Misteri Koper Butut

Posted on 27/10/2010

0



Film debutan pengusaha kondang Richard Oh. Ide segar yang logikanya tercederai.

Apa jadinya ketika seorang pegawai arsip menemui koper butut di hari-harinya yang membosankan? Anugerah atau musibah? Dikisahkan Yahya (Anjasmara), pegawai arsip yang kerjanya monoton. Meski sudah 15 tahun mengabdi, hidupnya tak beranjak: tinggal di rumah kontrakan dalam gang sempit, tenggelam dalam hiruk pikuk tetangga yang gemar bergosip.

Hidupnya berubah tatkala di malam hari ia menemui koper tua. Teman-teman kantor dan di rumahnya mengira ia dapat rejeki nomplok sejumlah uang dalam koper yang sulit dibuka itu. Sangat beralasan, lantaran di televisi dan sejumlah pemberitaan belakangan ini ada perampokan duit yang tersimpan dalam koper, juga hadiah miliaran rupiah di berbagai acara kuis televisi.  Office boy di kantornya tiba-tiba melayaninya berlebihan- seolah ia tokoh penting. Tak hanya itu, berbondong-bondong orang ke kantornya yang dulunya selalu sepi. Tentu saja kedatangan mereka penuh berbagai kepentingan dengan maksud ingin “mencicipi” temuan koper itu, mulai dari menawarkan barang sampai minta kerjaan.

Ketua RT di rumahnya pun mendadak memberi perlindungan berlebihan dengan alasan Yahya dan kopernya bisa menjadi sasaran bandit. Yasmin, istrinya pun mendesak untuk membuka saja koper itu. Tapi Yahya berkeras tidak membuka dan mengembalikan barang itu kepada pemiliknya. Selanjutnya, penonton dibawa ke dalam teka-teki apa isi koper itu.

Secara keseluruhan ide cerita film ini cukup baik. Tokoh Yahya seolah memerlihatkan kita betapa sulitnya memertahankan kejujuran di tengah ruwetnya hidup. Ya, kejujuran terasa mahal harganya dan Yahya pun dicemooh.  Pertentangan batin tampak ketika Yahya terdesak antara mencari pemiliknya sendiri setelah usahanya gagal melapor ke polisi atau membuang koper itu. Mendadak istrinya sakit dan butuh biaya pengobatan besar. Godaan muncul untuk membuka koper, siapa tahu ada sejumlah uang atau barang yang bisa dijual. Yahya sendiri putus asa karena selain usahanya selalu buntu, koper itu selalu kembali kepada dirinya, pun ketika ia membuangnya.

Tokoh lain seperti atasan Yahya (Barry Prima) yang sering salah menyebut namanya atau sejumlah adegan menyogok polisi membuat film ini tampak natural sehingga penonton dapat sejenak melupakan alurnya yang lambat-mengingat sineasnya pernah mengaku di sebuah wawancara, penyuka film Eropa. Sindiran sosial yang cukup baik dikemas dengan jenaka di sini.

Terlunta

Sayang, film ini rada terganggu beberapa logika yang terlunta. Semisal adegan Yahya sehabis dirampok karena berkeras tak mau menyerahkan koper itu kepada preman, kebetulan bertemu Noni (Djenar Maesa Ayu)-kawan ngobrolnya di kafe- di taman. Yahya yang muncul nyaris bugil-dilucuti preman- hanya ditanggapi sepintas lalu saja oleh Noni, satu-satunya kawan yang tak menganggapnya “istimewa” karena koper. Bagaimana mungkin seorang kawan –teman ngobrol cukup intens- hanya menanggapi peristiwa itu dengan dingin?

Munculnya tokoh Noni pun aneh. Tak ada penjelasan sekilas kenapa ia tertarik kepada Yahya yang harusnya dapat mudah disiasati. Padahal tokoh ini sudah dibaiat sebagai peran pembantu yang cukup penting. Dengan setting di kafe bukankah awal ketertarikan Noni berteman dengan Yahya bisa diciptakan, misalnya sama-sama menyukai lagu yang kebetulan sedang diputar di kafe tempat Noni bekerja?

Adegan lain juga cukup mengganggu semisal dokter yang diperankan Ferry Salim di kamar bedah mendadak keluar dari ruang operasi memberitahukan keluarga Yasmin ada daging tumbuh di rahimnya. Bukankah operasi dilakukan ketika sudah ada diagnosa ? Dari adegan tersebut timbul kesan penyakit Yasmin baru ketahuan di tengah-tengah operasi.

Akting Anjasmara sebagai Yahya sebenarnya sudah maksimal. Tapi aktingnya menjadi sia-sia dan kurang meyakinkan secara utuh.  Apa pasal? Make-up dan sisiran rambutnya selalu rapi malah menyegarkan wajahnya. Mungkin ini hal kecil. Padahal, tanpa narasi, ekspresi Yahya cukup baik sebagai orang yang bingung. Setting pun janggal, seperti poster Dalai Lama di kafe tempat Yahya menghabiskan malam terkesan dipaksakan. Warung rokok di taman yang masih terlihat sebagai properti juga tak natural lantaran seperti diletakkan depan kamera.

Pemakaian sejumlah cameo juga kurang menggigit (kecuali peran Barry Prima dan polisi yang diperankan Joko Anwar, sutradara Janji Joni), walau ide tersebut belakangan ini diakui mempercantik film. Semisal tokoh office boy yang diperankan Arie Dagienkz masih terasa sebagai diri Arie sendiri yaitu “anak muda gaul”, bukan office boy.  Tampak sekali film ini tergantung pada prominence (keterkenalan) sejumlah selebriti sebagai siasat dagang yang seharusnya dapat dilalui lebih licin itu.

Memang, sebuah karya apapun ada “license of poetica” -dengan kata lain ada hal tertentu yang tak perlu dijelaskan karena ketidakwajaran adalah bagian cerita itu sendiri. Tapi beberapa cedera logika yang ada sulit membuat kita maklum karena sedari awal kerangka dasar cerita film ini berpijak pada realis sehingga sungguh tak mungkin memisahkan ketidaklogisan film ini jika dikaitkan dengan alasan “license of poetica” tadi- atau sutradara memang ingin “bermain-main” dengan keanehan seperti film Clockwork Orange (Stanley Kubrick). Bukankah sedari awal Koper sepakat menggiring penonton kepada peristiwa, bukan narasi berlarat-larat bermaksud simbolis?

Sejumlah iklan terselubung seperti bis yang lalu lalang pun juga terasa gamblang, walau sebetulnya sutradara berusaha serealis mungkin, lantaran dalam  keseharian orang cenderung “dijejali” merek. Hal demikian mengingatkan kita pada film-film Warkop DKI era 1980-an akhir yang terasa betul disusupi sponsor. Ending film juga bertele-tele dengan memerlihatkan Noni berjalan dan menendang koper.

Penulisan skrip yang lemah dengan memerlihatkan berbagai logika yang tercederai rada menjatuhkan semangat Koper– hal yang kebanyakan terjadi lantaran sudah terlampau lama dunia film kita begitu berjarak dengan teater- satu dari fondasi dasar produksi sebuah film.

Terlepas dari berbagai kelemahannya, sinematografi, tata suara jernih, dan musik yang hidup, sedikit menambah bobot film ini.  Memang tak mudah mewujudkannya walau ide cerita Koper sesungguhnya cukup membuka kemungkinan baru yang tak bisa begitu saja dilewatkan.*

Iklan
Posted in: Film Review