Komik ‘Curhat’, Genre Baru Komikus Perempuan Indonesia

Posted on 27/10/2010

0


(Jurnal Perempuan edisi 68)

Perjalanan komik Indonesia telah memasuki babak baru. Kalau pada era 1990-an akhir sampai awal 2000 komik Indonesia bertahan dan tetap terbit lewat jalur indie, kali ini rata-rata mulai merambah lewat jalur industri penerbit mainstream, satu hal yang semula agak dijauhi oleh para penggiatnya.

 

Tercatat beberapa penerbit besar seperti KPG, Bentang (Mizan), M&C! dan Gramedia Pustaka Utama turut menerbitkan komik lokal belakangan ini. Nampaknya sejak kesuksesan komik seri Benny & Mice yang mampu terjual sejak diterbitkan pada 2007 hingga ribuan eksemplar membuka ruang bahwa komik Indonesia asalkan digarap dengan cerita yang matang bisa diterbitkan tak lagi lewat jalur indie.

 

Komik yang semula merupakan dunia kaum laki-laki juga mulai dirambah oleh kaum perempuan. Uniknya mereka tak hanya muncul sebagai komikus atau penggambar saja melainkan juga sekaligus menelurkan genre baru yaitu “komik curhat” (graphic diary). ‘Curhat’ atau ‘curahan hati’ adalah perasaan dari kejadian sehari-hari yang dalam komik ini diwujudkan dalam gambar. Perkembangan ini dipelopori oleh Dwininta Larasati atau akrab dipanggil Tita, doktor dari Universitas Teknologi Delft, Belanda ini mulai diperkenalkan sejak tahun 2005 di Pusat Kebudayaan Belanda Erasmus Huis pada saat mendampingi pameran komikus Belanda, Peter Van Dongen.

 

Perkembangan ini tentunya perlu dicatat sebagai pendobrakan karena sepanjang sejarahnya belum ada komik yang bercerita tentang keseharian hidup terutama tentang perempuan. Jika dibaca semula terasa agak aneh dan ada sesuatu yang kurang karena bentuk komik ini tidak lazim. Gambar ataupun sketsa Tita yang kebanyakan gambar orang tanpa hidung terasa kurang ada cerita lazimnya komik. Tapi disitulah keunikan dan kekuatan cara bercerita Tita. Bagi pembaca awam mungkin rasanya agak janggal membaca komik yang hanya berisi ‘curhat’ pribadi seseorang dan mungkin terasa ‘kurang penting.’

 

Meski kehadiran komikus perempuan pada masa awalnya terutama sejak lahirnya Wied Senja (komikus perempuan pertama di Indonesia, kini tinggal di Solo menjadi pelukis tak lagi menjadi komikus) bisa dibilang belum memunculkan estetik visual pun potensi naratif baru lantaran hanya mengikuti arus yang sedang tren saat itu, silat dan roman pada dekade 1970-an, juga pada 1990-an dengan mengikuti tren manga. Baru pada 2005 komikus perempuan yang diwakili oleh Tita menunjukkan giginya dengan memperkenalkan genre baru.

 

Adapun ide ataupun gagasan membuat komik ‘curhat’ ini sudah dibuat Tita sejak 1995 tatkala ia mendapat kesempatan magang di jerman selama satu tahun. Kegiatan sehari-hari itu digambar dan kemudian dikirim melalui fax kepada orang tuanya di Jakarta. Semula gambarnya dibuat di atas kertas A4. Lalu pada tahun 2000 ia membuat gambar di buku sketsa hardcover A5. Selain membuat gambar ia juga menempel berbagai memorabilia seperti bon restoran, pembungkus permen, karcis kereta, dan lain-lain. Bulan September 2004 Tita membuat situs pribadi di mutiply.com (esduren.multiply.com) yang isinya gambar-gambar tersebut. Kontan ada delapan buku sketsa yang ia buat dan dari buku-buku inilah ia menyeleksi kemudian diterbitkan dalam buku Curhat Tita.

 

Namun meski sudah diperkenalkan sejak 2005, bukunya Curhat Tita baru terbit pada Maret 2008. Oleh pengamat budaya dan juga dosen Yasraf Amir Piliang komik Curhat Tita ini disebutnya sebagai ‘komik tanpa bingkai’. Ia menulis dalam pengantarnya di buku komik Curhat Tita bahwa komik curhat ini berupa gambar tanpa teks, cerita tanpa unsur komikal, gambar komikal yang juga tanpa cerita yang juga digolongkan sebagai komik. Ia menulis komik masa kini yang diwakili oleh karya Tita melepaskan diri dari “cengkeraman” bingkai-bingkai kaku dengan memperluas medan, bentuk, gaya, dan strategi tekstualnya (hlm.7).

Pengamat komik Surjorimbo Suroto dalam sebuah diskusi yang digelar oleh komunitas Serrum juga mengakui adanya genre baru ini. “Dulu tidak ada komik curhat,” katanya.

