“Chimera”- Antara Mimpi Kanak-Kanak, Obsesi, dan Tema Kontekstual

Posted on 20/10/2010

0


Catatan: tulisan ini disiapkan sebagai prasaran launching novel Chimera (Jalasutra, 2008) di Warung Apresiasi Bulungan, Juni 2008

 

/1/

Mario Vargas Llosa, sastrawan Peru dalam bukunya A Letters to Young A Novelist (Cartas a un joven Novelista) pernah berujar bahwa seorang novelis melakukan hal yang kurang lebih sama dengan seorang penari striptease. Kalau mereka naik ke atas panggung melepaskan pakaian dan mempertontonkan tubuh telanjangnya di atas panggung, penulis novel melakukan hal yang sama dengan cara terbalik.

Dalam menyusun sebuah novel, ia justru menggunakan pakaiannya, menyembunyikan ketelanjangan yang dimulainya di bawah pakaian tebal berwarna-warni untuk mewujudkan imajinasinya. Novelis “mengenakan pakaian”nya (menutupi dengan ide-ide yang didapat dari luar) dan setelah “pakaian” itu dikenakan terlihat secara samar hal-hal yang dekat dengan dirinya.

Penulisan Chimera yang saya alami kira-kira demikian. Hal tersebut terjadi secara berkala. Kata “chimera” pertama kali saya dapatkan ketika masih di bangku SD sekitar tahun 1986. Di rumah, kakak saya yang tergila-gila kepada sains dan fisika, membeli majalah ilmu pengetahuan populer Aku Tahu. Majalah ini cukup populer pada masanya. Karlina Supelli adalah salah satu kontributor penulis di majalah itu. Begitu populernya, sempat muncul kompetitornya, Sigma, yang kalau tidak salah terbitan grup Gramedia. Karena saya seorang anak yang pembosan dengan rasa ingin tahu yang besar (saya lebih suka membaca cerita daripada artikel waktu itu), saya baca juga Aku Tahu walau kurang menyukai artikel di dalamnya.

Suatu hari perhatian saya terserap pada sebuah cerita bersambung (cerbung) terjemahan yang ada dalam majalah tersebut. Cerbung tersebut (judulnya saya lupa) salah satu tokoh utamanya bernama “chimera”. Tapi cerbung itu (saya juga lupa pengarangnya) sama sekali tak mengandung unsur ilmu pengetahuan-katakanlah, fiksi ilmiah yang sebenarnya lebih cocok dengan majalah tersebut. Cerbung itu lebih tepat dikategorikan fantasi, sebuah cerita horor tentang pengalaman seorang manusia yang bermalih rupa menjadi serigala.

Barangkali pemuatan cerbung itu dimuat sebagai selingan di tengah-tengah artikel ilmiah. Sayang, cerbung itu tak sempat saya tuntaskan karena selain kakak saya tiba-tiba berhenti membelinya, majalah tersebut juga berhenti terbit-mungkin sekitar tahun 1988.

Cerbung itu sebetulnya tak terlalu baik, unsur suspens-nya kurang mencekam. Yang membuat saya tertarik adalah ilustrasinya yang sangat bagus-hitam putih-mirip gaya ilustrator Teguh Angka atau Ipong Purnama Sidhi (kalau tidak salah, dulu ilustrasinya pun juga bukan bikinan awak redaksinya melainkan repro dari majalah dan buku luar negeri).

Yang paling berkesan sampai saya dewasa adalah istilah “chimera” itu sendiri yang ternyata ada juga dalam kamus bahasa Inggris-Indonesia kumpulan John M.Echols dan Hassan Shadily. “Chimera” artinya kurang lebih adalah sesuatu yang tak masuk akal berasal dari mitologi Yunani. Nama yang bagus itu saya simpan dalam hati sembari berandai-andai suatu saat ingin menulis kisah petualangan dengan nama itu.

Sayangnya, begitu beranjak dewasa saya ditelan berbagai kesibukan menulis, menyunting naskah serta menawarkan manuskrip saya sendiri ke berbagai penerbit. Akibatnya niat mengolah Chimera secara intens malah baru terwujud pertengahan 2005 sampai 2006. Sebenarnya bagian pertama Chimera sempat saya publikasikan sebagai petikan novel dalam situs sastra Internet Cybersastra.net (saya menulisnya tahun 2002) dengan judul “Cerita Belum Selesai”. Sesuai judulnya yang memang belum selesai, saya berharap ini adalah pemicu sebuah karya yang lebih luas. Ya, semacam janji kepada diri sendiri bahwa suatu saat saya akan membuat novel.

