Selamat jalan, Pak Mula (1953-2010)

Posted on 20/09/2010

0


Perkenalan saya dengan Pak Mula Harahap kurang lebih sekitar pertengahan tahun 2003 lalu. Saya dikenalkan oleh Wartax (Anwar Holid), editor saya yang kala itu masih bekerja untuk penerbit Jalasutra.  Tampaknya sebelum bertemu dengan saya Wartax dan Pak Mula sudah terlibat intens dan bahkan sedang mengadakan kerja sama penerbitan buku. Lewat Wartax saya direkomendasikan untuk bekerja dengannya untuk menangani lini sastra kantor penerbitannya Mitra Utama. Kesan pertama saya bertemu dengannya Pak Mula adalah orang yang simpatik, humoris, dan senang bersahabat. Karena kami adalah pencinta buku kami jadi cepat akrab. Waktu itu dia masih menjabat sebagai sekretaris IKAPI dan tentunya sebagai penulis saya mendapat kehormatan bisa berkenalan dengan salah satu tokoh penting di dunia perbukuan Indonesia.

Setelah pertemuan pertama kami di toko buku QB di Jl. Sunda itu saya merasa mendapat kawan baru yang sepaham. Apalagi sebenarnya sebelum saya berkenalan dengan Pak Mula sebetulnya saya sudah “mengenalnya” lewat buku-buku yang pernah diterbitkannya seperti buku antologi Cerita Pendek terjemahan yang dibuatnya dalam 3 volume, terjemahan buku The Godfather karangan Mario Puzo, buku-buku humor “Irlandia Huahaha” dan beberapa judul buku jenis “how to” yang sudah lama dirintisnya dan kini menjadi primadona penerbitan di pasar buku Indonesia sampai sekarang. Konon, dari penemuannya ini sampai sekarang buku-buku “how to” dan psikologi populer yang ditemukan dan diterbitkan bersama penerbit yang didirikannya sejak 1988 akhirnya menjadi sumber inpirasi banyak penerbit untuk menerbitkan buku-buku serupa. Kendati ia tak mengklaim dirinya sebagai “penemu” saya senang bekerja dengannya karena ia punya selera yang baik dalam menerbitkan buku. Selera yang baik menurut saya ia tak memikirkan buku-buku yang laku dijual saja, tapi juga memikirkan buku yang bermutu dan ia seperti punya idealisme mencerdaskan orang bersama buku-buku yang diterbitkannya.

Pertemuan kami sempat terputus beberapa lama karena saya masih terikat di kantor saya. Hubungan kami terjalin kembali tatkala IKAPI mengadakan kursus selama 3 kari tentang editing dan penerbitan di kantor IKAPI Cabang Jakarta di Jl. Mustika. Saya mendaftar dan mewakili kantor saya yang menerbitkan buku sastra dan kebudayaan. Kami bertemu lagi dan beliau teringat kalau sebelumnya Pak Mula, saya dan Wartax sedang merencanakan penerjemahan antologi buku. Hubungan yang terputus tersambung kembali. Saya, Wartax dan beberapa kawan lain yang kami libatkan dalam proyek penerjemahan buku antologi ini mengerjakannya dari jarak jauh di rumah kami masing-masing. Baru setelah semua naskah terkumpul saya menghubungi Pak Mula yang kemudian mengatur honorariumnya. Tapi sebelum naskah terkumpul saya berkali-kali bertemu beliau di kantornya pada malam hari. Kami janjian sepulang dari kesibukan kami masing-masing dan banyak membicarakan dunia buku. Baru awal 2004 saya resmi bekerja sebagai pegawai beliau sebagai editor “imprint” (anak divisi) penerbit Mitra Utama yaitu Pustaka Tangga. Selain menerjemahkan dan menyunting naskah, saya kadang dilibatkannya dalam proyek yang dikerjakan lembaga yang diasuhnya, IKAPI. Di IKAPI saya sempat meneruskan penerbitan buletin Warta IKAPI yang sebelumnya dikerjakan penulis cerita anak Bambang Joko Susilo (BJS). Waktu itu BJS minta cuti dan saya diminta mengerjakan satu nomor. Selain itu di pameran buku yang diselenggarakan IKAPI , saya dilibatkan sebagai panitia.

