Superman dan Saya

Posted on 21/09/2010

0


oleh Sherman Alexie

“Membaca berarti memertanyakan, merasakan apa yang kau baca walau belum selesai, sampai kau memahaminya di dalam dirimu. Teks pertama yang kau baca adalah jiwa, sampai selesai…”

Saya belajar membaca pertama kali dari komik-komik Superman. Walau saya sekarang sudah tak ingat lagi dengan detail plot, cerita, judul episode komik Superman mana yang saya baca berikut musuh-musuh yang dilawannya, saya mendapatkan kenikmatan membaca bermula dari membaca komik. Saya, bocah Indian berusia 3 tahun, tinggal bersama keluarga di perkampungan Indian, sebelah Selatan Washington. Kami hidup pas-pasan seperti keluarga Indian lainnya yang tinggal di sana. Saya tinggal dengan seorang kakak dan tiga adik perempuan. Kami hidup di bawah upah standar seraya menggantungkan diri dari belas kasihan pemerintah setempat.

Ayah saya suka baca. Kegemaran membaca inilah yang dibawanya sejak sekolah dasar. Kebetulan ayah adalah satu-satunya Indian yang pernah mengecap pendidikan di sebuah sekolah Katolik swasta.  Ayah suka membaca apa saja. Mulai dari kisah-kisah koboi western, spionase, pembunuhan, detektif, petualangan gangster, biografi pemain-pemain basket terkenal, kisah tentang penembakan Presiden Kennedy, skandal Watergate, perang Vietnam, 23 jilid sejarah Apache, macam-macam. Pokoknya apa saja yang dia temukan dan dirasanya menarik, ayah pasti membelinya. Dia banyak membeli buku-buku (kebanyakan bekas) di banyak tempat seperti di Dutch’s Pawn Shop, Goodwill, Salvation Army dan Value Village. Kalau ada uang lebih, ayah baru membeli buku baru di supermarket atau toko-toko buku dekat rumah sakit.

Rumah kami penuh buku. Mereka tergeletak bersebaran di ruang tamu, kamar mandi, kamar tidur, di mana-mana. Di waktu senggang, ayah menyempatkan diri membuat rak-rak buku. Kalau sudah selesai, ditempatkannya buku-buku tersebut ke dalam rak dengan rapih walau tak sampai digolongkannya ke berbagai kategori dengan rinci seperti yang dilakukan seorang pustakawan. Kesukaan ayah kepada buku akhirnya tertular kepada saya.

Sebelum lancar membaca, dari buku-buku koleksi kepunyaan ayah, saya mulai mengamati kata demi kata yang begitu asing. Meski belum mengerti apa artinya, pikiran-pikiran saya menebak-nebak apa yang dimaksud dalam buku-buku itu. Dulu saya tidak punya definisi yang tepat untuk “alinea”, tapi saya menduga apa yang dimaksud alinea itu pasti berhubungan dengan kata-kata. Sedangkan kata-kata yang ada di dalam alinea secara berkesinambungan pasti menghasilkan maksud tertentu. Mereka tentunya punya alasan khusus mengapa ada di dalam satu tempat yang sama.

Saya memikirkan setiap bagian dalam alinea. Dengan menganalogikannya pada tempat tinggal saya, saya mulai mengerti perkampungan kami adalah bagian kecil, seperti halnya alinea di dalam buku, dari wilayah besar Amerika Serikat. Rumah keluarga kami adalah alinea, yang berbeda dari daerah-daerah lain seperti Le Brets di utara, Fords di selatan, dan sekolah Tribal di barat.  Dalam rumah kami, setiap anggota keluarga berada dalam satu alinea yang terpisah meskipun secara genetik saling berkaitan. Jadi, secara gampangnya, saya melihat keluarga saya yang terbagi tujuh alinea seperti dalam sebuah esai: ibu, ayah, kakak tertua, adik perempuan kami yang sudah meninggal, dua saudari kembar kami perempuan yang paling kecil, dan seorang adik angkat laki-laki.

Saya lalu melihat dunia di sekitar saya ini ke dalam satu alinea, seraya menganalogikannya dengan buku komik Superman. Setiap panel yang disertai gambar, dialog dan uraian naratif yang terdiri dari tiga alinea. Dalam satu panel, ada gambar Superman sedang mendobrak pintu. Pintu itu hancur berkeping-keping. Saya melihat kata-kata di bawah gambar itu. Saya tak mengerti, karena belum dapat membaca. Lalu saya mengartikannya, “Superman sedang mendobrak pintu”. Saya seolah-olah membaca kata-kata di bawah gambar Superman itu adalah “Superman sedang mendobrak pintu”. Karena ia sedang mendobrak pintu, saya artikan balon-balon kata di mulut Superman sedang berkata, ”Saya yang mendobrak pintu,” Saya seolah membaca kata demi kata kemudian berkata kepada saya sendiri, “Saya sedang mendobrak pintu,” Begitulah saya belajar membaca.

Demikianlah cerita-cerita yang menarik dimulai dari cerita itu sendiri. Seorang bocah Indian yang sedang belajar membaca. Dengan cara itulah perlahan ia menyelesaikan bacaan Grapes of Wrath-nya John Steinbeck sementara anak-anak sebayanya masih meneruskan membaca dongeng Dick and Jane. Jika ada yang menyadari ada seorang bocah Indian belajar membaca dengan cara seperti itu, ia pasti akan dibilang menakjubkan. Tapi, apalah artinya kalau ia tinggal di perkampungan kumuh? Bocah itu pasti dibilang aneh.