/2/

Proses pengerjaan Chimera berlapis-lapis. Semula saya ingin menulis fiksi ilmiah dengan latar belakang Jakarta. Ini terjadi pertengahan 2002 dan menyebabkan saya pernah mengolahnya menjadi naskah komik. Dulu saya sempat menggantinya dengan judul “Moskit 2020”, cerita tentang obat nyamuk oles seperti Autan yang beracun dan dapat membuat orang gila.

Sayang, penggambar komiknya tak setuju. Komik itu gagal dibuat dan naskah ceritanya dikembalikan lagi kepada saya. Penulisannya pun mentok karena saya tak sempat mengumpulkan data ilmiah. Akhirnya, saya kembali menulis Chimera. Tapi di tengah penyusunan dan penulisan novel yang sudah saya beri judul Chimera, terdengar kabar Chimera pernah digunakan dalam film Hollywood “Mission Impossible 2”.

Saya putus asa kata apa lagi yang menarik untuk cerita novel ini sedangkan karya lain sudah memakainya? Kata Chimera sudah kadung membuat saya jatuh cinta. Saya hampir membunuh Chimera dengan mencari kata lain. Untung kekasih saya mengingatkan agar tetap menggunakan judul tersebut karena seperti halnya kata “Supernova” atau “DNA”, “Chimera” sudah menjadi istilah yang umum. Apalagi kata tersebut sudah ada dalam kamus. Dengan demikian maka selamatlah Chimera dan ia menjadi novel saya.

Saya memang mencintai cerita dengan letupan imajinasi luar biasa seperti dari khasanah klasik Jules Verne dan HG Wells, Phillip K.Dick, dan Brian Aldiss sehingga meskipun tidak kontekstual, cerita-cerita tersebut tetap memukau dibaca sampai kapan pun. Tapi kalau cerita model begitu yang akan dibuat saya akan kesulitan setidaknya memikat tipe pembaca novel Indonesia yang umumnya (maaf, kalau saya salah) imajinasinya masih miskin sehingga kadang terjebak pada pandangan yang keliru.

Misalnya yang sering terjadi penyuka bacaan populer merasa bacaan sastra terlalu tinggi sedangkan pembaca sastra jarang mendapat kepuasan estetik dalam membaca sastra lokal atau kadung menganggap bacaan populer adalah selera rendah. Wallahualam, keduanya tak pernah ketemu dan saling “bermusuhan”.

Akibatnya, sangat jarang karya penulis kita diterima kedua tipe pembaca tersebut. Kalaupun ada, rata-rata terjadi tanpa mencampur aduknya seperti Putu Wijaya dan Arswendo Atmowiloto. Entah kenapa penulis kita enggan menyatukannya sehingga menjadi kekuatan persuasif yang menarik. Mungkin untuk nama penulis Indonesia yang bersedia menggabungkannya baru Mohammad Diponegoro, Iwan Simatupang dan Seno Gumira Ajidarma. Akibatnya sebagian estetika pembaca kita “terpaksa” dipuaskan dengan bacaan asing yang selain kaya imajinasi penuh kekuatan persuasif. Sebutlah J.D Salinger, Haruki Murakami, DBC Pierre (pemenang The Man Booker Prize 2003) atau Sherman Alexie, penulis Indian Amerika.

Apalagi dalam pengalaman saya menulis dan berinteraksi dengan kawan komunitas penulis, jarang sekali saya menemui sosok penulis – pembaca yang baik. Atau pembaca yang dapat menikmati bacaan populer maupun sastra sama baiknya sehingga ia tak memandang rendah novel populer dengan hanya menganggap tinggi kepada bacaan sastra. Saya berharap novel ini paling tidak berada di wilayah abu-abu, bisa dinikmati pembaca bukan sastra karena ceritanya yang mengalir dan pembaca sastra karena gagasannya, bukan eksperimen bahasanya.

/3/

Selama beberapa bulan saya bertempur dengan diri sendiri antara ingin menghasilkan cerita fiksi ilmiah yang menarik atau cerita yang baik tapi kontekstual. Persoalan baru muncul ketika saya sudah menulis dengan melepaskan beban yang ada.

