Golan-Globus, Cult Movie dan Patriotisme Amerika

Posted on 06/10/2010

0


ERA 1980-an adalah masa keemasan duet produser paman dan keponakan kelahiran Israel, Menahem Golan dan Yoram Globus di bawah bendera Cannon. Khalayak penikmat film maupun bukan pasti tak begitu saja melupakan popularitas film laga dengan bintang Chuck Norris (Missing In Action), Charles Bronson (Death Wish), Sylvester Stallone (Cobra, Over The Top), Jean Claude Van Damme (Bloodsport) serta film-film ninja yang dibintangi aktor Jepang Sho Kosugi, sampai serial American Ninja.

Kala itu produksi Cannon begitu mendominasi pasar, khususnya film laga. Tak berhenti pada film laga, film tarian seperti Breakdance sampai Lambada adalah produk Cannon yang seketika tak dapat begitu saja terluputkan dalam jagat perfilman Hollywood.

Golan-Globus, demikian nama beken duet produser kondang itu dikenal bukan dari film dengan cita estetik tertentu melainkan kageori b-movie (bad movie) alias film ‘sampah’ yang lebih pantas diputar di bioskop pinggiran dan jenis drive-in (teater mobil) di Amerika. Kendati film ‘sampah’, Golan-Globus bukan sembarang produser ‘b’. Meski kualitas produknya tak sebanding dengan duet Guber-Peters (John Peter dan Peter Guber) dari Warner Bros sekalipun, diam-diam mereka mengangkat jati diri Amerika sebagai negara adidaya, terutama setelah kekalahannya di perang Vietnam.

Golan-Globus adalah duet produser paman dan keponakan yang sudah cukup kondang di negeri asalnya, Israel. Menahem Golan, lahir di Tiberias, Israel tahun 1929. Keponakannya, Yoram Globus, lahir tahun 1941. Sebelum hijrah ke Hollywood kedua bersaudara ini berhasil mengangkat perfilman Israel lewat film Kazablan, Operation Thunderbolt dan Lemon Popsicle di tahun 1970-an. Ketiga film ini sangat populer di Israel dan beberapa negara lain (baca: Eropa). Lewat produksi film tersebut mereka berhasil mengenalkan perfilman Israel dengan berhasilnya Operation Thunderbolt (dibintangi Klaus Kinski) sebagai nominator Academy Award kategori film berbahasa asing terbaik tahun 1977.

Tahun 1979 Golan dan Globus hijrah ke Amerika dengan maksud melebarkan sayap di Hollywood. Tahun 1983 Golan mengadakan pertemuan dengan Sam Arkoff, seorang raja film schlock. Schlock adalah istilah lain dari jenis film eksploitasi seks dan kekerasan atau dikenal pula dengan sebutan b-movie (bad movie). ‘Raja’ film jenis seperti ini jauh sebelum Golan-Globus naik pamor adalah Dario Argento, produser Italia yang terkenal memproduksi film horor dan Roger Corman, salah satu ‘guru’ Menahem Golan ketika mengawali karir filmnya di Hollywood bersama Francis Ford Coppola. Adapun Coppola sendiri sebelum tenar pernah berkecimpung dalam produksi film porno dan ‘b-movies’.

Golan mengeluh kepada Sam Arkoff setelah banyak skrip yang ditawarkannya kepada studio besar Hollywood tak digubris. Perjumpaannya dengan Arkoff membuahkan hasil. Golan mendapat pinjaman modal sebesar $ 75.000. Dengan bantuan pinjaman modal dari Arkoff, Menahem Golan dan Yoram Globus kemudian membeli studio kecil bernama Cannon yang pada waktu itu sedang dalam keadaan sekarat. Namun seperti tipikal kisah-kisah perjuangan dalam membangun sebuah industri, awal usaha Cannon bukan sesuatu yang langsung jadi. Nasib Cannon mulai terangkat setelah memproduksi Death Wish 2, The Last American Virgin dan Enter The Ninja pada periode 1980-1982.

