Kotak Pandora Kemiskinan

Posted on 27/10/2010

0


Luar biasa gebrakan media saat ini. Setelah riuh dengan sensualitas, kekerasan, dan sinetron, jenuh mengusik privasi para selebritas dengan memanipulasi kebenaran, kini malah berasyik masyuk dengan problem sosial bernama kemiskinan sehingga sampai pada kenyataan pathos yang menyedihkan.

Ketika acara reality show semula dikecam hanya menjahili atau mengacak privasi seseorang, tayangan Rejeki Nomplok dan sejenisnya berusaha menampiknya. Nyaris serupa dengan misi tayangan sinetron religius Rahasia Illahi yang semula hanya merajalela di bulan Puasa dan Idul Fitri, Rejeki Nomplok muncul dengan keberpihakannya kepada rakyat kecil. Serupa dengan Rahasia Illahi, lewat tayangan tersebut istilah bikinan produser “edutainment” – term dari education dan entertainment yang dimaksudkan sebagai sajian pendidikan dalam format hiburan menjadi jargon mulia yang sedang dibuktikan produser televisi.

Berturut-turut tayangan reality show Rejeki Nomplok, Uang Kaget, dan Bedah Rumah menampilkan orang yang sedang terbebas sementara dari problem ekonomi. Lihatlah seorang ibu yang terburu-buru sehingga yang teringat hanya membeli barang-barang mewah dalam waktu singkat yang bisa jadi tak benar-benar diperlukannya. Lihatlah sebuah rumah kumuh yang tiba-tiba disulap walau dalam pengertian akal sehat tak mungkin membangun rumah yang layak dapat dilakukan hanya dalam waktu singkat. Lihatlah seorang bapak penjual kue yang tiba-tiba mendapat segepok uang untuk membuat kios kecil. Tak ada kesempatan baginya memperhitungkan biaya yang wajar membangun kios itu karena duit rejeki yang diterimanya harus dihabiskan dalam sekian menit.

Baiklah, saya tak bermaksud mengecilkan niat mulia produser televisi untuk berbagi rejeki di tengah tayangan sinetron yang glamor dan menjual mimpi. Tapi, layakkah rejeki sedemikian singkat itu dikompetisikan menjadi tontonan? Bukankah masih ada cara lain, misalnya hanya merekam momen tertentu di waktu lain yang tidak harus selama 1 hari saat itu saja sehingga sang bapak punya waktu merencanakan pembangunan kiosnya dengan lebih matang?

Padahal di balik semua itu, dalam penghitungan bujet biaya produksi reality show relatif murah dan cepat sama seperti produksi infotainment. Persaingan industri televisi memang keras. Tayangan reality show hanyalah salah satu siasat itu. Bersiasat demikian sah-sah saja. Membuat dalam dan untuk pasar tak serta merta salah dalam dirinya sendiri. Dengan kata lain, dinamika pasar menjadi dinamika penciptaan. Mencipta dalam pasar memang begini risikonya. Tapi apalah artinya ketika riset dan pengolahan ide membuat tayangan lebih berakhlak masih menjadi paria karena tak cepat menghasilkan duit?

Baiklah, diproduksinya tayangan semacam Rejeki Nomplok harus dihargai sebagai terobosan kreatif. Dengan mengkomoditaskan kemiskinan pelaku industri media yang sudah alpa akal itu memanfaatkannya bak kotak pandora: yang buruk bisa menjadi baik, begitu pula sebaliknya, yang baik pun jadi buruk. Rating dikejar, martabat dikorbankan.

Di tangan produsen televisi kemiskinan telah menjadi ladang baru yang menjanjikan dengan tak lagi menjadi bagian dari kepasrahan jiwa yang lungkrah di tengah gagapnya modernisasi dan telah berubah maknanya dari kepasrahan menjadi “jargon” tersembunyi atas kepentingan sendiri. Setelah makin asyik diutak atik gatuk ia telah berubah maknanya dari sekedar bertahan hidup menjadi bagian dari sebuah tragedi komedi manusia.

Michel Foucault dalam Kegilaan dan Peradaban (Madness and Civilization, Ikon Teralitera Surabaya, 2004) telah meninjau ulang secara historis konsep kegilaan dengan menciptakannya kembali dari kebodohan, penyakit jiwa, irasionalitas, tempat, dan perspektif sosial pada masanya. Jika merujuk pada anggitan teoritis Foucault, kemiskinan bukan lagi sekedar gejala sosial semata melainkan telah menjadi bagian dari kegilaan yang kompleks. Sedangkan kemiskinan sebagai bentuk psychical reality (Feminism and Psychoanalysis, A Critical Dictionary, Elizabeth Wright (ed.), Blackwell Reference, 1992) serta merta telah berpijak pada kesalahan tak menerima kenyataan lantaran ia berdasarkan pada fantasi yang kemudian direpresikan menjadi komoditi oleh produsen televisi.

Heraclitus mengatakan bahwa manusia sesungguhnya sedang putus hubungan dengan sesuatu yang hakekatnya dekat dengan dirinya sehingga ia selalu terobsesi untuk menemukan kembali mata rantai yang hilang (missing link). Namun mata rantai yang hilang itu akan sulit ditemukan jika deklarasi Foucault tentang “kematian manusia” benar adanya dalam menyikapi wajah kemiskinan yang bermalih rupa menjadi ladang bisnis. “Kematian manusia” yaitu hilangnya konsep manusia sebagai pusat pengetahuan sehingga mereka sesungguhnya menjadi bentuk yang menyerupai karena manusia telah hilang unsur kemanusiaannya.

Membisniskan kemiskinan dalam televisi adalah contoh tragedi “kematian manusia” yang sedang sulit menyelamatkan kehidupannya. Angan-angan media yang mencerahkan mungkin masih perlu. Saya katakan “mungkin masih perlu” karena kita tahu para pelaku media  yang berperilaku demikian sejatinya  sedang mengalami cedera logika sehingga untuk apa diajari oleh penonton yang selalu dianggap bodoh.

Dan, untuk menutup tulisan ini saya lebih baik berujar dengan masygul seraya meminjam istilah Budi Darma dalam Solilokui (1984), memanglah tepat kepandiran sedang merajalela.

Rawamangun, Februari 2006

Iklan
Posted in: Personal Essay