Kembalinya Si Pendongeng Betawi

Posted on 20/10/2010

0


Judul Gambang Jakarte

Penulis Firman Muntaco

Pengantar JJ Rizal

Penerbit Masup Jakarta, 2006

Isi xli + 338 halaman

Firman Muntaco (1935-1993) adalah salah satu sastrawan Indonesia yang konsisten menggunakan dialek bahasa Betawi dalam karyanya. Tak seperti Aman Dt. Madjoindo (Si Doel, 1936) atau Pramoedya Ananta Toer (Cerita dari Jakarta, 1957) yang “hanya” menggunakan “aroma Betawi” sebagai latar atau dialog, cerita Firman (selanjutnya disebut FM) diakui lebih meresap ke dalam geliat kehidupan masyarakat Betawi.

Selain lebih meresap dibandingkan Aman “Si Doel” (yang masih terasa Padang karena penulisnya kelahiran Padang sehingga Aman hanya memasukkan dialek Betawi ke dalam dialog, tidak sekaligus kepada narasinya yang sebetulnya masih terasa sedikit “ke-Melayu-Melayu-an”), ia juga gigih membawa istilah dan dialek masyarakat Betawi sehari-hari yang kebanyakan hanya digunakan dalam dialog saja.

Seperti hendak menyapa kembali pada publik, Gambang Jakarte kembali terbit dalam kemasan luks. Tak hanya luks, terbitan barunya ini pun jadi gemuk lantaran kesatuan dari buku berjudul sama yang jilid pertamanya diterbitkan PT Suluh Indonesia (1960) dan jilid duanya diterbitkan Pantjaka Djakarta (1963).

Sapardi Djoko Damono saja malah menyebut karya-karya FM termasuk genre yang sulit, yaitu humor. Satu hal yang masih jarang disentuh kebanyakan sastrawan kita, pun sampai sekarang- yang kebanyakan bermain di tingkat metafor guna mencapai prestasi literer.  Muatan sketsa humornya mungkin sedikit mengingatkan kita pada kolomnis dan sastrawan Betawi macam Mahbub Djunaidi, atau Umar Nur Zain yang kondang dengan serial Ny.Cemplon di harian Sinar Harapan (1980-an) dan berlanjut di Suara Pembaruan pada 1990-an. Seperti halnya Aman, Pramoedya, dan SM Ardan, Mahbub dan Umar masih mengungkap cerita Betawi dalam bahasa Indonesia, tak sampai “merasuk hingga ke tulang sumsum” seperti FM.

Sebutlah cerpen Calon Mantu, Bagaimana?, atau Pesta Jembel. Dari cerita-cerita tersebut tampak FM memiliki empati yang dalam pada orang-orang strata masyarakat bawah sebagai “potret orang-orang bernasib konyol” yang diolah dalam humor. Sebutlah Calon Mantu (h.71) mengisahkan Idris alias “Deris Bacot” karena pintar bicara dan merayu ketiban sial menghadapi calon menantunya yang setiap ketemu merengek minta dibelikan hadiah. Sedangkan dalam cerpen Bagaimana? (h.265) mengisahkan Jali, jejaka tua yang terpaksa dijodohkan orangtuanya lantaran tak kunjung menikah di usianya yang sedang merambat 40 tahun. Memang cerpen ini hanya mengisahkan secuil problem orangtua Jali yang malu anaknya belum menikah. Meski hanya “secuil” sejatinya Bagaimana? masih kontekstual jika dibaca sekarang, mengingat “kebiasaan” orangtua zaman sekarang umumnya masih malu anaknya belum menikah di usia yang cukup matang.

Yang menarik tak hanya keseharian penduduk Betawi asli saja ditampilkan FM. Dalam cerpen Bandeng Pasar Ikan (h.297) kita dapat menemui tokoh peranakan Tionghoa Swee An sehingga tepatlah kita menyebut FM sebagai penulis yang menghargai keberagaman kultur di Jakarta. Cerita lain yang sejenis adalah Bandeng dan Kue Keranjang (h.189) dan Ce-Ni-Ce-Pay (h.149). Ketertarikannya mengangkat orang peranakan Cina memberi bukti bahwa ceritanya bukan sekadar humor melainkan kaya dengan semangat pluralisme yang tinggi.

Kritik sosial pun ada dalam cerpen Kongkalikong (h.91). Sanen, seorang pejabat tinggi di sebuah kantor dikenal begitu hebat menghimbau kepada bawahannya untuk “anti korupsi”. Sialnya, di akhir cerita ulahnya menerima sogokan tersiar di koran sehingga dari cerita ini memerlihatkan FM jeli merespons ketimpangan sosial yang terjadi di masyarakat kelas atas. Tigabelas tahun lalu kepergian FM memberi bukti bahwa bermain dengan humor dalam bingkai lokalitas pun tak kalah asyik dengan bentuk ekperimen sastra lain karya penulis kita yang rata-rata berasal dari Barat.

Tidak Adil

Meskipun FM menurut sastrawan yang juga penulis cerita Betawi SM Ardan diakui memerkaya kesastraan Indonesia, kiprahnya seperti kurang diakui kritikus sastra walau HB Jassin pernah menyebut karyanya sebagai warisan tak ternilai untuk Indonesia. Sebagai bukti namanya tak satupun tercantum dalam buku-buku entri sastrawan dan karyanya macam Bibliografi Sastra, Leksikon Sastra Indonesia Modern, atau Buku Pintar Sastra Indonesia (kebetulan ketiganya disusun Pamusuk Eneste).

