Sajak Kesasar Itu adalah Saut

Posted on 20/09/2010

0


Judul Tulis!

Penulis Saut Sitompul

Isi 120 hlm.

Penerbit Sanggar Paseban

& Dewan Kesenian Jakarta, 2006

Sebelum menyimak sajak Saut ada baiknya kita mengawali dengan membaca biografinya di halaman awal yang menurut pemusik Slamet Abdul Syukur dalam acara peluncuran bukunya di Teater Kecil TIM, 24 Februari 2006, Saut adalah “penyair kesasar”. Pendidikan akademisnya ditempuh di filsafat STF Driyarkara dan musik di LPKJ (Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta) sebelum menjadi Institut Kesenian Jakarta (IKJ) tahun 1980-an tak ada yang selesai. Ia kadang terlibat sebagai aktor dalam film dan sinetron, salah satunya tampil sebagai pendeta dalam film Beth karya Aria Kusumadewa. Pernah menjadi penata musik film Kipas Kipas Cari Angin karya sutradara komedi-kritik sosial, Nyak Abbas Akup.

Saut meninggal dalam sebuah kecelakaan tragis: ditabrak taksi pada tengah malam. Dua tahun kepergiannya, 9 Januari 2004, sajak Saut Sitompul baru dinilai punya arti dalam sastra Indonesia walau ia sudah cukup lama berkiprah. Sosok penyair kelahiran Pematang Siantar, 9 Februari 1955 ini beda dengan penyair kebanyakan- apalagi pada masa kini yang umumnya lahir dari pemuatan sajak di media massa. Ia justru besar dan lahir di jalan dengan membacakan sajak di berbagai tempat- termasuk dalam bus kota- sehingga sosoknya nyaris hanya dikenal dalam pergaulan di komunitas Taman Ismail Marzuki (TIM) saja- terlambat diketahui para pemawas sastra kita.

Kesan pertama ketika membaca buku bertajuk Tulis! ini boleh dibilang sajak-sajaknya terlihat sebagai konsumsi panggung, bukan pada renungan atau diskursus individual, sehingga ia tak masuk kriteria kritikus sastra kita yang cenderung akademis. Apalagi dalam buku yang menghimpun 77 sajak lengkapnya ini (beberapa diantaranya sempat diterbitkan oleh Lembaga Studi Pers dan Pembangunan(LSPP), JKB dengan judul Kongres Kodok) tiada keterangan menyebutkan sajaknya pernah dimuat di media massa.

Akibatnya Saut tak tercatat di Leksikon Sastra Kota yang dihimpun Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) pada 2003. Pada waktu itu tim DKJ berniat mengumpulkan sastrawan yang berkiprah di Jakarta. Ia terluputkan karena tak pernah memuat sajaknya di media massa ataupun proyek buku antologi bersama walau bukunya Kongres Kodok (2000) pernah terbit sebelum Tulis!.

Dengan judul Tulis! yang dipilih ilustrator Alit Ambara dari sajaknya yang berjudul Puisi, sebenarnya tersirat kredo kepenulisannya, satu hal yang belum lagi dilakukan penyair pada masa kini yang sayangnya terlalu bergantung pada telaah kritikus sastra maupun banyaknya dimuat di media massa: tak usah terlalu dipusingkan bagaimana cara menulis puisi/cukup dengan pena di tangan/berjongkok di taman/ ada daun jatuh tulis, ada rumput menghijau tulis! (h.3)

Ya, tulis! demikian kredo Saut yang begitu sederhana, antara ambigu dan ketegasan seolah melepaskan beban puitik yang dulu pernah disinggung legenda penyair Indonesia yang masih ada,  Sutardji Calzoum Bachri (SCB) dalam kredo puisi mantranya: melepaskan makna dari kata.

Simaklah sajak Suratku yang selain menyindir juga patut direnungkan sambil mengulum senyum: “Kubuka satu persatu puntung sambil komat kamit menjalin kata untuk kutuliskan buat papa mama anakmu sehat-sehat saja saja dan seterusnya dan seterusnya. Tapi tolonglah kirimkan uang rupiah untuk bekal sebulan dan sepatukupun perlu ditambal. Tolong secepatnya kalau boleh secepatnya Sekian dulu dari ananda yang penuh dengan ….hutang, hutang, hutang”.

