Film “Anak-Anak Borobudur” Ketika Kejujuran Dipertanyakan

Posted on 20/10/2010

0


 

Amat, seorang anak V SD di sebuah desa dekat Candi Borobudur diikutsertakan oleh sekolahnya untuk mengikuti lomba membuat patung yang diadakan di tingkat propinsi. Kendati dikenal berbakat dan terampil membuat patung (beberapa patung-patungnya hendak dikoleksi pejabat-pejabat desa), sayang patung untuk lomba tingkat propinsi itu tak kunjung ia selesaikan.

Tatkala lomba sudah mulai dekat, ayah Amat, pemahat dan pematung yang melakukan puasa bicara setelah ditinggal istrinya (diperankan Adi Kurdi) menyelesaikan patung yang dibuat Amat. Masalah muncul tatkala Amat berhasil keluar sebagai pemenang pertama lomba tersebut. Di atas mimbar Amat dengan jujur mengatakan tidak pantas menerima hadiah karena patungnya diselesaikan sang ayah. Murid-murid, Kepala Sekolah, guru-guru, Camat, Bupati, dan Lurah desa geger ketika Amat memutuskan menyerahkan kembali hadiah tersebut. Kadung malu, Kepala Sekolah menskors Amat dengan tidak boleh masuk sekolah karena dianggap telah memalukan nama sekolah, pun desa tempat Amat tinggal.

Amat pun dijauhi teman-temannya. Ayah Amat yang bekerja di sebuah pusat pengrajin patung pun diberhentikan. Hanya beberapa teman dekatnya seperti Siti dan Yoan yang masih berhubungan dengan Amat walau Yoan oleh neneknya (diperankan Nungki Kusumastuti) diberitahu untuk menghindari Amat karena dianggap berlaku “kurang ajar” kepada orangtua.

Amat sendiri bersikukuh dengan kejujurannya. Agak kontradiksi dengan ayahnya yang ‘puasa ngomong’ sehingga mirip orang bisu, Amat cenderung bersifat ceplas ceplos dan berkata jujur walau dalam kasus ini resikonya ia diskors pihak sekolah. Tak hanya ceplas ceplos Amat pun juga berlaku kritis tatkala menegur ayahnya yang ‘puasa ngomong’ kalau seorang anak itu tidak cukup hanya cuma diberi makan saja, tapi juga perlu diberi nasihat. Adegan ini digarap dengan sangat bagus dan terasa tidak aneh oleh sutradara : seorang anak menegur orangtuanya yang dalam hal ini berlaku salah.


Titik terang kepada problem si Amat muncul tatkala seorang wartawan (diperankan Butet Kartaredjasa) membela kejujuran Amat dan menulis di sebuah koran daerah bahwa apapun yang terjadi Amat tetap pantas menerima hadiah bukan semata karena hasil patungnya yang memang indah, melainkan kejujurannya. Lantas di sini nilai-nilai kejujuran dipertanyakan. Sesuai tagline film ini “salahkah kita kala berkata benar?” film ini memertanyakan kejujuran yang diwakili tokoh utama, si Amat: pantaskah ia menerima hukuman walau ia berkata benar adanya? Pantaskah seseorang berkata jujur walau ia lalu dihukum karena kejujurannya?

Film ini juga didukung tokoh-tokoh lain yang menghiasi cerita sehingga film ini tidak terasa hambar lantaran berfokus pada problem yang dialami Amat saja. Misalnya tokoh Mbak Min yang punya anak cacat, bekerja sebagai penjaga toko cindera mata, dan sesekali menjadi penari dalam acara-acara daerah, tokoh seorang ibu yang tidak waras karena kehilangan anaknya dan cenderung mengaku anak orang lain sebagai anaknya, juga sikap Pak Camat dan Pak Lurah yang kikuk dan selalu berkata “asal atasan senang” tatkala berhadapan dengan Ibu Gubernur (Christine Hakim) yang terharu dengan kejujuran Amat. Tokoh-tokoh lain seperti Siti dan Yoan yang dianggap guru-guru Amat sebagai “pacar” Amat karena kedekatannya juga membantu cerita film ini sehingga menjadi natural, khas dunia anak-anak.

