Yang Tersisa dari Peristiwa 1965

Posted on 20/10/2010

0


 

Judul Kami Bicara, Kembang Setaman Prosa dan Puisi

Penulis Pramoedya Ananta Toer, Sobron Aidit, T.I. Thamrin, Martin Aleida, Sitor Situmorang, JJ Kusni Sulang, dll.

Penyunting Martin Aleida, Koesalah Soebagyo Toer, Putu Oka Sukanta, Toga Tambunan

Isi xi + 230 hlm.

Penerbit LBH Jakarta, 2006

 

Peristiwa Gerakan 30 September 1965 (G30S)dampaknya mencemaskan. Tak hanya kepada orang yang langsung dituding sebagai anggota atau pihak lain seperti Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) yang terkait dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). Melainkan juga kepada pihak keluarganya sehingga banyak yang menderita dengan stigma terlibat PKI. Empatpuluh tahun lebih diskriminasi tertanam sangat kukuh dan demokrasi seperti hilang maknanya. Banyak anggota keluarga mereka sulit mendapat penghidupan selain karya-karya seni yang dihasilkan para senimannya seperti salah satunya pelukis/kartunis Augustin Sibarani atau buku Pramoedya Ananta Toer diberangus dan dilarang beredar oleh pemerintah. Sampai sekarang banyak dari mereka terpaksa mencari penghidupan di luar negeri.

 

Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta ikut mendampingi korban tragedi 1965 untuk melakukan upaya penghapusan praktik diskriminasi tersebut. Selain mendampingi korban untuk mendapatkan hak sebagai rasa solidaritas kemanusiaan, LBH turut mengundang para seniman dan budayawan untuk menerbitkan karyanya ke dalam buku antologi Kami Bicara, Kembang Setaman Prosa dan Puisi (LBH Jakarta, 2006). Disusun tim penyunting yang terdiri dari Martin Aleida, Koesalah Soebagyo Toer, Putu Oka Sukanta, dan Toga Tambunan buku ini menghimpun 34 karya korban mulai dari cerpen, esai, sampai puisi.

 

Dalam pembacaan karya yang terkumpul dalam buku ini tentunya membuka banyak kemungkinan. Salah satunya ialah sebagai saksi zaman sehingga buku yang sangat tergantung pada sosiologi para pengarangnya ini juga membuka ruang pada wawasan kultural yang menarik untuk dipelajari.

 

Ada suara “campur aduk” dalam buku gemuk ini, mulai dari kesaksian, keluh kesah sebagai korban yang terkena stigma politik, kritik sosial, catatan perjalanan, reportase bahkan catatan seni rupa. Kecampuradukan ini mungkin masih bisa dimaklumi lantaran sedari awal kita sudah menyiapkan diri bahwa antologi yang rata-rata bergelimang dalam balutan realisme ini seluruhnya adalah catatan peristiwa pengarang yang lahir di masa pergolakan sehingga tak bisa lepas dari pemikiran frase De Bonald dalam buku Teori Kesusastraan karya Renee Wellek dan Austin Warren yaitu “sastra sebagai ungkapan perasaan masyarakat”. Sedangkan sastra bagi aliran kritik Hegel dan Taine adalah bukan cerminan proses sosial semata melainkan intisari dan ringkasan dari sejarah yang terjadi pada zaman karya tersebut dilahirkan. Menurut mereka, seniman menyampaikan kebenaran yang sekaligus juga menjadi kebenaran sejarah dan sosial.

 

Tapi sungguh tak layak mengharapkan adanya eksperimen baru dalam bersastra lantaran mereka sulit menulis akibat peristiwa politik. Tentu pertanyaan yang tepat bagi pembaca sekarang adalah karya seperti apa yang mereka hasilkan sebagai korban politik? Siapa saja penulis pada masa itu selain yang sudah dikenal seperti Pramoedya, Sobron Aidit, atau Martin Aleida? Apalagi Koesalah Soebagyo Toer, salah satu penyunting, dan adik Pramoedya juga memasukkan karyanya di sini, cerpen Desas Desus (h.69).

 

Yang menarik, beberapa karya tak melulu membicarakan peristiwa 1965. Misalnya Sebuah Dialog di Sebuah Makam (h.121) karya Rondang Erlina Marpaung, mantan wartawan Suluh Indonesia yang kini menetap di Swedia. Sebuah Dialog mengisahkan seseorang yang baru ditinggal mati kekasihnya. Dan, membaca kisah yang ditulis bergaya memoar ini kadang tak jadi sebagai ungkapan kehilangan semata. Ada kenyataan hidup yang terbentur masalah paling sensitif di sini: perkawinan beda agama. Sang tokoh dari agama Kristen Protestan sedangkan sang kekasih seorang muslim. Mereka akhirnya bisa menikah dengan pergolakan yang ada di Peking sehingga rekan mereka dari India sampai heran perkawinan kedua pasangan berbeda keyakinan ini bisa terjadi.

 

Sedangkan dalam puisi bagi pembaca sekarang mungkin bakal teringat dengan sajak pamflet ketika membaca Impian dan Harapan (h.50) karya Haryogyo. Berikut kutipan puisinya: Rajawali menukik tajam/ mengusir bayang-bayang menekan/ mengisi impian dan harapan/ yang setiap kali menanti…Sekilas puisi ini biasa saja, tapi berbekal pengalaman historis yang menyertainya jadi “bersuara” karena pernah dibacakan di depan tahanan politik (tapol) di penjara Salemba pada Agustus 1976. Penulisnya, Haryogyo adalah seorang pelukis yang pernah 10 tahun jadi tapol.