Sajak-sajaknya Di Mana dan Kongres Kodok menunjukkan keunggulannya mengolah rima. Bisa jadi ia tak tergoda bermain metafora sehingga Saut cenderung mengolah kata-kata saja dari konteks semantik dan beberapa rima yang umum. Rima vokal sangat mendominasi sehingga sering diulang nada tambahannya. Tengok puisi Di Mana yang bait pertamanya adalah “Dulu.Dia sudah pernah ada. Bahkan sebelum ada ada. Dia sudah mengadakan ada.” Ada paradoks yang bernas dengan aroma eksistensialis selain pencarian diri kepada Tuhan. Bisa jadi ini adalah sajak yang mampu menjadi renungan selain Suratku.

Sajak Saut mudah dipahami sebagai bangunan pada kata dan makna publik, bahkan mampu merengkuh kaitannya dengan dua jenis makna sekaligus: kata dan makna individual serta kata dengan makna publik, walau rata-rata baru “bernyawa” ketika dibacakan penyairnya sendiri. Beberapa sajaknya yang punya roh walau dibaca sendirian adalah Penantian dan Aku selain Di Mana dan Suratku.

Kebanyakan penyair yang lahir dari panggung cenderung lemah dalam pengungkapan puitik sehingga cenderung menjadi sajak pamflet. Tapi Saut berhasil meloloskan diri dari jebakan itu, misalnya menyelipkan lagu pada sajak Kau Tak Sendiri: “Sobat, kawanku kau mari kita dendangkan hidup dan kita kulum tawa sedikit saja tapi…5 3 . 5 4 3 2 1 1..1 1. 5  (Saut menyelipkan not angka untuk dinyanyikan) hahahaha...” Adapun sajak ini ditulis untuk M.Fadjroel Rachman-aktivis mahasiswa yang pada 1994 baru keluar dari penjara- sebagai jawaban puisi Fadjroel, Tarian Penyaliban Manusia.

Sajak lain lagi, yang juga punya nafas sama, Sepanjang Kaki Lima dengan ritme chanting di tengah bait puisinya ditutup dengan lagu Burung Hantu yang boleh disiulkan. Ya, ini adalah siasat komunikatifnya karena jika sajak ini dibacakan ia mengajak penontonnya bernyanyi. Sajak lain, Kongres Kodok dan Doa juga menonjolkan ritme chanting itu.

Dalam sajak-sajak tersebut ia membuktikan kredo puisinya:  memainkan rima tanpa harus menyelipkan pesan moral. Justru tanpa pesan moral yang berpihak pada kaum marjinal, sajaknya sendiri sudah tampak karena lekat dengan sosoknya sendiri yang bohemian. Sajaknya yang individual sarat dengan personalitas yang diolah dengan makna publik.

Selain rima,  pembacaannya sarat bunyi, nada dan musik, satu hal yang dapat dicatat sebagai kekuatan sekaligus kelemahannya. Misalnya Anak yang terjebak jadi potret pergerakan suatu zaman tanpa kedalaman. Maklum, dulu ia pernah mengenyam pendidikan musik selain dipercaya sebagai ketua liturgi dan pelatih koor gereja.

Buku ini pun juga tak luput dari kesalahan walau diolah dengan tipografi yang menarik, yaitu tiada keterangan buku Kongres Kodok, seolah buku Tulis! ini adalah buku pertamanya yang terbit. Pemilahan tema sajak juga tak ada sehingga agak sulit menikmati buku ini bagi pembaca yang belum mengenalnya.

Mungkin tak lengkap tahun ditulisnya sajak dapat dimaklumi, mengingat penyair bohemian seperti Saut yang kadang menggunakan nama pena Zelot.S tak mencantumkan semua tahun penulisannya. Padahal jika ada tentu pembaca bisa menelusuri tema sajak dari awal kepenyairannya. Dalam buku ini sepertinya sajak paling awal ditulisnya tahun 1978 (sajak Puisi). Tulis! juga tak menjelaskan apakah ini kumpulan lengkap sajaknya atau sekedar menambahkan sajak yang belum sempat dikumpulkan dari buku Kongres Kodok.

