinggi, Glen Hughes yang di kala itu menggantikan Roger Glover. Ya, Reiner tengah memplesetkan sejarah Deep Purple yang ketika personilnya berganti, manajemen mereka menyebutnya Deep Purple Mark II, Mark III dan seterusnya di samping setting panggung konser Tap yang dibuat menyerupai panggung Purple…

Meretas Fiksi dan Realitas
Spinal Tap sudah cukup menggelitik lewat dialog-dialognya yang sudah konyol ketimbang berlarat-larat ke dalam adegan slapstick laiknya film komedi dan parodi kebanyakan. Bentuk pengisahannya yang tidak biasa dengan membuatnya menjadi bergaya dokumenter juga menambah nilai lebih film ini sehingga pantaslah majalah film Premiere memasukkannya ke dalam daftar 50 film favorit sepanjang masa.

This Is Spinal Tap memang layak sebagai komedi yang brilian tanpa menjadi konyol. Bentuk kelucuannya dengan memparodikan sejarah rock membuat film ini unggul sebagai perkembangan genre rockmovie sekaligus parodi yang gemilang. Dalam sejarah, jagat parodi Hollywood lebih didominasi Jerry dan David Zucker penghasil film Airplane, trilogi Naked Gun dan dwilogi Hot Shots. Rob Reiner yang notabene bukan sutradara komedi berhasil menembus dominasi tersebut dengan menghasilkan Spinal Tap yang brilian, apalagi dengan gaya bertuturnya yang seolah dokumenter (di sana dokumenter tentang grup rock disebut “rockumenter”) membuat film ini memiliki nilai lebih yang tak dilakukan sutradara komedi dan parodi lainnya.

Keputusan Reiner membuatnya seakan dokumenter (banyak adegan dibuat dengan kamera handy-cam saja) membuat kefiktifannya seolah menjadi nyata. Lewat Spinal Tap dengan memparodikan sejarah rock, ia mampu meretas batas antara fiksi dan realitas menjadi gemilang laiknya sebuah “license of poetica” dalam karya sastra.

Tahun 1991 tatkala diadakan acara mengenang almarhum Freddie Mercury, vokalis dari grup legendaris Queen, di stadion Wembley Spinal Tap hadir kembali. Bukan dalam film, melainkan tampil di atas panggung menyanyikan lagu seolah mereka adalah grup pengisi acara seperti Robert Plant, David Bowie, Annie Lennox, Metallica, Def Leppard, George Michael dan banyak lagi. Kehadiran grup fiktif ini juga diikuti dengan dirilisnya album Majesty of Rock laiknya grup rock sungguhan, lengkap dengan video klipnya. Spinal Tap pada akhirnya tak sekedar menjadi figur sentral dalam film parodi semata, melainkan sudah menjadi ikon simbol kekonyolan musik Inggris setelah sekian lama telah menyumbangkan banyak musisi legendaris dunia seperti The Beatles, Queen, dan Rolling Stones.

Judul This Is Spinal Tap

Pemain Chistopher Guest, Michael McKean, Harry Shearer, Rob Reiner, Fran Drescher, Patrick MacNee
Sutradara Rob Reiner
Cerita Christopher Guest, Michael McKean, Harry Shearer, Rob Reiner
Produser Karen Murphy
Produksi Embassy Pictures, 1984
Durasi 90 menit

 

Pernah dimuat sebelumnya di http://www.Layarperak.com, 29 Mei 2004.

Iklan
Posted in: Film Review