Satu hal yang tak luput dilakukan sutradara adalah menyelipkan humor yang muncul tatkala Amat menggoda Siti yang dihadiahinya patung Siti yang menurut Siti tidak mirip dengannya. Hal demikian mengingatkan kita pada karya-karya sukses Arswendo terdahulu seperti sinetron “Keluarga Cemara” atau “Satu Kakak Tujuh Ponakan” yang dahulu sempat berjaya di televisi.

Kendati tergarap dengan baik, bukan berarti film ini tanpa cela. Arswendo ternyata melakukan sedikit kealpaan. Kealpaan terjadi tatkala ia “menghilangkan” tokoh Mas Joko suami Mbak Min (Djenar Maesa Ayu) tanpa alasan yang jelas setelah sedikit bersitegang mengapa mereka dianugerahi anak yang cacat. Mungkin ada maksud sutradara untuk menyederhanakan plot cerita agar supaya cerita tidak terlalu melebar pada masalah yang beredar pada tokoh-tokoh lain di luar tokoh utama (Amat) sehingga salah satu tokoh pembantu (dalam film yang semula sempat beredar di media massa dengan judul “Pemahat Borobudur”) ini dengan “sangat terpaksa dihilangkan”.

Walau begitu saja “dihilangkan” karena tokoh tersebut tidak terlalu penting, rasanya ada kejanggalan yang sepertinya disengaja sehingga rada sedikit mengganggu keindahan cerita yang sudah terbangun dari awal. Tapi tak apa. Bukankah tiada gading yang tak retak?

Walau demikian secara keseluruhan film anak-anak ini digarap dengan baik oleh Arswendo Atmowiloto yang berperan sekaligus sebagai sutradara dan penulis cerita. Sebagai sebuah film anak-anak “Anak-Anak Borobudur” tergarap dengan lancar. Para pemain anak-anaknya seperti Adadiri Tanpalang sebagai Amat-sang tokoh utama- bermain natural dan cukup meyakinkan sebagai bocah jujur yang suka bicara ceplas-ceplos—satu hal yang jarang di masyarakat Jawa Tengah yang cenderung segan dan maaf, (terlalu) ewuh pakewuh kepada orangtua.

Kendati baik, pesan moral yang ingin disampaikan film “Anak-Anak Borobudur” ini sayangnya kurang terkomunikasi dengan baik. Ini terbukti dengan tidak beredarnya film ini (entah kenapa hanya ditayangkan dalam acara-acara terbatas seperti Jiffest 2007 dan program film Kineforum di TIM yang diselenggarakan Dewan Kesenian Jakarta) di jaringan bioskop terbesar di negeri ini, yaitu jaringan bisokop 21. Padahal terlepas dari kekurangannya film ini cukup memenuhi syarat sebagai tontonan keluarga yang menghibur.

Mudah-mudahan dalam waktu dekat film ini juga diproduksi dengan format lain, misalnya diedarkan dalam bentuk DVD atau VCD sehingga dapat menjangkau masyarakat. Hadirnya film ini cukup mengisi kekosongan diproduksinya film anak-anak yang bermutu di tanah air yang relatif jarang.

Cerita yang lancar, dialog yang tangkas, dan para pemain yang natural membuat film ini sungguh layak ditonton keluarga-sasaran yang hendak diserap Arswendo untuk film ini. Tanpa sengaja mengarif-arifi diri atawa berkesan menggurui dengan menyelipkan pesan moral tertentu, film ini sudah berbicara sendiri bahwa kejujuran-apapun kesulitannya- perlu ditegakkan di zaman sekarang tatkala nilai kejujuran nampak terasa semakin mahal saja harganya. *

 

Judul : “Anak-Anak Borobudur :

Salahkah Kita kala Berkata Benar”

Pemain: Adadiri Tanpalang, Acintyaswati, Adi Kurdi, Butet Kartaredjasa, Lani Regina, Nungki Kusumastuti, Djenar Maesa Ayu, Christine Hakim

Durasi: 104 menit

Sutradara/skenario/cerita: Arswendo Atmowiloto

Produksi: Atmo Adamael Film, 2007.

Iklan
Posted in: Film Review