Jenaka Berbalut Sarkas

Posted on 20/10/2010

0



Sinar Harapan,12 Juni 2010.

Perkenalkan, Eko. Lengkapnya Eko S. Bimantara. Komikus kelahiran Jakarta,30 Mei 1988 ini memang sedang bercanda. Tapi kalau kita simak candaannya tak sekedar bercanda. Ada sindiran dan tentu saja nuansa sarkasme yang dibalut dengan cergas. Komikus yang saat ini masih menempuh studinya di Universitas Negeri Jakarta (UNJ) di Fakultas Seni Rupa memang beda.

 

Ia memang berlaku konyol dalam kedua bukunya yang belum lama terbit, Guru Berdiri Murid Berlari (terbit Desember 2009) dan Kompilasi Komik Rada Lucu (KRL, terbit Mei 2010). Walau konyol tapi banyak pesan tersimpan dalam komik–komiknya itu. Dan kesemuanya berhasil tersaji dengan lugas tanpa pretensi mengarifi apalagi menggurui. Ada pencapaian tentang upaya bersikap kritis terhadap masalah di sekitar dalam komik-komiknya. Pendek kata, ada kejenakaan berbalut sarkas dalam komiknya. Gambarnya sederhana dan masih berkubang dalam kekonyolan, resep yang rata-rata dicapai komikus muda kita belakangan ini. Meski kekonyolan bukan hal yang baru dalam komik kita tapi tetap ada sesuatu yang ditawarkan komikus yang sehari-harinya bergiat di komunitas seni rupa bernama Serrum ini.

Tak ada tokoh sentral dalam komik-komik Eko. Cerita-ceritanya pendek-pendek saja, hanya terbagi dalam empat panel ringkas, sesudah itu, selesai. Dan ia memang tak sedang menciptakan sosok ala Mickey Mouse baru seperti komik-komik kebanyakan. Semuanya arbitrer-mana suka-dan memang Eko sedari awal memang tidak bermaksud menciptakan sosok bahkan tokoh hero sekalipun.

 

Oleh penerbitnya, Gradien Mediatam dari kota gudeg Yogyakarta kedua bukunya langsung optimis dicetak masing-masing sebanyak 5000 eksemplar. Dibanderol masing-masing seharga Rp. 15.000 perak saja per komik, ihwal “penemuan” penerbit terhadap karya komiknya pun terbilang unik. Konon mereka kepincut tatkala menyaksikan komik-komik Eko ini ditampilkan di situs jejaring sosial Facebook walau semula kedua komik ini beredar fotokopian secara indie dari tangan ke tangan. Dalam situs ini terjaring penggemar sebanyak 3448 fans sehingga membuat pihak penerbit percaya komik Eko bakal disentuh peminat tatkala dicetak dan ditebarluaskan ke dalam bentuk yang lebih “terhormat” bernama buku.

 

Semuanya dikerjakan dari jarak jauh lewat e-mail dan pos surat. Bahkan saya sendiri sampai sekarang belum pernah bertemu muka dengan pihak penerbit,” tutur Eko, pemuda ramah berkulit putih berdarah Jawa yang lahir dari latar belakang urban Jakarta.

 

Pada buku pertama yang diberi tajuk “Glitik Sosial Dunia Pendidikan Sekitar Kita” Eko memerlihatkan gambar seorang guru yang marah-marah tatkala menyaksikan dirinya disebut galak oleh seorang muridnya di kelas. Setelah anak yang mengaku menuliskannya disuruh maju ke depan untuk menghapusnya, bukan tulisan “galak’ yang dihapusnya, melainkan ditambahkan kata “gila” sehingga jadi “Pak Agus Gila”. Sebuah guyon segar yang sontak memancing tawa kita sebagai pembaca. Lucu, ringkas dan sederhana, itulah resep yang dikeluarkan Eko tatkala meramu komik-komiknya yang mengaku ide-idenya banyak didapat dari hasil diskusi dengan teman-teman komunitasnya di Serrum.

Pada panel lainnya lagi Eko memerlihatkan pertengkaran seornag bapak dengan anaknya. Sang bapak ingin anaknya langsung kerja sedangkan sang anak ingin luliah dulu. Sang bapak marah karena sekolah hanya buang-buang duit saja. Tapi tatkala ketika mereka menyaksikan iklan televisi acara “The Masker” (plesetan dari “The Master”) dimana di situ biasanya orang menjadi “kelinci percobaan” sang paranormal atau magician seperti Deddy Corbuzier untuk dihipnotis atau berbuat apa saja menurut kehendak magician, sang bapak mengusulkan anaknya ikut acara itu saja supaya “langsung dapat duit”. Hal itu langsung disetujui anaknya. Aha, disini tanpa berpanjang lebar Eko tengah mengangkat budaya masyarakat kita yang mudah “termamah” iklan televisi. Ikut program begituan nyatanya lebih penting daripada sekolah!

 

Sedangkan pada buku kedua (kompilasi KRL) Eko memerlihatkan sosok Superman yang mampu menghentikan kereta KRL yang relnya terputus. Walau mampu menolong, ia tak bisa menolong orang-orang yang duduk di atas KRL karena mereka tetap terjatuh walau sudah ditahan sekuat tenaga oleh sang superhero!

 

Meskipun masih berkubang dalam arena “kekonyolan”, resep jitu yang konon masih dipakai duet Benny & Mice, komikus kondang dari komik strip harian Kompas Minggu, “Benny & Mice”, jika diperhatikan kedua komik Eko bukan komik anak-anak. Memang lucu dan sedikit berbau “kekerasan” yang mengingatkan kita pada komik Crayon Sinchan. Tapi di situ ada kritik sosial yang mendalam dilontarkan komikusnya. Apalagi jika kita tahu maksud komik KRL (Komik Rada Lucu) di salah satu bagiannya ada maksud edukasi dari komikus kepada penumpang kereta listrik KRL untuk tidak naik ke atap kereta. Oleh keponakan sastrawan Yanusa Nugroho ini, KRL dimaksudkan sebagai upaya memberikan kritik atas permasahan yang terjadi di sekitarnya, khususnya di Jabodetabek. Makanya, jika kita menyaksikan komik-komik Eko terkesan ‘Jakarta banget’. Tak pelak lagi dunia komik kita telah mencatat salah satu perkembangan yang patut dicapai yang semoga dapat terus menggairahkan perkembangan komik kita dari amsa ke masa. Komik-komik Eko berhasil “menggugat tapi tetap menggigit”.

 

Selamat buat Eko. Ditunggu karya selanjutnya yang lebih punya visi dan makna. Sekali lagi, selamat!


 

 


Iklan
Posted in: Comic Review