Hal demikian terjadi mungkin karena dalam karyanya ia jarang menggunakan bahasa Indonesia asli sehingga FM menjadi “korban” dalam “kekuasaan rezim” penerbitan sastra yang kala itu dikuasai Balai Pustaka. Pada waktu itu cerita FM disamaratakan dengan buku-buku kategori “roman picisan” yang dikarang penulis peranakan Tionghoa lantaran ia menggunakan bahasa “pinggiran”- mirip tulisan yang dimuat media massa waktu itu macam Star Weekly, Sin Po, dan Ken Po. Kala itu periode 1950-an untuk mendapat predikat sastra, cerpen dan puisi harus pernah dimuat dalam majalah sastra Kisah atau Djaman Baroe, dimana cerita FM notabene tak mungkin digolongkan ke dalam sastra karena bahasa Betawi pinggirannya. Itulah yang mungkin membedakannya dengan SM Ardan juga M. Balfas yang masih dimasukkan ke dalam entri kesastraan Indonesia.

Meskipun dengan kejadian ini seolah tak adil memosisikan kepengarangan FM, hal demikian nyatanya juga terjadi pada Umar Nur Zain, penulis sketsa sosial  di era 1980-an yang kondang dengan serial Cemplon. Padahal selain Cemplon, Umar Nur Zain sebetulnya rajin menghasilkan novel serius seperti Rissa, dr. Anastasia, atau Piccadilly yang kebetulan semuanya diterbitkan Pustaka Grafikatama Jaya- penerbit yang dikelola almarhum Satyagraha Hoerip. Serial Cemplon (yang juga kaya humor) pun tak sampai menggunakan aroma Betawi sekental FM lantaran ia lebih masuk ke dalam cerita metropolitan. Pertanyaan mengusik apakah humor tak layak dianggap sastra? Wallahualam. Nampaknya masih ada pertanyaan yang seharusnya dijawab para pemawas sastra kita…

Mandeg

Belum lama, harian Sinar Harapan mencoba membangkitkan kembali penulisan sketsa sosial ke dalam bentuk cerpen lewat serial Si Cebleng besutan H. Isyanto. Meskipun serial Si Cebleng cukup sejenaka Gambang Jakarte, entah kenapa dalam waktu tak begitu lama serial tersebut dihentikan sehingga pupuslah harapan masyarakat pada kembalinya cerita Betawi.

Belum lama berselang, sebelum harian Sinar Harapan terbit kembali tahun 2002 ada Seno Gumira Adjidarma dengan tokoh Sukab dalam kolom Surat dari Palmerah-nya di majalah Jakarta Jakarta (1990-an). Tapi seperti halnya Mahbub dan Umar, Seno pun tak seutuhnya menggunakan idiom Betawi asli, apalagi Surat dari Palmerah pun lebih banyak berupa kolom ketimbang cerita pendek yang bernuansa urban-kosmopolit.

Harapan mengangkat kembali khasanah sastra Betawi sempat bersemi pada karya-karya Nur Zen Hae, penulis yang baru saja dinobatkan sebagai Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta. Tapi  Zen Hae yang notabene kelahiran 1970-an lebih banyak membuat puisi. Sedangkan cerpennya yang terkumpul dalam Rumah Kawin (KataKita, 2005) sangat sedikit-jika enggan dikatakan tak ada- bermain dalam lokalitas Betawi.

Khasanah sastra Betawi akhirnya mandeg sehingga bibit-bibit yang tumbuh belakangan hanya sempat melahirkan letupan kecil saja. Perannya tergeser dengan cerita atau kolom tentang Jakarta yang bernuansa kosmopolit. Sebutlah (dari perkembangan genre ini) salah satunya yang sempat mencuat (dan kemudian tenggelam) adalah Sengklirip di majalah Djakarta! sebelum bermalih rupa menjadi majalah gratisan.

Bukti lain, berbagai sanggar kesenian Betawi, seperti salah satunya yang digiatkan almarhum Firman Muntaco sejak tahun 1975 selalu mati-matian untuk survive. SM Ardan pernah menyebut Firman lebih sering nombok dengan “Sanggar Betawi” yang digiatkannya. Untung kesenian Betawi masih melahirkan seniman-seniman kuatnya seperti almarhum Benyamin.S dan Rano Karno yang sukses mengangkat kembali cerita Si Doel ke dalam bentuk sinetron. Nama lain seperti Harry de Fretes dengan sinetron Lenong Rumpi-nya, Mandra, dan beberapa nama lain memang giat menghidupkan kembali seni Betawi dengan memadukan unsur kontemporer. Tapi harus diakui mereka belum cukup kuat memberi pengaruh apalagi berkarakter sekuat pendahulunya.

Diterbitkan kembalinya buku ini memberi sinyal positif kepada generasi sekarang untuk mengenali kekayaan sastra kita yang nyaris hilang, khususnya khasanah daerah Betawi akibat politisasi bahasa. Sayang, edisi baru buku ini masih menyimpan kelemahan terutama dalam glossary yang dikumpulkan David Kwa dan SM Ardan untuk membantu kita memahami istilah Betawi pada zamannya (cerpen dalam buku ini ditulis era 1950-an). Beberapa kata misalnya “masup” (cerpen Bagaimana?) atau ”beturu kambrat” (Cherry Pink, h.229) tak ditemui artinya.

Terlepas dari kekurangannya penerbitan kembali Gambang Jakarte memberi arti bahwa dalam sejarah sastra Indonesia yang tua ini telah terjadi dosa besar-jika enggan dikatakan menyisihkan- kiprah seorang penulis besar yang sebenarnya sudah memerkaya wawasan budaya kita. *

Iklan
Posted in: Book Review