Tahun 1984-1986 Cannon membukukan keuntungan dengan memproduksi sekitar 23 judul film per tahun. Diantaranya Missing In Action (yang dibuat sampai 3 jilid), Invasion U.S.A, Breakdance (a.ka Breakin’), Breakdance’2 Electric Boogaloo, Lifeforce, Delta Force, dan Death Wish 3. Untuk tahun 1986 saja Cannon berhasil memproduksi sebanyak 43 judul film. Pada masa itu nyaris tiada perusahaan film besar macam Twentieth Century Fox atau Warner Bros menandingi jumlah produksinya. Hasil keuntungannya pun jika dihitung dengan kurs rupiah pada waktu itu berjumlah Rp.16 milyar. Ini belum ditambah dengan usaha televisi kabel yang juga dilakukan Cannon dengan bermodalkan 100 juta dolar. Seiring dengan keuntungannya yang berlipat ganda, harga saham Cannon di pasar bursa melonjak menjadi sepuluh kali lipat.

***

KONTRIBUSI Cannon dalam kerajaan Hollywood terbilang besar terutama dari segi trend dan popularitas, bukan estetika sinematografi layaknya film ‘serius’. Cannon menjadi legenda dalam sejarah perfilman Hollywood, terutama dari industri hiburan. Golan dan Globus seketika dinobatkan Hollywood sebagai raja film b-movies setelah era Roger Corman.

Sampai kini beberapa produk Cannon ada pula yang tergolong cult movie. Cult movie adalah istilah untuk film yang semula dilecehkan namun tak bisa begitu saja dilupakan. Istilah ini pertama kali muncul dari kritikus Chicago Sun-Times, Roger Ebert. Menurutnya tipikal cult adalah ketika film itu ditayangkan pengaruhnya begitu besar kepada masyarakat, entah itu dari filmnya sendiri yang memang dapat dipertanggungjawabkan dari segi estetik sehingga mampu memberi pengaruh pada genre film sesudahnya, punya penggemar fanatik bahkan mampu menjadi trendsetter. Contoh cult movie bisa disebut film Big Boss yang dibintangi almarhum Bruce Lee. Dalam film ini sepatu kungfu jenis “Big Boss” yang digunakan Lee seketika menjadi tren anak muda tahun 1970-an. Psycho karya Alfred Hitchcock dapat digolongkan cult movie karena selain layak mendapat pujian mampu memberi pengaruh terhadap film-film genre suspens dan slasher horror.

Uniknya, sebuah film meski dibuat dengan cerita seadanya layaknya produk Cannon dari kelas ‘b’ naik derajatnya hingga menjadi cult movie. Konon, kebanyakan film-film cult dari sineasnya sendiri tak pernah menyangka karyanya bakal menjadi cult walau pada masanya dilecehkan karena ceritanya buruk atau diproduksi dengan bujet ringan. Sekedar contoh film The Good, The Bad and The Ugly yang dibintangi Clint Eastwood atau A Few Dollars More. Film-film seperti ini jauh sekali kualitasnya dibanding tema sejenis yang juga beredar pada masanya seperti High Noon. Nightmare on Elm Street dan Scream karya Wes Craven pun layak disebut cult movie. Kedua film tersebut punya penggemar fanatik hingga dibuat berjilid-jilid atau berbagai versi, disamping produsen lain yang latah bikin film dengan tema sejenis. Pendek kata, cult movie adalah film yang sangat bersuara pada jamannya kendati tak harus selalu dibuat sutradara besar atau produser kelas “A” layaknya Apocalypse Now sekalipun. Pengertian cult movie tak terbatas sehingga dapat melampaui jenis film apapun.

Film cult movie ala Cannon adalah Breakdance, Lambada dan Missing In Action (MIA) yang sampai diproduksi sekuelnya sampai 3 jilid. Kalau Breakdance dan Lambada menggoyang dunia dengan tariannya, MIA banyak menginspirasi produser lain untuk membuat film perang Vietnam dengan mengumbar patriotisme Amerika sebagai hero. Salah satu contoh epigon produk Cannon adalah Rambo (1985), film yang melejitkan Sylvester Stallone produksi Carolco. Cannon sudah mendahuluinya lewat MIA (1983) dengan bintang laga Chuck Norris. Oleh beberapa kalangan film perang jenis ini juga disebut propaganda Amerika yang dalam kenyataannya kalah perang di Vietnam. Dapat disimpulkan Amerika ‘hutang budi’ lewat produk-produk Cannon yang malah meninggikan gengsinya sebagai negara adidaya. Dari segi industri hiburan sendiri film perang Vietnam ala Cannon pun ‘menyegarkan’ bagi pencari hiburan sampai politisi. Apalagi ketika film-film seperti itu tengah beredar berbarengan dengan film perang yang ‘serius’ macam Platoon (Oliver Stone), Killing Fields (Roland Joffe) dan The Deer Hunter (Michael Cimino). Paling tidak, kendati bukan film bagus publik Amerika punya pilihan meski disadari sendiri film-film semacam itu hadir bak dagelan saja.