Saya senang pernah bekerjasama dengan beliau. Pak Mula banyak memberi saya kesempatan dan kebebasan buat saya berkarya. Bersamanya kami akhirnya menghasilkan tiga buah buku yaitu Seri ETSA (1 & 2) dan buku novel Olive Street karya novelis Australia, Susan Errington. Sebenarnya ada 6 judul buku yang kami kerjakan selain Etsa dan buku Susan Errington itu. Sayang buku-buku lainnya tertunda meski honor penerjemahnya sudah dibayar. Apa daya di tengah jalan Pak Mula menemui banyak hambatan. Dan salah satu yang dihadapinya adalah kebangkrutan yang pelan-pelan melanda kantor penerbitannya. Buku-buku yang sudah kami kerjakan sayangnya tak laku di pasaran.

Sebelum saya keluar saya sudah mencium tanda-tanda kebangkrutan itu. Mulai dari tagihan telepon dan internet yang diputus karena belum dibayar sampai kontrak kantor kami, sebuah rumah mungil yang juga merangkap gudang buku di Jl. Pualam, menunggak. Untungnya gaji saya dan karyawan lainnya masih terbayar kala itu. Tapi karena suasana di kantor juga mulai tidak enak buat saya berkarya, saya akhirnya keluar setelah sebelumnya saya sempat “ditahan” beliau yang waktu itu menggaji saya ala kadarnya, di bawah gaji biasa yang sudah  ditetapkan. Setelah memberi pesangon saya keluar. Saya keluar dengan perasaan kecewa karena sebenarnya saya masih senang bekerja sama dengannya. Dulu kami punya mimpi yang sama untuk menerbitkan tabloid berkala perbukuan seperti majalah Matabaca yang akhirnya juga tutup tahun 2009 lalu. Mimpi beliau ingin mendirikan tabloid mirip The New York Review of Books yang isinya penuh ulasan buku-buku yang menggugah selera intelektual pembaca. Selain membuat tabloid perbukuan beliau juga ingin membuat majalah anak-anak yang penuh dengan cerita. Rupanya Pak Mula terkenang romantisme semasa beliau menjadi penulis cerita anak di majalah “Kawanku”.  Kami berpisah bersama mimpi-mimpi yang tak terwujud di benak kami. Saya menghadiahi beliau buku tentang Aesop sebagai tanda mata persahabatan.

Ada peristiwa yang buat saya lucu terjadi waktu saya masih bekerja bersamanya. Waktu ia berulangtahun ke-50 seluruh karyawan diberikannya uang 50.000 rupiah.

Selanjutnya saya menjumpai beliau di dunia maya lewat blognya di wordpress.com. dan juga postingannya di Facebook. Tulisannya beragam mulai dari politik, sosial, buku, esai-esai pribadi tentang keluarganya sampai tentang budaya dan situasi terkini, misalnya kasus video panas mirip Ariel-Luna Maya-Cut Tari. Saya terkenang dulu saya sempat mengumpulkan beberapa tulisan beliau untuk dijadikan buku waktu saya masih bekerja di Pustaka Tangga. Tapi rupanya beliau tak tertarik lagi membuat buku, mungkin karena kantor penerbitannya mulai ada tanda-tanda ambruk belum situasi perbukuan yang makin dikuasai penerbit yang masuk dalam jaringan konglomerasi besar. Pemain-pemain buku lain yang modalnya tak sebesar jaringan konglomerat itu sulit bersaing, termasuk Pak Mula.

Lewat internet, beliau berekspresi dengan menulis banyak esai pribadi persis idolanya, esais terkenal David Sedaris. Dulu beliau waktu pulang dari Amerika pernah menghadiahi saya buku karya David Sedaris.

Tahun 2009 bersama seorang kawan, saya bertemu kembali dengan beliau di kantor Yakoma. Rupanya beliau menjabat sebagai direktur di situ. Kantor lamanya dulu Pustaka Tangga ia jual ke penerbit Gagas Media (Agromedia) dan berubah nama menjadi Tangga Pustaka. Sayangnya setelah menjadi Tangga Pustaka saya tak menemui buku-buku bagus seperti yang pernah dikerjakan Pak Mula dulu. Saya hanya menemui judul buku lama Pak Mula yang diterbitkan kembali dengan kaver baru.

