2 Komik Lala

Posted on 20/10/2010

0


(majalah VISUAL ARTS edisi September 2010)

Curhat dalam gambar’ atau ‘graphic diary’ mulai diakui sebagai sebuah genre baru dalam komik Indonesia. Genre yang dipelopori oleh doktor ITB Tita Larasati dalam Curhat Tita (Curhat Anak Bangsa, Maret 2008) sebagai pelopor genre ini mulai punya penerus yaitu Cerita Si Lala (penerbit Curhat Anak Bangsa, terbit April 2009) dan Duo Hippo Dinamis: Tersesat di Byzantium (penerbit B First grup Bentang Pustaka, terbit Mei 2010) dari komikus yang kebetulan (juga) perempuan, Sheila Rooswitha Putri alias Lala. Meski keduanya berjalan dalam genre yang sama, juga penerbit yang sama (Curhat Anak Bangsa) dan juga isinya sama-sama ‘curhat’ ke dalam bentuk gambar arus penceritaan Tita dan Lala sungguh berbeda.

Buku komik pertama, Cerita Si Lala diawali dengan cerita “Gagal ke Jerman” ‘curhat’ Lala yang gagal melanjutkan studi ke Jerman karena visanya ditolak. Lala akhirnya menggambar pengalaman masa sedih dan kecewanya selain ia menggambar panorama kota Jerman yang diambil dari buku-buku yang dimilikinya sebagai ‘obat’ penghilang kecewa Cerita-cerita kemudian berlanjut pada kehidupan Lala semasa menjadi pengantin dan jalan-jalan bersama sanak familinya ke berbagai kota.

Kalau Tita memilih arus penceritaan yang linier atau datar-datar saja dengan gambar yang bernuansa sketsais sehingga curhatnya terkesan sangat personal, Lala justru sebaliknya meledak-ledak dengan kejutan-kejutan dan nuansa komikal yang menggelikan dengan maksud bercerita sehingga mampu mengulum senyum pembaca. Tak hanya itu, pembaca dibawa pada ‘curhat’ kesehariannya yang tak hanya berputar pada kerabat sanak saudara Lala dan suaminya saja (Fajar alias Ayi), melainkan juga pada kedua anjing piaraannya. Malah kedua anjing piaraannya diberi ‘space’ atau ruang untuk bercerita pula dengan dialog dan gambar-gambar yang lucu.

Pada buku komik kedua, Duo Hippo Dinamis:Tersesat di Byzantium kali ini Lala berkesempatan menggambarkan curhat kedua kawan perempuannya yang dijuluki ‘duo hippo dinamis’ lantaran mereka gemuk bak kuda nil. (‘hippo’ dari kata ‘hippopotamus’ yang artinya ‘kuda nil’) Pada buku yang dibanderol penerbitnya sebagai “Graphic Travelogue” (Catatan Perjalanan dalam bentuk gambar) pertama di Indonesia ini kita menyaksikan petualangan pengarang Trinity dan Erastiany tatkala menempuh perjalanan jauh sampai ke Turki. Membaca buku ini kita teringat oleh komik yang sebenarnya juga bergenre “graphic travelogue” yang berhasil mencatat prestasi seni prestisius karya Joe Sacco, Palestine (pernah diterbitkan DAR! Mizan pada 2004). Bedanya Tersesat di Byzantium penuh dengan adegan-adegan jenaka yang memancing tawa sedangkan Palestine penuh gambar detil nan suram.

Buku Tersesat mengisahkan keseharian kedua perempuan “pengangguran” yang hobinya jalan-jalan, berenang dan makan-makan ke sebuah kota di Turki. Kisah petualangan mereka tak hanya dinikmati berdua. Lewat perjalanan yang melelahkan dan kadang bikin malu (bayangkan mereka berdua telanjang di sebuah tempat pemandian umum Turkish Bath di mana di situ yang mandi atau dipijat ternyata tidak telanjang!) di tengah perjalanan mereka bertemu dengan seorang pria lokal ganteng yang hidupnya di ambang kriminalitas.

Buku Tersesat sebenarnya ditulis oleh Trinity, sarjana komunikasi dari Universitas Diponegoro dan Master in managemet dari Asian Institute of Management di Filipina. Penulis lainnya, Erastiany, adalah pekerja serabutan bergelar sarjana sastra dari Universitas Indonesia. Keduanya punya nama singkat “KK” dan “DD” yang kemudian digambarkan Lala, komikus dan storyboard artist jebolan FSRD Universitas Trisakti yang pernah menerbitkan buku komik Lovely Luna (2005).


Tersesat di Byzantium boleh dibilang langkah baru yang berhasil dicapai Lala sebagai komikus setelah menelurkan karya personal. Meskipun ini buku bergenre ‘curhat’ juga tapi tidak sekedar ‘curhat’. Membaca buku yang terinspirasi dari The Naked Traveller (catatan perjalanan yang ditulis ke dalam sebuah blog internet) karya Trinity ini kita patut salut dan bersyukur genre graphic diary-salah satu genre komik seperti halnya novel grafis- punya generasi penerus yang tidak hanya berhasil dalam tataran ide melainkan juga sekaligus mumpuni dalam berkisah.

Gambar-gambar yang cukup detil dari Tersesat mengingatkan kita pada komik (sedikit) pada komik karya Joe Sacco. Nampaknya pengalaman Lala sebagai storyboard artist cukup membantu menggambarkan detil latar belakang Byzantium dengan baik sehingga menyegarkan pembaca dalam menikmati kisahnya.

Kedua karya komik ini mampu bertutur dengan nuansa komikal yang menyentuh sekaligus riang. Pembaca benar-benar dimanjakan dengan gaya bertutur yang tak hanya jenaka melainkan juga nuansa komikal yang benar-benar memberi kesegaran baru dalam bertutur ala komik, meskipun kedua komik ini diciptakan bukan untuk anak melainkan untuk pembaca dewasa. Nampaknya Lala mempersiapkan dengan matang bab demi bab cerita komik ini sehingga nyaris tak ada pengulangan ide dalam setiap babnya. Setiap bab mengalir dengan lancar seolah tanpa beban yang berarti.

Jika komik-komik alternatif seperti ini mulai banyak diterbitkan, tak ayal lagi Indonesia harus punya penghargaan khusus untuk seni cipta komik seperti halnya sastra yang punya penghargaan prestisius. Biar bagaimanapun komik adalah bentuk seni cipta tersendiri yang patut dihargai sebagai karya seni seperti karya seni lainnya. Sejarah komik Indonesia kini telah mencatat perkembangan baru dari sebuah cetak biru yang tak bisa dipandang sebelah mata setelah bertahun-tahun komik melulu hanya dipandang untuk konsumsi anak. Banyak hal yang bisa didapat dari membaca komik bermutu tinggi seperti kedua komik karya ibu muda kelahiran Jakarta, 21 Mei 1980 ini.

Pertanyaan mengusik apakah komik karya Lala ini bisa disebut sebagai pembuka jalan lahirnya komikus-komikus perempuan Indonesia yang berbakat dan potensial setelah sekian lama kebanyakan komikus perempuan kita lebih berkutat pada gaya manga dan ‘bersembunyi’ dengan nama yang di Jepang-Jepangkan sehingga cukup lama ‘bertekuk lutut’ pada komikus pria? Selamat buat Lala. Selamat mewarnai sejarah komik Indonesia. *

Iklan
Posted in: Comic Review