Kurang lebih selama beberapa jam outline yang saya buat (saya membiasakan diri sebelum menulis cerita selalu membuat outline) terpaksa saya hapus karena terjebak untuk membuat kata-kata indah, bukan cerita itu sendiri!

Membuat cerita mungkin mudah, menyusunnya hm, ini yang sulit. Sebuah artikel yang pernah saya terjemahkan untuk situs film Layarperak.com, penulis Amerika E.L Doctorrow memaparkan “Quick Cuts: The Novel Follows Films into a World of Fewer Words”, Cut: Novel Mengikuti Film, menggugah saya. Esai ini ada dalam buku Writers on Writing, The Collected Essays from The New York Times terbitan Times Books, Henry Holt and Company New York, 2001. Tulisan tersebut menyebutkan novel zaman sekarang umumnya mengikuti film, meskipun menurut Doctorrow, Mark Twain dan William Faulkner sudah melakukannya. Esai ini membakar semangat saya bahwa untuk menulis novel bisa saja seperti adegan film: cepat dan padat.

Baiklah, “saya akan membuat film”, batin saya. Dan bab demi bab saya tulis lancar seolah saya sedang menyutradarai film-ya, layar kata depan monitor komputer. Secara batin hasilnya menyenangkan. Mungkin karena kerangka cerita sebenarnya sudah tersusun 4 tahun lalu hanya dalam beberapa minggu, penulisan Chimera sudah menghasilkan beberapa bab. Dan, pelan-pelan di tengah kesibukan lain saya tinggal merapikan bahasa dan alur ceritanya saja supaya lebih tertata.

Mengenai ide-ide yang mungkin subversif: keterlibatan Badan Intelijen, riuhnya kegiatan aktivis politik yang bernaung di bawah LSM, dan peristiwa seperti aktivis yang hilang karena kegiatan politik adalah refleksi kegelisahan saya sendiri mengamati perjuangan intelektual yang selalu terbentur banyak hal. Salah satunya diculik (“dihilangkan”) bahkan sampai dibunuh seperti aktivis HAM, Munir. Hilangnya Wiji Thukul, terbunuhnya wartawan Bernas, Udin, juga dipenjarakannya Pius Lustrilanang, dan banyak lagi. Yang menggelikan, terbunuhnya Munir tak sampai menjadi konspirasi luar biasa njelimet bak cerita Agatha Christie. Bukankah sedari awal para pelakunya “sudah mengaku”? Akibatnya kita harus puas dengan orang lain yang menjadi kambing hitam. Kasus Munir dengan Polycarpus, kasus Udin dengan Iwik, dan banyak lagi kasus-kasus yang mendadak dipetieskan.

Saya berpikir sekiranya ada teknologi canggih yang sudah dikuasai oleh negara barangkali pemerintah kita akan menggunakannya untuk menghilangkan orang lain yang dianggap berbahaya. Begitulah dasar pemikiran Chimera.

Pergaulan saya sendiri perlahan menyeret saya selain dalam lingkup pergaulan seniman juga ke LSM yang kritis pada pemerintah. Meski tak terlampau intens, pergaulan dengan beberapa LSM ini yang kemudian memicu ilham cerita setelah sebelumnya saya pernah tersentak pada salah satu cerpen di Kompas (judulnya kalau tidak salah Revolusi) tentang aktivis politik milik Jujur Prananto serta novel suspens thriller yang ditulis oleh sutradara film Hollywood, Wes Craven.

Singkatnya, banyak kegiatan idealis kalah oleh realitas pemikiran pendek dengan hanya memikirkan untung dalam waktu cepat. Ini juga salah satunya yang mengilhami Chimera.

Ide-ide tersebut kemudian saya satukan pada sebuah titik: bagaimana kalau ada penemuan canggih teknologi abad masa depan disinergikan dengan kegiatan politik?

/4/

Tadi sudah saya katakan proses pengerjaan Chimera berlapis-lapis. Begitu naskahnya sudah selesai, saya pun masih menulis ulang kembali terutama setelah mendapat advis dari Anwar Holid, editor saya. Beruntung Wartax (demikian panggilannya) tergolong editor sekaligus kawan yang sabar juga teliti. Dia memberitahu banyak keganjilan yang dihadapinya ketika membaca draf awal Chimera.