***

Ya, Saut lebih memilih dalam kehidupan bohemian seorang seniman sehingga tak begitu dipikirkan prestasinya sendiri sebagai penyair. Sangat jarang ada orang seperti dirinya sehingga ia disebut sebagai “penyair kesasar” karena semula menetapkan diri menjadi pemusik, berpindah dari aktor dan penyair.

Konon, Slamet Abdul Syukur yang pernah mengajarnya di LPKJ baru tahu Saut adalah seorang penyair. Uniknya, proses “kesasar” atau dengan kata lain pencarian diri Saut – yang punya karakter – malah menyatukan tiga kekuatannya dalam bersajak. Paling tidak, ada tiga ciri penyair yang umumnya muncul satu per satu dalam diri penyair kebanyakan. Dan semua itu ada sekaligus dalam diri Saut, yaitu rima, kebermainan, dan renungan, satu hal yang mungkin tak disadarinya.

Mungkin jika ia masih hidup kredonya, “tulis!” dari sajak Puisi diakui seperti halnya Rendra dengan “hadir dan mengalir” atau SCB dengan puisi mantranya. Kredonya, “tulis!” ialah satu hal yang tak lagi dilakukan penyair modern kita setelah SCB, lantaran banyak penyair sibuk berkutat dengan ekspresi diri dan pengamatan pada situasi aktual, ketimbang pencarian kata atau penuturan baru.

Memang, puisi Saut relatif kurang menjadi diskursus individual. Tapi lewat buku ini ia memberi arti bahwa kejujuran dan pencarian adalah hal penting bagi penyair. Seperti hiruk pikuknya perilaku seniman yang menurut Budi Darma dalam esainya Politikus Ambisius dan Sastrawan Ambisius, (Kompas, 23 November 2003) mengkhawatirkan umumnya penyair di negeri ini kebanyakan digalaukan bukan pada persoalan seputar kreativitas pribadi, melainkan pada konteks seputar keakuannya. Akibatnya banyak penyair lama sulit menghasilkan karya baru, sedangkan penyair masa kini sibuk berkutat dengan sikap yang jauh dari aspek kreativitas. Celakanya karya yang dianggap “berhasil” pada masa kini bukan pada estetik, melainkan sibuk merebut posisi sosial politiknya (politik sastra dengan mengagungkan kebesaran masa lalu atau biografi dirinya yang merasa “berjasa” dalam sastra dari komunitas tertentu). Ini terjadi pada penyair lantaran begitu berat prestasi puitik yang mau dicapai setelah berbagai eksperimen sudah dilakukan penyair sebelumnya.

Mungkin jika masih hidup ia hanya berkomentar dengan seruan “tulis!” sebagai cermin penyair masa kini yang lebih memikirkan ketenaran atau posisinya untuk masuk ke dalam jejeran penyair papan atas ketimbang pencarian diri untuk mencapai kegagalan indah, menyitir ucapan sastrawan William Faulkner. Padahal Umar Kayam dalam wawancaranya di jurnal Prosa, no. 1, 2002 pernah berkata, “Saya menulis pelan sekali. Mungkin karena otak saya kurang cerdas.”

Langkah penerbitan Tulis! patut dihargai sebagai ikhtiar mulia rekan-rekan Saut dari berbagai komunitas yang tergabung dalam Sanggar Paseban. Plus bonus VCD pembacaan sajak Saut di berbagai tempat, mulai dari bus kota sampai di plaza TIM, buku ini dapat memberi gambaran jelas sosoknya bagi pembaca yang belum mengenalnya.

Warisan Saut Sitompul yang terekam dalam buku ini tetap punya arti bukan semata prestasi puitiknya, melainkan mengingatkan kembali pada kejujuran seorang seniman, satu hal yang rasanya begitu mahal di zaman sekarang. *

Iklan
Posted in: Book Review