Selain Vietnam, Amerika yang kala itu sedang ‘perang dingin’ dan selalu bersaing dengan Rusia akhirnya menempatkan negara itu sebagai musuh. Cannon mempeloporinya lewat Invasion U.S.A yang juga dibintangi Chuck Norris. Dalam film ini dikisahkan Chuck Norris sebagai hero bernama Matt Hunter membantai teroris Rusia yang menyerang New York. Cult movie lain ala Cannon ada The Delta Force (1986) yang (lagi-lagi) dibintangi Chuck Norris dan disutradarai Menahem Golan sendiri. Film ini mengisahkan kehebatan pasukan elit Delta Force melawan pembajak pesawat TWA.

Selain menjadi pelopor, Cannon juga menjadi epigon film petualangan Indiana Jones yang dibuat Steven Spielberg lewat King Solomon’s Mines (1985) Film ini dibintangi Richard Chamberlain yang sempat populer lewat miniseri televisi Shogun dan Sharon Stone semasa masih mengawali karirnya sebagai aktris. King Solomon’s sendiri dibuat sequelnya dengan judul Allan Quatermain and The Lost City of Gold (1987) mengekor sukses Indiana Jones and The Temple of Doom.

Film-film Enter The Ninja, Revenge of The Ninja, Ninja III: The Domination dan American Ninja juga tergolong cult movie ala Cannon. Lewat film-film tersebut publik seketika akrab dengan sosok pendekar ninja dari Jepang. Sosok ninja lantas berkibar di mana-mana, sampai serial teve (salah satunya The Master yang dibintangi Lee Van Cleef), serial kartun Teenage Mutant Ninja Turtles sampai mainan anak-anak seperti boneka, kostum dan replika senjata ninja.

Cult movie lain produksi Cannon yang tak bisa dilupakan adalah Bloodsport (1987) Di film inilah karir Jean Claude Van Damme sebagai bintang laga dimulai. Van Damme, pria kelahiran Brussel, Belgia yang kondang dijuluki “otot dari Brussel” setelah Bloodsport karirnya semakin cemerlang hingga akhirnya dipinang studio besar macam Universal dan Warner Bros.

***

DENGAN keuntungan yang sudah diraih Golan dan Globus lewat b-movie, mereka toh mulai ingin mendapatkan nama, bukan sekedar uang. Golan-Globus ingin juga mendapat Academy Award dan Palm D’ Or, ingin terkenal dan terhormat seperti Warner Bros atau Twentieth Century Fox. Golan dan Globus akhirnya memproduksi film karya sineas Andrei Konchalovsky (Runaway Train, 1985) Jean Luc Goddard (King Lear, 1987), Barbet Schroeder (Barfly, 1987) Fred Schepisi (A Cry in The Dark, 1988) dengan bintang-bintang berkelas macam Jon Voight, Diane Keaton, Julie Andrews dan Meryl Streep. Tahun 1985 salah satu produk mereka Runaway Train berhasil menjadi nominator Academy Award kategori best supporting actor untuk abang Julia Roberts, Eric Roberts. Film ini skenario dan ceritanya digarap maestro film Jepang, Akira Kurosawa. Meski sempat masuk nominasi Oscar kebanyakan film-film ‘serius’ mereka belum menghasilkan keuntungan berarti alias proyek rugi.

Menahem Golan sendiri menurut kritikus film Roger Ebert bukannya tak mempunyai selera bagus. Dalam Chicago Sun-Times ditulis, Golan terobsesi membuat film art seraya mendapat penghargaan Palm D’Or di Cannes Film Festival. Salah satu filmnya yang berhasil diputar di Cannes 1987 adalah Two Weeks in a Midday Sun kendati gagal meraih penghargaan bergengsi tersebut.

