Kiprah Musisi Indonesia dalam Segurat Catatan

Posted on 20/10/2010

0


Judul Musisiku

Penulis Asriat Ginting, Chr Nasution, Denny Sakrie, Fauzi Djunaedi, dkk

Penyunting Denny Sakrie

Isi vii+297 halaman

Penerbit Republika, 2008

Sejarah musik Indonesia cukup panjang dan menyimpan segudang musisi-musisi berprestasi di bidangnya yang mengharumkan nama bangsa. Nama-nama seperti Jack Lesmana, Harry Roesli, Guruh Soekarno Poetra, Koes Plus, God Bless, Titiek Puspa, Benyamin.S dan lain-lain adalah nama-nama yang mewarnai kiprah sejarah musik Indonesia. Sayangnya dokumentasi perjalanan sejarah mereka di sini boleh dibilang tidak lengkap jika enggan dikatakan tidak ada. Di samping rekaman-rekaman yang dihasilkan mereka sudah tidak dirilis lagi sungguh sayang jika sejarah musik kita yang cukup tua ini tiada yang mencatatnya.

Buku bertajuk Musisiku (konon judul ini diberikan oleh Budiarto Shambazy, wartawan Kompas) ini bermaksud menyimpan segurat catatan perjalanan musisi Indonesia lengkap dengan catatan diskografi album rekaman yang dihasilkannya. Dihiasi gambar sampul album musisi yang diulasnya, tulisan dalam buku ini semuanya berasal dari rubrik Oldies Goodies yang dimuat di harian Republika setiap hari Senin. Rubrik ini memuat tulisan tentang artis musik perjalanan karier beserta rekamannya mulai dari dasawarsa 1960-an hingga sekarang.

Meski tidak urut secara kronologis dengan berbekal 40 entri nama, buku yang disunting oleh pengamat musik Denny Sakrie ini terbilang lengkap mendokumentasikan perjalanan sejarah musik kita. Tak hanya nama musisi, ajang Lomba Cipta Lagu Remaja (LCLR) yang diselenggarakan radio Prambors pun tak luput dari pembahasan lantaran dari lomba tersebut terbukti telah banyak menorehkan nama-nama besar dan lagu-lagu hit yang dikenang sepanjang masa dalam perjalanan musik Indonesia.

Buku ini dimulai dari nama Bing Slamet (1927-1974), sebagai nama yang dianggap tertua dalam buku ini adalah sosok seniman komplet yang dikenal sebagai komedian dan musisi yang telah melahirkan tak kurang sebanyak 20 album rekaman semasa hidupnya. Pengagum komedian AS Bing Crosby ini memulai kariernya antara kurun waktu 1942-1945 sebagai penghibur di depan corong radio menghibur para pejuang Indonesia. Kariernya di bidang tarik suara terlecut ketika memasuki dunia radio antara lain di RRI ia banyak menyerap ilmu dari pengalaman pemusik keroncong tenar seperti M Sagi, Soetedjo, Sjaifoel Bachrie, dan Ismail Marzuki.

Buku ini uniknya juga menyimpan nama-nama yang nyaris terlupakan dalam sejarah musik kita. Misalnya Sylvia Saartje, sosok penyanyi rock wanita pertama Indonesia jauh sebelum era Nicky Astria, Nike Ardilla, Yossie Lucky, Ita Purnamasari, Lady Avisha, dan Cut Irna melejit di dasawarsa 1980-an. Dalam kariernya Saartje disebut-sebut sebagai pembuka jalan bagi lady rockers lainnya di pentas musik nasional. Wanita yang di masa belianya lihai melantunkan lagu-lagu blues, Led Zeppelin, dan Pink Floyd (ia pernah menyanyikan lagu The Great Gig in The Sky dari album Pink Floyd Dark Side of The Moon) ini sudah menghasilkan 10 album rekaman yang diawali dengan sukses album perdananya Biarawati di tahun 1978. Saartje yang juga pernah membintangi film (antara lain Gerhana di tahun 1985) ini mengawali kariernya sebagai vokalis grup band Tornado di usia 11 tahun.