Di Yakoma Pak Mula punya mimpi baru. Pak Mula berangan-angan mendirikan komunitas budaya yang nanti pusat kegiatannya di Yakoma. Kantor Yakoma yang luas dan sejuk dengan tamannya yang hijau asri nampaknya memberi inspirasi baru buatnya.  Saya senang karena saya punya kesempatan lagi untuk bekerjasama dengan beliau. Kami pernah bersama-sama pergi ke IKJ menemui kepala program Fakultas Film dan Televisi untuk membuat workshop pembuatan film pendek yang rencananya dikerjakan di Yakoma. Setelah pertemuan itu kami masih sesekali bertemu di Yakoma. Di kantor Yakoma itu Pak Mula beberapa kali mengadakan pertemuan untuk merintis kegiatan budaya  yang dinamainya “Komunikasi Bentang Budaya”. Pertemuan diadakan setiap hari Jumat. Tapi karena kesibukan saya di acara komunitas “Meja Budaya” di PDS HB Jassin yang juga terjadi tiap Jumat, saya hanya datang dua kali di pertemuan tersebut.  Banyak orang dikumpulkan beliau di situ mulai dari seniman sampai agamawan. Aktivis-aktivis keagamaan dari PGI juga ada. Setelah itu kami tak bersua lagi karena selain saya aktif di “Meja Budaya” saya sibuk mendirikan usaha baru sendiri di rumah.

Sampai pada suatu siang saya menerima SMS dari seorang kawan. Pesan pendek itu mengatakan Pak Mula meninggal pada hari Kamis, 16 September 2010 jam 10 pagi. Saya kaget dan mencoba menghubungi kawan yang meng SMS saya itu. Saya berharap berita itu tak benar karena setahu saya beliau sehat-sehat saja dan beliau tak pernah menunjukkan tanda-tanda sakit. Tak lama kemudian Wartax menelepon saya. Ia berkata sudah menerima kabar itu dari seorang kawan di internet. Saya bergegas ke RSPAD Gatot Subroto. Di situ saya menemui sahabat-sahabat beliau yang dulu pernah menjadi karyawannya. Juga Riri, Agan, kedua anak Pak Mula dan istri beliau. Saya melihat jenazah sahabat sekaligus mantan bos saya itu terbaring sebelum dimasukkan ke peti. Saya berdoa singkat di depan jenazah beliau kemudian saya keluar bergabung dengan orang-orang lain yang melayat. Saya tak lama berada di Rumah Duka RSPAD karena tak kuat melihat kepergian terakhir beliau. Setelah menemui kawan yang barusan meng-SMS mengabarkan kematian beliau, saya pulang.

Saya sedih telah kehilangan seorang sahabat yang dulu banyak mendukung karier kepenulisan saya. Setelah sebelumnya saya kehilangan kekasih, kini saya telah kehilangan seorang sahabat yang berarti dalam kehidupan saya. Dari penuturan beberapa orang beliau terkena serangan jantung setelah sebelumnya sarapan pagi di rumahnya. Seorang ibu bercerita setelah sarapan beliau sempat pamit mau tidur dulu. Tak disangka ternyata itu adalah sekaligus pamitnya terakhir kepada dunia.

Di rumah saya menjelajah internet dan membuka Facebook. Terbetik kabar (dari penulis Ita Siregar) beliau sempat berobat ke rumah sakit PGI Cikini. Rupanya momen-momen saya tak bertemu lagi dengan beliau sudah menunjukkan tanda-tanda bahwa ia sakit. Yang membuat saya sedih rupanya beliau sebelum meninggal sudah meninggalkan jejak bahwa hidupnya tak lama lagi. Di dalam blognya ia menulis, bahwa ia tak mau merepotkan orang jika ia meninggal kelak. Ia tak mau seperti kawannya yang belum lama berziarah ke makam kekasihnya menjumpai tukang palak lalu terjebak dalam lumpur yang becek. Beliau ingin orang-orang “menziarahi” batu nisannya kelak dengan hanya mengunjungi blognya. Satu hal lain lagi yang diinginkan beliau ia ingin dikremasi saja. Tapi nampaknya hal itu tidak dilakukan pihak keluarga beliau, entah kenapa. Saya membaca di Facebook jenazahnya dikuburkan.

Di rumah sambil membaca blognya saya terkenang-kenang beliau. Pak Mula selain sahabat yang ramah juga pribadi yang kreatif, penuh ide-ide dan gagasan. Saya sering mendapatkan gagasan untuk ditulis jika berdiskusi dengan beliau. Banyak gagasan yang kami diskusikan saya tulis dan kemudian dimuat dimuat di Matabaca, koran Sinar Harapan,, buletin Warta IKAPI dan juga postingan di milis-milis perbukuan. Ini yang membuat saya menyukai beliau.

Ide terakhirnya dengan mengadakan pusat kegiatan budaya di Yakoma nampaknya belum terwujud. Saya menyesal dulu tak mengadakan pertemuan lagi dengan beliau untuk ikut mewujudkan mimpi beliau.

Selamat jalan, Pak Mula. Doaku menyertaimu selalu.

Rawamangun, September 2010



Iklan
Posted in: Personal Essay