“Begitu terobsesinya sehingga sehingga hampir tiap tahun Golan hadir di Cannes. Tapi ia lebih sering pulang dengan tangan hampa lantaran tak satupun film produksinya menang. Golan ingin membuktikan kepada dunia bahwa Cannon tak hanya mampu menghasilkan uang. Kebanyakan juri Cannes menganggap remeh dengan alasan mana mungkin produser King Solomon’s Mines bisa membuat film sekelas Otello karya Verdi?” tulis Ebert mengomentari kegagalan Golan yang terjadi karena perasaan sentimen juri-juri Cannes.

Sebuah keinginan yang cukup beralasan akibat imej ‘b-movies’ yang kadung melekat dalam setiap produksi Cannon membuat mereka lebih sering diganjar penghargaan Razzie Award ketimbang Academy Award. Razzie Award adalah penghargaan bagi film-film buruk, plesetan dari Academy Award. Bentuk piala Razzie sendiri serupa dengan Academy Award namun terbuat dari plastik, bukan dari emas. Razzie Award diadakan hanya untuk guyonan para wartawan dan kritikus film.

Selain demi melambungkan imej agar tak selalu dikenal dalam produk b-movie saja, Golan dan Globus gigih berjuang mendapatkan hak cipta dari DC Comics sehingga mampu memproduksi sequel Superman (yang notabene film kelas ‘A’) yaitu Superman IV: Quest for Peace (1987) bermitra dengan Warner. Cannon juga memproduksi adaptasi film kartun yaitu Masters of The Universe yang dibintangi aktor berotot Dolph Lundgren, Chelsea Field, dan Frank Langella.

Setelah berkiprah sebagai produser, Golan dan Globus tergoda untuk memasuki pasaran film internasional sebagai jalur distribusi. Mereka kemudian membeli Thorn EMI Internasional, sebuah perusahaan film yang juga memiliki akses peredaran di Inggris serta mempunyai banyak jaringan bioskop di Belanda dan Amerika.

***

LANTAS bagaimana Cannon mampu mendapatkan aktor ternama seperti Charles Bronson, Chuck Norris, Lee Marvin atau Sylvester Stallone yang notabene sudah memiliki tarif? Mereka ternyata mendapatkannya dengan cara membujuk hingga mereka mau dibayar separuh harga dari honor yang biasa didapatkan di studio film besar. Sebagai imbalan mereka mendapat persentase keuntungan dari hak edar di pasaran film internasional dan kaset video. Semua ini dilakukan Cannon pun sebelum film yang dibintangi para bintang itu sungguh-sungguh dibuat. Inilah yang membedakan produk b-movie Cannon dibanding studio film sejenis.

Kisah sukses Cannon yang nampaknya bak melibas perusahaan besar dalam skala jumlah produksi per tahun menggoda Robert Friedman, editor majalah Village Voice untuk mengikuti kegiatan bisnis dua bersaudara itu dari dekat. Salah satu kesan yang didapat ketika Friedman mengikuti mereka, duet Golan dan Globus ini ternyata menjalankan bisnis film ala “kaki lima” alias tiada birokrasi di kantornya.

“Keputusan bisnis lebih didasarkan kepada naluri semata. Transaksi jutaan dolar bisa dengan mudah terjadi hanya dengan beberapa patah kata saja. Akibatnya tiap hari mereka menghadapi ancaman, gugatan dan sengketa. Intinya, kegiatan bisnis dua bersaudara ini selalu menyerempet bahaya sampai sisi-sisi hukum,” tulis Friedman.

“Kami hanya menyukai dan mencintai film, itu saja. Oleh karena itu kalian akan selalu melihat kami di kantor tujuh hari dalam seminggu,” kata Golan seperti ditulis wartawan Patrick Runkle dari situs Inksyndicate.com.

Kunci sukses Cannon di tangan Golan dan Globus persis dianut “sang guru”, Roger Corman. Film eksploitasi seks dan kekerasan dengan biaya semurah mungkin adalah dasar usaha mereka. Biaya semua produksi Cannon rata-rata tak melebihi bujet 5 juta dolar. “Saya tak percaya kepada hasil-hasil penelitian dan statistik. Semua itu omong kosong. Tak ada dalil maupun resep tertentu sebuah film bisa laku di pasaran!” ungkap Golan kepada Friedman.