 

Dan sekarang genre ini semakin menunjukkan potensi yang tak bisa dianggap enteng dengan lahirnya penerus, yaitu Cerita Si Lala (terbit April 2009) dan Duo Hippo Dinamis: Tersesat di Byzantium (terbit Mei 2010) karya Sheila Rooswitha Putri alias Lala. Konon buku Cerita Si Lala mendapat sambutan yang baik di pasar buku sehingga karya Lala berikutnya Duo Hippo Dinamis yang ceritanya berdasarkan pengalaman jalan-jalan Trinity dan Erastiany (yang juga perempuan) dipinang penerbit besar B First yang merupakan grup penerbit Bentang Pustaka yang digerakkan oleh penerbit Mizan. Adapun penerbitan Duo Hippo Dinamis ini juga diterbitkan bersama Curhat Anak bangsa yang dikomandani oleh produser komik Rony Amdani yang juga menerbitkan Curhat Tita.

Perempuan kelahiran Jakarta, 21 Mei 1980 ini adalah lulusan Fakultas Seni Rupa dan Desain Universitas Trisakti. Sebelum menjadi komikus di genre ‘curhat’ ia memulai karier sebagai illustrator dan pembuat storyboard lepas. Lala sebelumnya pernah menerbitkan komik adaptasi film Lovely Luna (2005) dan membuat blog ‘komik curhat’nya di http://okeboo.multiply.com

 

Bukannya Perempuan Tidak Tertarik

 

Tentu saja hal ini selain dapat dicatat sebagai perkembangan menggembirakan karena genre komik ini telah bergerak maju mulai dari hal-hal yang berbau konyol yang semula hanya pantas dikonsumsi anak tapi juga mulai merambah pasar dewasa, pasar yang sebenarnya justru kurang tergarap lantaran sejak lama masih terdapat pemahaman sempit bahwa produk komik hanya diperuntukkan bagi anak-anak saja. Pasar dewasa yang tergarap pun kini juga mulai merambah dari berbagai genre mulai dari humor sosial, superhero, silat dan petualangan. Uniknya lagi pasar dewasa ini digarap oleh komikus perempuan, dengan diantaranya adalah ‘komik curhat’.

 

Selain itu Curhat Anak Bangsa yang mengkhususkan diri pada genre ‘komik curhat’ mulai meneruskan genre ini dengan menerbitkan komik Antologi 7 yang terbit pada 2009. Dalam komik Antologi 7 ini tak hanya memuat karya komikus perempuan Lala dan Tita saja, melainkan juga ada karya Azisa Noor, perempuan kelahiran 21 Juli 1987 dan sampai sekarang masih mengenyam pendidikan formalnya di Teknik Arsitektur ITB.

 

Nampaknya dunia komik tak seperti halnya di dunia sastra kita yang begitu banyaknya penulis perempuan, bahkan sempat menorehkan gagasan besar pada 2003 lalu yaitu “sastra seks” yang semula kebanyakan ditulis oleh kaum pria.

 

Belum ada alasan yang jelas kenapa dunia komik kita selama puluhan tahun lebih banyak digiatkan kaum laki-laki walau pembaca komik terutama komik Jepang (misalnya serial Cantik) kebanyakan kaum hawa. Kalau kita membuka lembaran sejarah komik Indonesia semuanya didominasi kaum pria mulai dari era Kho Wan Gie, Siauw Tik Kwie, R.A Kosasih, Teguh Santosa, sampai Ganes Th.

 

Kolektor dan pengamat komik yang juga dosen seni rupa IKJ (Institut Kesenian Jakarta) Iwan Gunawan dalam sebuah wawancara berpendapat memang tidak ada pembagian khusus antara perempuan dan laki-laki di bidang komik. Buktinya sekarang banyak juga komikus perempuan. Ia menduga karena kaum perempuan semula lebih banyak tertarik terjun ke bidang fesyen atau dunia yang berhubungan dengan kecantikan dan kerapihan berbusana. Menjadi seniman komik nampaknya kurang menarik walau di bidang seni rupa khususnya lukis banyak juga kaum perempuan berkiprah di situ. Hasmi, pencipta serial Gundala dalam sebuah wawancara malah berpendapat bahwa kaum perempuan kebanyakan tidak bisa menggambar sehingga tidak ada yang terjun ke dunia komik.