***

Seorang Indian yang cerdas dianggap berbahaya, menakutkan sekaligus aneh oleh orang Indian maupun bukan Indian. Dengan pandangan seperti itulah hampir setiap hari saya selalu berkelahi dengan teman-teman di sekolah. Mereka ingin saya diam sementara guru di kelas yang notabene bukan orang Indian terus melancarkan pertanyaan kepada yang lainnya untuk dijawab.

Kami, anak-anak Indian selalu dianggap bodoh. Jika di dalam kelas kami hidup dengan anggapan seperti itu, di luar kelas yang terjadi sebaliknya. Kami bertahan dengan bacaan-bacaan standar di sekolah tapi kami masih bisa menyanyikan lagu-lagu “powwow” (lagu-lagu khas Indian). Mungkin kami tampak bodoh di hadapan orang kulit putih, tapi kami dapat menghidupkan suasana dengan dongeng-dongeng dan lelucon saat makan malam. Mereka lari jika sedang bermasalah dengan orang kulit putih lainnya tapi bersikap “lempar batu sembunyi tangan” dengan sesama Indian, pun yang usianya sepuluh tahun lebih tua. Sebagai anak Indian, kegagalan kami di dunia non-Indian seakan dinantikan, dan setelah itu terjadi kami akan disambut kembali ke dalam lingkungan Indian dan dipandang rendah oleh orang-orang non-Indian.

Saya menolak hal itu terjadi pada saya. Saya seorang yang cerdas dan keras kepala. Saya juga beruntung. Saya banyak membaca buku di waktu malam sampai-sampai tak bisa membuka mata lagi. Saya membaca buku di jam-jam istirahat, jam makan siang, dan di saat-saat terakhir yang tersisa tatkala mengerjakan tugas sekolah. Saya membaca buku di dalam mobil ketika ayah membawa kami berkeliling atau mengajak kami nonton pertandingan basket.

Jika mampir ke pusat-pusat perbelanjaan, saya pergi ke toko buku dan membaca apa saja yang bisa terbaca. Saya juga membaca buku-buku yang dibeli ayah di pasar loak. Saya membaca buku-buku yang saya pinjam dari perpustakaan. Saya membaca kata-kata yang tercantum di kotak pembungkus sereal. Saya membaca koran, buletin-buletin, pamflet, di sekolah, klinik, kantor pos, surat-surat kaleng, majalah…Ya, saya membaca apa saja yang terjalin dari untaian kata dan alinea. Saya membaca entah itu dalam keadaan hati senang atau sedih. Saya suka buku. Kecintaan saya kepada buku semata-mata untuk menyelamatkan dan mengangkat harkat hidup saya.

Meksipun sudah banyak buku yang saya baca, sampai kini saya masih takjub dengan apa yang saya lakukan sekarang: menjadi penulis, karena dulu saya pernah bercita-cita menjadi dokter. Hari-hari berlalu sampai kini saya menulis novel, cerpen, dan puisi. Saya lalu mengunjungi sekolah dan mengajarkan penulisan kreatif kepada anak-anak Indian. Bertahun-tahun di sekolah-sekolah dalam perkampungan kami, saya tak pernah diajarkan menulis puisi, cerpen bahkan novel. Saya bahkan tak pernah diajarkan bahwa seorang Indian  dapat menulis puisi, cerpen, dan novel.

Menulis adalah sesuatu yang tak terpikirkan dilakukan oleh seorang Indian. Saya tanya apakah ada guru-guru seperti itu diutus ke perkampungan? Kalau ada siapa mereka? Ke mana mereka sekarang? Apakah mereka benar-benar ada? Sekarang saya pergi mengunjungi sekolah-sekolah yang terletak di perkampungan. Banyak anak-anak Indian di kelas sekarang sudah bisa belajar menuliskan sendiri puisi dan cerpen-cerpennya. Mereka banyak membaca buku-buku saya di samping buku-buku lain tentunya. Mereka menatap saya dengan penuh harapan.

Ya, mereka ingin mengubah hidupnya. Mereka ingin mengangkatnya supaya tak dianggap bodoh lagi. Mereka menghimbau anak-anak Indian lainnya yang lebih suka duduk di belakang seraya tak menghiraukan saya. Mereka yang buku-buku tulisnya selalu saja kosong meskipun di tasnya ada pena. Mereka yang di dalam kelas hanya memandang ke luar jendela…

Tapi mereka bertahan. “Buku-buku,” kata saya kepada mereka. “Buku-buku,” kata saya lagi.  Saya seorang yang cerdas, keras kepala, dan juga beruntung. Ya, saya sedang berusaha menyelamatkan hidup kami. Lingkaran seperti ini selalu terasa ganjil dan tak terjawab dengan menghadirkan diskusi tanpa akhir.

Pengaruh dari pelajaran menulis hanya tersisa beberapa jam saja di kelas, sampai mereka di rumah, di atas tempat tidur dengan buku. Dulu ketika saya membaca Emily Dickinson, dan juga mendengarkan – karena saya diajarkan untuk menganalisanya – dia berpijak dari tradisi, mengosongkannya dari segala pemahaman seraya memperbaharuinya dengan kekuatan yang mengejutkan. Membaca berarti memertanyakan, merasakan apa yang kau baca walau belum selesai, sampai kau memahaminya di dalam dirimu. Teks pertama yang kau baca adalah jiwa, sampai selesai. *

Judul asli The Joy of Reading and Writing: Superman and Me (Superman dan Saya). Diterjemahkan Donny Anggoro dari The Most Wonderful Books terbitan Milkweed Editions.

Iklan
Posted in: Personal Essay