“Lagipula,” tambah Globus, “Bisnis film itu bagi kami sama saja dengan bisnis asuransi. Sebuah film dengan biaya produksi di bawah 5 juta dolar anda tidak akan rugi!” Kendati demikian duet Golan dan Globus juga pernah memproduksi dengan bujet tinggi. Salah satunya Lifeforce (1985) yang ternyata hanya menghasilkan keuntungan 10 juta dolar dibanding biaya produksinya sebesar 30 juta dolar. Yang menggembirakan terutama dari segi keuntungan dan dibuat dengan bujet tinggi adalah Superman IV dan Masters of The Universe.

***

DALAM menjalankan roda bisnis Menahem Golan dikenal sebagai salesman agresif. Dia mampu menjual hak cipta film-filmnya kepada para distributor jauh sebelum produksinya dimulai. Dia juga mampu meyakinkan para investor dengan persentase keuntungan yang menggiurkan. Dalam situs Inksyndicate.com Peter Runkle menulis, bisnis usaha seperti ini terbilang unik terutama yang dilakukan studio film kecil macam Cannon. Lagipula, tulis Roger Ebert dalam situs IMDB.com bagi studio kecil dimanapun dengan jumlah produksi 43 judul per tahun hanya mampu dilakukan Cannon.

Selain menjadi produser Golan dan Globus juga menjadi pengedar film di Yugoslavia. Mereka juga memiliki gedung bioskop sendiri dan menanam investasi distribusi video selain membeli hak cipta beberapa film-film klasik untuk diedarkan dalam bentuk kaset video. Duet Golan dan Globus juga begitu gigih berebut copyright film. Diantaranya film yang nyaris diproduksi Cannon adalah Spider-Man dari Marvel Comics. Begitu ambisiusnya mereka hingga Golan-Globus sampai membuat iklan dan mengumumkannya kepada pers mereka akan memproduksi Spider-Man (lihat gambar) dengan mencantumkan nama Tobe Hooper (sutradara film sukses Poltergeist dan Life Force yang diproduksi Cannon) sebagai sutradara. Sayang, perjuangan mereka gagal lantaran Cannon pada waktu itu terlibat masalah finansial. Akibatnya Cannon digiring ke meja hijau. Gara-gara masalah ini hubungan Golan dan Globus retak. Golan begitu terpukul seraya menyalahkan Globus yang dianggapnya tak becus mengatasi problem finansial. Cannon akhirnya harus membayar hutang-hutangnya kepada investor.

Cannon yang nyaris gulung tikar kemudian diambil alih MGM. Bisnis Cannon selanjutnya dikerjakan Giancarlo Parletti dan Yoram Globus. Film-film Cannon selanjutnya tetap diproduksi dengan jumlah yang lebih kecil. Menahem Golan sendiri hengkang pada tahun 1989 dan mendirikan studio film baru bernama 21st Century Films.

Hak cipta Spider-Man terkatung-katung. Namun berkat kegigihan Golan hak cipta Spider-Man dan Captain America jatuh juga ke tangannya. Seperti yang dilakukannya semasa di Cannon, Golan dengan studio barunya 21st Century dapat meyakinkan Viacom untuk mendapatkan hak edar Spider-Man agar diputar di stasiun televisi juga penjualan kaset videonya kepada Sony. Golan juga berhasil mengajak Carolco sebagai mitra. Carolco kala itu baru saja mendanai James Cameron dalam Terminator 2. Carolco kemudian menunjuk Cameron sebagai sutradara dan penulis skrip Spider-Man dengan honor 3 juta dolar.

Bukannya menggarap Spider-Man Cameron malah terlibat produksi film Titanic. Akibatnya Golan malah membatalkan kontrak dan memproduksi Captain America. Keputusan Golan membatalkan kontrak jelas membuat ricuh Marvel, Sony, Viacom dan Carolco. Sony dan Viacom kemudian berseteru dengan Carolco dan 21st Century di meja hijau. Apalagi tanpa sepengetahuan Carolco, Golan mengambil dan memperbaharui kontrak hak cipta Spider-Man semasa masih di Cannon yang kini diambil alih MGM. Akibatnya Spider-Man tak kunjung diproduksi. 21st Century pun bangkrut setelah film produksinya yang dibuat untuk menyaingi produksi Cannon Lambada: Set The Night on Fire yaitu Lambada : The Forbidden Dance ambruk di pasaran.