 

Mengenai sedikitnya komikus perempuan menurut Direktur Eksekutif Yayasan Jurnal Perempuan dan tokoh feminis, Mariana Amiruddin berpendapat, ”Dari analisis sosial relevansinya dengan persoalan gender, bukan karena perempuan tidak tertarik, tetapi tidak dibangun kreativitasnya sejak kecil, tidak dibuka peluang bahwa mereka bisa melakukan apa yang mereka mau. Perempuan seolah-olah diajarkan “itu bukan wilayah kamu” sehingga imajinasinya tidak bangkit, seperti tanaman yang dibonsai.
Saya kira dunia sekarang sudah berubah, di Indonesia perempuan bermunculan dalam wilayah-wilayah yang biasanya digeluti atau di klaim oleh laki-laki karena adanya iklim demokrasi, kesadaran atas hak individu, kebebasan pers dan lain-lain. Tanpa disadari iklim ini memberi kesempatan perempuan untuk mencoba mengaktualisasi dirinya di wilayah yang biasanya  tidak mereka sentuh, yang sebetulnya potensi itu sudah ada tetapi terhambat oleh norma, tradisi dan tentu saja kadang agama. Dan kali ini giliran seni komik,”


Mengenai munculnya genre komik ‘curhat’ yang kali ini diwakili perempuan, Mariana berpendapat, ”Sementara kita belum bisa menyimpulkan dulu bahwa komikus perempuan adalah komik curhat, hanya karena semua komikus perempuan yang jumlahnya sangat sedikit itu berisi komik curhat. Tetapi dapat diakui bahwa fakta, kebanyakan perempuan bicara berdasarkan pengalamannya karena kehidupan yang berbeda dengan laki-laki, yaitu kehidupan domestik, pribadi atau privasi, dan penuh dengan perasaan serta tidak berjarak antara diri dan lingkungannya. Sementara kebanyakan laki-laki berjarak pada kehidupan pribadinya sendiri, atau sering tidak terungkap. Tapi bahwa itu sebuah genre — komik perempuan=komik curhat, masih terlalu terburu-buru. Saya lebih tertarik dengan pertanyaan dibalik karya-karya komikus perempuan yang dikatakan curhat itu. Bahwa kesempatan bagi perempuan untuk “menyatakan dirinya sendiri” memang sangat kecil sehingga ketika mereka berkarya kesempatan itu menjadi luas sekali.”

Hanya Nama Pena

 

Meretas sejarahnya sebenarnya di Indonesia pernah lahir komikus perempuan bernama Wied Senja yang muncul dalam genre roman dan silat di era 1970-an. Kendati karya mereka kurang berkilau karena hanya mengikuti tren saat itu untuk saat ini baru nama Wied Senja bisa disebut sebagai komikus perempuan generasi pertama di Indonesia.

 

Untuk selanjutnya memang bertabur nama-nama perempuan dalam komik Indonesia. Sayangnya nama-nama tersebut bukan nama asli karena mereka ternyata laki-laki juga. Kebanyakan adalah nama pena seperti Tati, Santhi Sheba dan Yanthi. Adapun nama-nama ini digunakan penerbitnya atas pertimbangan pasar.

 

Awal tahun 1995 tatkala pasar komik Jepang alias manga terbuka lebar dalam pasar buku Indonesia sebenarnya muncul beberapa komikus perempuan. Sayangnya mereka menggunakan nama samaran yang di “Jepang-Jepangkan” atas kemauan penerbit yang ingin hasil komik yang diproduksinya seolah berasal dari negeri Sakura. Misalnya Anzu Hazawa dan Calista Takarai.

 

Hadirnya komikus-komikus perempuan di masa kini yang justru membawa angin segar dengan mampu mengusung tema baru memberi bukti bahwa sejatinya seperti yang pernah ditegaskan ahli semiotika Arthur Asa Berger bahwa komik sebenarnya memiliki banyak hal yang dapat kita baca, namun hanya jika kita peduli.*

 

Rawamangun, September 2010.

 

Daftar Pustaka

 

Berger, Arthur Asa. 2000. Tanda-Tanda dalam Kebudayaan Kontemporer, Suatu Pengantar Semiotika (Signs in Contemporary Culture: An Introduction to Semiotics). Terjemahan M. Dwi Marianto dan Sunarto, Yogyakarta: Tiara Wacana.

Errie (errie_crything@yahoo.com). Comical Sisters. Dalam Koran Samali, Edisi Khusus 5 Tahun Akademi Samali, Mei 2010.

 

 

Larasati, Tita.2008. Curhat Tita. Bandung: CV Curhat Anak Bangsa.

 

Putri, Sheila Rooswitha. 2009. Cerita Si Lala. Bandung: CV Curhat Anak Bangsa.

 

Rooswitha, Sheila, Trinity, dan Erastiany. 2010. Duo Hippo Dinamis Tersesat di Byzantium. Yogyakarta: B First (anggota PT Bentang Pustaka).

 

Rahadian, Beng, Alfi Zachkyelle, Sheila Rooswitha Putri, Tita Larasati, Motulz, Caravan Studios, Azisa Noor, dkk. 2009. Antologi 7. Bandung: CV Curhat Anak Bangsa.

 

(Special thanks to Beng Rahadian atas kesediannya menyediakan bahan-bahan terutama Koran Samali sehingga tulisan ini bisa dibuat)

Iklan
Posted in: Comic Review