Kisah Yang Tak Lagi Masygul

Posted on 20/10/2010

0


Judul: Bulan Lebam di Tepian Toba

Penulis: Sihar Ramses Simatupang

Isi:256 halaman

Penerbit:Kakilangit Kencana (Prenada Media Group), 2010

 

Ketika menerima tawaran untuk membahas buku novel ini hati saya sebenarnya masygul antara mengiyakan atau menolak. Saya khawatir perjalanan pengalaman membaca buku novel ini akan tersandung seperti saya membaca novel-novel yang maunya ditulis dengan menekankan pendekatan pada lokalitas daerah tertentu sebagai titik sentral cerita-pun ditulis oleh pengarang yang sudah tenar sekalipun- kecuali karya-karya Ahmad Tohari atau YB Mangunwijaya.

 

Masygul karena banyak novel yang maunya ditulis dengan seperti itu gagal memikat pembacanya sampai helai halaman terakhir lantaran pengarang seperti asyik sendiri membicarakan hal ihwal kampung halamannya menjadi sekedar “romantisme” belaka sehingga- meminjam istilah Budi Darma dalam kumpulan esainya Solilokui– seperti adanya kurang seimbang antara bakat alam dan intelektualisme (seperti juga yang pernah dilontarkan Subagyo Sastrowardoyo).

 

Nyatanya novel ini tak membuat hati saya masygul. Helai demi helai halaman novel ini saya babat habis dalam beberapa hari saja tanpa ada halangan sama sekali. Catatan kaki yang dibuat penulis malah membantu pembaca di luar Batak untuk menikmati narasi demi narasi yang digulirkan Sihar sebagai penulis. Tapi sebelum membuka pembicaraan tentang lebih jauh mengenai novel ini terbitnya Bulan Lebam di Tepian Toba sungguh unik. Unik karena ia ditulis oleh orang yang tidak lahir di daerah yang dikisahkannya itu. Sang penulis bercerita tentang tanah sukunya, tanah adat orangtuanya- pendek kata ditulis dari generasi muda perkotaan-(maklum penulis dilahirkan dan dibesarkan di kota bukan di kampung seperti yang diceritakannya dalam buku ini) berbekal referensi yang kini mudah tersedia di berbagai buku atau internet-sobat sejati semua penulis-meminjam istilah budayawan Hikmat Darmawan.

 

 

Novel ini dibuka dengan permainan judi Ganda dengan rekannya, Hotman yang pada akhirnya Ganda memertaruhkan surat tanah keluarganya di meja judi. Ganda kalah dan tewas dalam sebuah perkelahian. Kisah kemudian bergulir pada kepulangan Monang, lengkapnya Hamonangan, ke desanya setelah mengalami pengejaran lantaran aktivitasnya sebagai aktivis sebuah pergerakan di kota Jakarta. Monang seorang aktivis politik yang dikejar-kejar pemerintah itu pulang ke kampungnya demi mencari persembunyian baru dan akan kembali jika suasana di kota mulai dirasanya aman. Di kampungnya Monang menemui kabar abangnya, Ganda meninggal. Ganda wafat antara keterlibatannya memprotes Danau Toba yang dicemari pabrik kertas di Tapanuli dengan peristiwa kriminal lainnya. Anehnya sanak keluarga Monang tak mau menceritakan sebab musabab kematian Ganda kepada Monang. Terbetik kabar, Ganda yang penjudi itu memertaruhkan surat tanah warisan keluarganya kepada Hotman. Bahkan ia kalah judi sehingga surat kepemilikan tanah yang menjadi barang taruhan berpindah tangan.

 

Masalah lain yang dihadapi Monang, “si pecundang” (gagal kuliah dan merasa gagal dalam perantauannya) selain kondisi sosial yang pelan-pelan berubah di tanah kelahirannya sendiri adalah menghadapi Tesya-istri abangnya Ganda yang sebenarnya berpura-pura gila lantaran tidak mau dijodohkan dengan pria lain setelah suaminya meninggal. Di tengah-tengah cerita Monang yang kuliahnya di Jakarta terbengkalai hingga ia harus drop out diam-diam mencintai Tesya yang diakuinya sebagai perempuan yang cantik.

 

***

Secara keseluruhan novel ini cukup menarik dengan gaya bahasa realis yang sederhana, tidak berlarat-larat dengan metafora yang membingungkan. Alam dusun Tapanuli dikisahkan penulisnya dengan lancar sehingga membuat pembaca di luar Batak dapat membayangkan pesona alam dusun Tapanuli dengan enak dan menggairahkan.

 

Nampaknya latar belakang penulis yang kebetulan wartawan budaya di sebuah harian terkemuka cukup membantu proses kreatifnya dalam mengolah novel ini menjadi kisah yang fokus pada cerita dan kisah bukan eksperimentasi kecantikan berbahasa yang sialnya banyak menjebak pengarang sastra zaman sekarang (baik juga masa lalu) menjadi keminter jika tak jeli mengolahnya.

 

Sayangnya, kendati novel ini seperti diungkapkan sastrawan Peru Mario Vargas Llosa dalam buku kumpulan surat-menyuratnya yang terkenal, Letters to A Young Novelist “novel yang baik itu memunyai nilai persuasi yang dapat menggoda pembaca hingga helai halaman terakhir” alur dan emosi novel ini datar, bahkan Sihar sebagai penulis kurang menggigit ketika menutup kisah ini dengan terjalinnya hubungan cinta Tesya dan Monang yang sepertinya kurang menggambarkan kejujuran hati Tesya kepada Monang, adik suaminya Ganda sehingga kurang mampu menginspirasi pembacanya.

 

Bahkan ditutupnya kisah ini seolah tak bisa menutup “amanah” penulis langsung secara tersirat :”Bapak Muda, sudilah kiranya engkau mencipta kedamaian dan kejujuran di huta (kampung) ini…”

 

Meskipun demikian novel ini cukup berhasil membangun relasi antara pembaca yang bukan Batak sehingga tidak adanya jarak yang tampak “asyik sendiri” seperti kebanyakan pengarang yang mengambil tema lokalitas daerah. Narasi demi narasi digulirkan dengan lancar dan enak dinikmati sehingga pembaca yang di luar Batak dapat menikmatinya bak menonton sebuah film yang mengambil panorama dan adegan yang indah. Ketidakadanya jarak antara pembaca dan novel ini boleh dicatat sebagai satu kelebihan novel ini dibandingkan novel-novel sejenis yang “terlalu asyik” dengan panorama lokalitas daerah yang diambilnya sebagai setting. Pendek kata penulis berhasil menjadikan novelnya yang tak lagi memasygulkan pembacanya.*

Iklan
Posted in: Book Review