Lebih Baik Jadi Penghibur

Posted on 27/10/2010

0


 

“Sesungguhnya orang tidak pernah tahu pasti apakah kegiatan seminar semacam itu lebih berupa pemanfaatan ruang kosong, atau kami para cerdik pandai hanyalah meramaikan sebuah kebun binatang yang ditinggalkan untuk kami supaya kami tetap sibuk dengan sesuatu yang tampaknya penting. Mungkin keduanya benar,”

 

Franz Magnis Suseno dalam wawancara dengan  Ensiklopedi Tokoh Indonesia di http://www.tokohindonesia.com/ensiklopedi/f/frans-magnis-suseno/index.shtml.

 

Di tengah krisis nilai yang melanda kehidupan di manakah peran intelektual? Menjadi watch dog– anjing penjaga- terhadap kebijakan pemerintah, mengembangkan gagasan dan bergelut sesuai konteks zamannya masing-masing atau terjerembab menjadi “selebritas intelektual” sebagai kelompok elit yang terdidik di masyarakatnya?

 

Dr.Ruth Westheimer, seorang psikolog terkenal Amerika berujar, “Saya tak bermaksud melawak. Tapi kalau ada yang menganggap acara saya lucu, dan menganggap saya sebagai penghibur, ya bagus. Kalau seorang dosen memakai humor dalam mengajar, para murid akan cepat mengingat kuliahnya.” Memang, ia tak menjelaskan apa sebenarnya dan gunanya mereka itu mengingat. Dari contoh Westheimer yang saya ambil dari buku karangan almarhum profesor ilmu komunikasi Universitas New York, Neil Postman Amusing Ourselves to Death, idenya jelas jika dihubungkan dengan situasi yang ada sekarang ini: mungkin lebih baik jadi penghibur.

 

Baiklah, pelbagai seminar dan diskusi diadakan semuanya demi kebaikan sebagai penyadaran bahwa pekerjaan rumah bangsa ini begitu banyak dan bertumpuk-tumpuk sehingga perlu dilakukan banyak hal untuk membuat kita menjadi mawas diri. Syukur-syukur kita dapat sedikit menerapkan solusi yang baru saja dilontarkan di berbagai even tersebut. Tapi, ketika seminar dan diskusi melibatkan intelektual publik sudah dapat dikomoditaskan dengan menjual isu dan nama pembicara melalui berbagai lembaga sehingga lebih banyak menghasilkan “selebritas intelektual” (sebutan lain dari intelektual publik atau “artis” yang “mendadak” menjadi “pakar” sehingga tampak “intelektual”) apakah peran intelektual sudah tak berjarak lagi bak seorang penghibur?

 

Memang kita baru beranjak dalam demokrasi sementara ketika urusan perut belum lagi selesai, peran intelektual menjadi samar sehingga diperlukan “pemulas” sebagai “pelipur lara” guna membuai sementara individu-individu dalam posisi minoritas yang sudah larut dalam kekecewaan. Menjadi selebritas atau bertukar tempat dari panggung hiburan menjadi seolah “pakar” adalah sah-sah saja. Karena mungkin lebih baik jadi penghibur ketika usaha pencerahan pemikiran selalu mengalami ekskomunikasi dan menjadi apa yang pernah disebut Franz Magnis Suseno sebagai “pemanfaatan ruang kosong, atau hanyalah meramaikan sebuah kebun binatang yang ditinggalkan supaya tetap sibuk dengan sesuatu yang tampaknya penting.”

 

Maka sebuah seminar membicarakan nasib pengungsi, misalnya, tak penting lagi apa korelasinya ketika nasib dan masa depan “si malang” nyatanya tak sungguh-sungguh diperjuangkan. “Si malang” kemudian terpuruk menjadi komoditas intelektual yang mampu dijual, disesuaikan dengan bujet dan kemampuan dalam gedung mewah, pembicara dari lulusan luar negeri dengan publikasi media massa yang tumpah ruah. Memang, ini bukan lagi penyimpangan yang menggegerkan lantaran semuanya menjadi kisah klise. Karena sudah sejak zaman Belanda sistem pendidikan kita sampai sekarang mengharuskan kita untuk menjadi serba cakap dan berbagai predikat superlatif lainnya, maka pertukaran tempat tanpa korelasi tepat antara selebriti yang (ingin) menjadi intelektual atau intelektual yang menjadi selebriti menjadi mafhum. Siapa sih yang tak mau terlihat pintar?

 

Yang menggelikan dan mencemaskan mengapa semakin hari makin nampak tanda-tanda bahwa sebuah tindakan yang dengan hormat kita menyebutnya sebagai ‘pikiran’ sudah tak lagi menjadi ukuran kehormatan ketika peran intelektual mendadak menjadi lebih mirip penghibur di tengah-tengah sebutan “pengamat” atau “pakar” belum sepenuhnya mantap lantaran kurang mantapnya tradisi ilmiah kita dalam kehidupan akademik?

 

Memang selalu ada jalan bagi manusia untuk menemui kembali mata rantai yang hilang (missing link) dalam kehidupannya. Bukankah pemikir agung Heraclitus pernah bilang bahwa manusia sesungguhnya sedang putus hubungan dengan sesuatu yang hakekatnya dekat dengan dirinya sehingga ia selalu terobsesi untuk menemukan kembali mata rantai yang hilang? Sayangnya mata rantai yang hilang itu sepertinya jadi sulit ditemukan jika deklarasi Foucault tentang “kematian manusia” dalam Madness and Civilization menjadi benar adanya dalam menyikapi wajah intelektual publik yang urun rembug memasuki ladang bisnis dengan berlaku bak selebritas.

 

Pada hemat saya berbagai pernyataan di atas barangkali perlu direnungkan secara serius jikalau kita memang ingin menghargai diri sendiri dengan sungguh-sungguh bukan hanya menanam tebu di bibir.*

 

 

 

Iklan
Posted in: Personal Essay