Ironis, padahal sebelumnya Golan sesumbar Lambada produksinya di bawah bendera 21st Century lebih bagus. Untuk mengulang sukses Globus sengaja mengontak sutradara Breakdance (a.k.a Breakin’), Joel Silberg untuk menyutradarai Lambada. Persaingan mereka begitu sengit sampai-sampai muncul pertengkaran siapa yang berhak menggunakan judul Lambada. Akhirnya kedua film itu tetap beredar. Hanya pada poster Lambada produksi 21st Century Golan menambahkannya With The Original Hit Song ‘Lambada’ by Kaoma sebagai ‘penglaris’. Agar tak menyerupai Lambada produksi Globus judulnya sendiri pun berganti menjadi The Forbidden Dance is Lambada. Golan optimis Lambada bikinannya lebih laku lantaran ia berhasil mendapat hak cipta lagu berjudul Lambada yang tengah populer awal 1990-an dari Kaoma sebagai soundtrack.

Produksi lainnya dari 21st Century, Captain America gagal di pasaran. Cannon sendiri sepeninggal Golan juga tak mampu mendulang sukses. Hanya Lambada saja yang menghasilkan keuntungan lumayan dibanding produksi Cannon sesudahnya, sebutlah American Cyborg yang diperankan Joe Lara, pemeran serial televisi Tarzan.

***

HUBUNGAN yang retak perlahan tersambung kembali. Golan dan Globus berdamai dengan mendirikan sebuah perusahaan film baru pada November 1997 bernama First Miracle. Lewat wawancara dengan CNN’s Showbiz Today pertengahan 1998 Globus berkata, “Kami memang bercerai setelah membuat 300 film selama sembilan tahun. Kami bersatu kembali supaya lebih kuat dan bijaksana dalam suasana industri yang lebih baik.” Masih dalam wawancara dengan CNN, Golan sekaligus mengumumkan produk mereka yang terbaru, yaitu film Speedway Junkie dibintangi aktris Darryl Hannah. Film ini juga diproduksi bareng Gus Van Sant yang melesat sebagai sutradara lewat Good Will Hunting.

Berbeda dengan Cannon yang berkutat dengan film laga, duet Golan-Globus di bawah bendera First Miracle memproduksi film drama. Lewat First Miracle mereka memproduksi Cattle Call dan Wedding Band yang dibintangi penyanyi Debbie Gibson. Entah mengapa sepertinya nasib Golan dan Globus hanya beruntung lewat film laga. Ketiga film itu hanya menghasilkan keuntungan 3 juta dolar.

Kegagalan ini membuat mereka kembali berpisah. Globus pulang ke Israel dan mendirikan perusahaan film Frontline Entertainment. Nyaris tak berambisi dibanding pamannya, Globus hanya berkonsentrasi lewat produk lokal saja. Sedangkan Golan tetap bersemangat, bahkan sampai mengibarkan kembali bendera Cannon dengan nama New Cannon Inc. Dengan nama ini Golan bermitra dengan sineas muda Israel, Evgeny Afineevsky. Konsep produksinya juga kurang lebih sama saja dengan yang dilakukan semasa jaya Cannon, yaitu produksi dengan bujet ringan.

***

BELAJAR dari sepak terjang Cannon dapat tersirat mereka adalah produsen film Hollywood sesungguhnya dengan naluri pedagang semata. Jadwal syuting demikian singkat dan skrip yang lemah adalah pekerjaan mereka dalam membangun kerajaan b-movie. Kendati demikian mereka berhasil membuat sejarah yang sampai kini belum mampu dilakukan studio produsen b-movie manapun setelah era Roger Corman dan Dario Argento. Cannon juga menjadi tempat berlabuh terhadap perkembangan karir bintang-bintang ternama seperti Chuck Norris, Sylvester Stallone, Sharon Stone dan Jean Claude Van Damme disamping mengangkat kembali popularitas beberapa aktor gaek seperti Roy Schneider, Charles Bronson dan Jon Voight. *

Iklan
Posted in: Film Review