Cukup lama kami bersurat-suratan membahas proses editing. Saya sempat mengeluh betapa sulitnya menulis novel, batin saya, walau saya akui draf awal naskah Chimera memang banyak kekurangannya. Di sinilah tanggung jawab saya sebagai pengarang ditimbang-timbang sampai Wartax menasehati saya, “Kita (maksudnya saya dan dia-pen) bisa melihat kekurangan karya tertentu atau menganalisa kondisi sastra sekarang, coba hal serupa terapkan pada karya sendiri. Kita sendiri yang harus menutupi kemungkinan bolong di sana,” Bagi saya ini sebuah peringatan darinya lantaran saya juga menulis esai sastra dan resensi buku di berbagai media massa.

Saya paham, bahkan dalam menulis saya punya tekad jitu yang saya pegang dari Mohammad Diponegoro, salah satu “Bapak Cerpen Modern Indonesia” (yang kiprahnya malah dilupakan kritikus sastra Korrie Layun Rampan. Gimana nih Pak Korrie? Baca bukunya tentang cerpen Indonesia terbitan Grasindo 2005) yaitu “Fiksi terbaik tak pernah ditulis!”. Artinya tidak ada karya bagus sekali diketik, hangat mengepul keluar dari rol mesin tik. Sebuah petuah bijaksana memang.

Tapi bukankah untuk mengejar “kegagalan indah”-meminjam istilah William Faulkner- ada batasnya? Untung, Wartax termasuk editor yang sabar. Saran-sarannya membuat saya tetap semangat membuat Chimera sebaik mungkin.

Jika dihitung-hitung, sudah tiga kali Chimera mengalami perombakan, bahkan sampai ending-nya Wartax pun semula tidak setuju. Saya bahkan sempat bosan dengan penulisan ulang Chimera. Tapi berkat atensi Wartax yang sungguh-sungguh saya sadar naskah ini harus jadi sebaik mungkin. Beruntung saya memiliki kawan seperti Wartax yang berdedikasi tinggi. Kalau saja Wartax juga lebih intim dengan sastra klasik Indonesia bisa jadi ia kelak menjadi penerus HB Jassin, terutama dalam perannya sebagai editor sekaligus motivator penulis.

Wartax menyarankan banyak hal, diantaranya menghilangkan catatan kaki- satu hal yang semula agak banyak di draf awal Chimera. Bukannya mau pamer wawasan pengetahuan, tapi saya mencantumkannya lantaran catatan kaki saya bikin untuk menguatkan narasi, bukan sekedar memberi informasi. Tapi saran Wartax tetap saya penuhi setelah saya sendiri memerhatikan begitu banyak novel yang baik ternyata sedikit menggunakan catatan kaki atau memang tidak ada sama sekali.

Pendekatan Wartax untuk memeriksa Chimera sederhana saja, ia menganggapnya seperti nonton film. Kalau menonton film banyak hal yang tak logis tentu tidak mengenakkan, katanya. Menurut saya, pendekatan sederhana ini bisa juga diterapkan kepada penulis lain yang sedang mengerjakan novel, apapun jenisnya- mau eksperimen atau hanya bercerita saja, ketimbang menggunakan teori bahasa dan sastra yang keminter. Meskipun ide ini bisa diterapkan kepada siapa saja, saya merasa Wartax ngomong begini lantaran ia tahu saya juga seorang penonton film yang tekun. Jadi peringatannya langsung nyantel di kepala saya.

/4/

Demikian sedikit yang bisa saya sampaikan di balik penulisan Chimera. Llosa juga bilang (masih dalam buku yang sama) ada juga karya sastra yang baik tanpa mementingkan jalinan ceritanya, melainkan bagaimana kekuatan persuasi di dalamnya-unsur pemikat yang dapat menggoda pembaca sampai helai halaman terakhir.

Menutup tulisan ini saya berharap semoga kekuatan persuasi Chimera dapat menggoda pembaca. Tak banyak yang ingin saya sampaikan karena saya hanya sekadar pencerita dengan cita-cita sederhana saja: ingin bercerita.

Salam.

Rawamangun, Januari 2006-Mei 2008

 

 

 


Iklan
Posted in: Personal Essay