 

Baca juga puisi S. Anantaguna (h.128): kenikir daun kenikir/lapar dingin terus mengalir/ dalam sel angin semilir dari pintu terali menghampir …

Puisi yang begitu setia dengan rima ini dapat ditebak mengisahkan pengalaman penulisnya di balik jeruji penjara tapol. Sayang, tak ada keterangan siapa sebenarnya S.Anantaguna meskipun sajaknya cukup bernyali secara artistik. Cerpen Sudjinah, Bersih Lingkungan (h.160) juga cukup menarik dengan mengisahkan hubungan asmara yang terhambat gara-gara calon suami anak seorang aktivis menentang Orde Baru.

 

Meskipun buku ini penting sebagai dokumentasi sejarah penulisan karya yang terbungkam, nyatanya banyak hal mengganggu kenikmatan membaca. Misalnya tulisan seni rupa yang ditulis dengan gaya tulisan katalog, bukan esei naratif seperti Globalisasi Seni Rupa karya Joebaar Ajoeb (h.66). Atau esei yang maksudnya mengomentari kejadian tertentu (Menlu Belanda Bot Masih Plintat Plintut Ibrahim Isa, h.59) sehingga hasilnya mirip reportase saja. Mengapa pada Ibrahim Isa yang menurut biodata penulis masih berkarya tidak diminta tulisan baru atau tulisan lain yang lebih senafas dengan buku ini bukan sekedar mengomentari peristiwa tertentu?

 

Barangkali hal ini terjadi disebabkan tiada lagi karya yang dihasilkan penulisnya (Joebaar Ajoeb sudah meninggal di Bandung 13 Oktober 1966-pen) sehingga hanya karya tersebut yang bisa dimasukkan. Jika problem ini yang terjadi mengapa tak mengambil tulisannya yang lain misalnya dari esei sastra Siti Djamila atau Motjopat? Atau tulisan lain dari Gerhana Seni Rupa (buku dimana tulisan Globlisasi berasal) sehingga dapat ditemukan esei yang lebih bernas, bukan “hanya” reportase pun bergaya katalog yang lebih tepat untuk “iklan” bukan hakikat tulisan sebagai karya yang dikumpulkan ke dalam buku?

 

Memang Sebuah Dialog walau bicara hal lain masih menyisakan posisi sastra sebagai saksi zaman, sehingga bagi pembaca zaman sekarang menggoda untuk mencari referensi sejarah yang berkaitan dengan karya tersebut. Esei Isa mencoba menggugat peneliti sejarah Belanda yang menurut penulisnya tak mengakui kemerdekaan RI yang jatuh pada tanggal 17 Agustus 1945. Mungkin dengan cara lain penulisan gaya cerpen bisa ‘menyelamatkan’ seperti cerpen YB Mangunwijaya, Saran Groot Major Prakoso (Derabat, kumpulan cerpen pilihan Kompas 1999) yang temanya juga tentang peristiwa 1945.

 

Juga pada cerpen Desas Desus karya Koesalah Soebagyo Toer, cerita ini tak jelas menggambarkan kejadian apa yang sedang menimpa Heri, sahabat “aku” sehingga ia menjadi dingin dengan “aku”. Tiada informasi apakah Heri ini terkena musibah politik atau hanya sudah merasa tak sejiwa dengan kawannya lagi. Padahal dengan “modal” pemilihan nama Koesalah sebagai adik Pramoedya, tentu kita bertanya-tanya seperti apa karya Koesalah yang lebih dulu dikenal sebagai penerjemah dan editor itu? (salah satu karyanya adalah terjemahan cerpen Leo Tolstoy dan Kronik Revolusi Indonesia, keduanya diterbitkan KPG).

 

Pemilihan cerpen ini akhirnya menimbulkan pertanyaan: penyunting yang kurang jeli atau memang hanya itu saja cerpen yang dihasilkan Koesalah meskipun ia sendiri termasuk sebagai tim penyunting? Mengapa tidak mencomot nukilan novel Koesalah saja yang manuskripnya sempat dipamerkan pada acara peluncuran buku ini?

 

Keluputan secara editorial ini sadar tak disadari dapat menimbulkan kesan buku ini terjebak antara catatan yang tersisa dari sebuah pergolakan atau sekedar kumpulan karya yang lemah hanya karena kesalahan elementer.

 

Mengumpulkan karya dalam buku ini memang tak mudah lantaran masih ada pengarang menolak karyanya dimasukkan karena trauma, selain banyak karya yang dimusnahkan pemerintah Orde Baru. Apalagi masih ada karya yang tak sempat masuk semisal puisi karya Agam Wispi, A.S Dharta, atau Rumambi yang menurut Martin Aleida gaya penulisannya sempat ditiru penyair seangkatan Taufiq Ismail dan telah mencatatkan tonggak baru dalam sastra Indonesia setelah Angkatan’45, mengacu dari sebuah tinjauan sastra di majalah Budaja Djaja yang ditulis Subagyo Sastrowardoyo.

 

Seyogianya kerja penyuntingan naskah yang meliputi pencarian dan pemilihan naskah adalah bagian dari kerja kritik sastra juga lantaran di dalamnya sudah terkandung proses seleksi. Apalagi maksud dan tujuan penyusunan buku ini adalah menghimpun sejarah yang tersisa karena peristiwa politik. *

Iklan
Posted in: Book Review