Nama lain yang nyaris terlupakan lagi adalah grup Clover Leaf (hlm.105). Grup yang dilahirkan di Belanda ini adalah titik awal dan cikal bakal karier Achmad Albar sebelum membentuk God Bless tahun 1973 di Indonesia. Sangat jarang diketahui sebelum beken dengan God Bless, rocker gaek yang pernah tersandung kasus narkoba dan harus mendekam di penjara itu sudah terlebih dahulu mencetak hits di luar negeri tatkala bersekolah di Belanda. Kiprah grup ini berkibar antara rentang 1968-1972 dan sempat merilis lagu-lagu hit seperti Oh What A Day dan Such A Good Place yang berkibar di negeri kincir angin itu.

Nama lain lagi yang bisa disebut adalah Mogi Darusman (hlm. 237). Sosok penyanyi yang masih sepupuan dengan politikus Marzuki Darusman dan pemusik yang kini menjadi pengurus Yayasan Karya Cipta Indonesia (YKCI) Candra Darusman ini adalah penyanyi balada revolusioner yang lagu-lagunya sering menuai protes dan pencekalan di masa rezim Soeharto. Lewat lagunya yang bernuansa kritik sosial namanya sampai kini disejajarkan dengan Harry Roesli, Gombloh, Leo Kristi, dan Iwan Fals. Agak mirip dengan Achmad Albar yang mengawali karier bermusiknya di luar negeri, Mogi yang meninggal tahun 2007 karena stroke ini juga mengawali kariernya di Eropa. Ia merilis single Born In A Second Time yang dirilis di Jerman dan Belanda pada 1969. Lewat lagu-lagunya yang sarat dengan kritik sosial Mogi sempat mendekam di Polsek, Senayan selain ia sendiri pernah dicekal. Pelantun lagu Aje Gile (1979) dan Perek Perek (1986) ini menghabiskan masa kecil dan remajanya India, Amerika, dan Eropa.

Nama lain yang nyaris dilupakan lagi adalah Barong’s Band, sebuah band rock yang menjadi cikal bakal bermusik Eros Djarot sebelum merilis album masterpiece-nya, soundtrack Badai Pasti Berlalu (1977). Band ini terbentuk di Jerman oleh sekelompok anak muda Indonesia yang sedang belajar di Jerman.

Kiprah lain yang tak bisa dilupakan adalah festival LCLR yang diselenggarakan Radio Prambors sejak 1977 (hlm. 231). Ajang lomba ini dianggap mengukir sejarah baru dalam musik pop Indonesia. Disebut sejarah baru karena dari lomba ini terjaring lagu-lagu seperti Kidung dan Lilin-Lilin Kecil yang mempunyai karakter berbeda dengan musik pop yang merajai industri rekaman dekade 1970-an. Waktu itu era musik Indonesia yang didominasi Koes Plus, Favourites Group, Panbers dan The Mercy’s menurut budayawan Remy Sylado telah terjadi pendangkalan. Lewat LCLRlah lahir pencipta-pencipta lagu handal yang memberi warna perubahan dalam musik pop Indonesia.

Meskipun terbilang lengkap buku ini tak luput juga dari kealpaaan. Misalnya di halaman 285 bagian Iwan Fals (Dengarkan…Suara) tidak disinggung sedikitpun metamorfosis perjalanan musik Iwan dari penyanyi country balada ke musik rock yang terjadi pertama kali pada album 1910 (1988) yang musiknya digarap Ian Antono. Hal ini juga berlanjut pada album Mata Dewa (1989) yang musiknya masih digarap oleh Ian Antono, pentolan God Bless itu. Kealpaan lain adalah nama kontributor penulis tidak dicantumkan di awal atau akhir tulisan sehingga pembaca tidak mengetahui tulisan siapa yang dimuat dalam buku ini. Padahal buku ini dikerjakan secara keroyokan dari sebuah tim penulis yang tergabung dalam Komunitas Pecinta Musik Indonesia (KPMI).

Namun terlepas dari kekurangannya buku ini dapat dipandang sebagai ikhtiar mulia mencatat perjalanan sejarah musisi kita secara lengkap dari masa ke masa.*

Iklan
Posted in: Book Review