Sastra Kota antara Tantangan dan Pertumbuhan

Posted on 22/07/2008

0


Sastra adalah dunia imajinasi. Tak ada karya sastra paling imajiner yang sanggup memiliki wilayah otonomi mutlak, subjektif, bahkan tiada sangkut pautnya dengan individu atau kalangan tertentu seperti perkataan Adolfo Sanchez Vasquez “sastra lahir dalam ke-kini-an dan ke-di sini-an yang konkret” (Art and Society, Merlin Press, London, 1973). Memang Vasquez dalam buku tersebut menuliskan pandangannya dari kacamata Marxisme. Tapi dari pendapat Vasquez ada satu hal yang sulit ditolak: karya sastra tak mungkin lahir dari ruang kosong.

Dalam keriuhan pergaulan metropolis tiba-tiba ada ‘kesepakatan’ bahwa tema sebagian besar karya sastra baru memusat dalam setting yang nyaris sama, yaitu kota sehingga ia tak penting lagi berasal dari mana. ‘Kesepakatan’ ini memunculkan pernyataan yang menantang kreativitas: jika arus global tak terbendung dengan menjadi serba metropolis mampukah muncul estetika baru?

Booming chick-lit dan teen-lit misalnya, juga tema sastra seks dan Islami yang menggejala setelah diawali dengan estetika sastra koran dengan mengetengahkan tema-tema sosial seperti kemiskinan adalah ciri sastra kota kita seperti halnya di Amerika Latin, Jepang, India, juga Indonesia yang mulai tidak membicarakan penindasan dalam budaya tradisinya.

Tantangan kreatif sastrawan sejatinya mampu hadir dalam bentuk lain, tentu saja dengan kegelisahan sesuai konteksnya, sehingga latar cerita entah itu kota maupun antah berantah tak penting. Bukankah cerita tetap ditulis selama manusia hidup? Masalahnya, ketika sastra kita tengah bergerak menyesuaikan tanda zaman dalam pergaulan metropolis kebanyakan baru merekam gejala dan problem sosial pada permukaan.

Sebenarnya karya sastra Indonesia dengan setting metropolis cukup banyak “menemui kemungkinan tak dikatakan”-meminjam istilah Raman Selden. Tapi karena struktur dan kedalaman masih menjadi masalah besar di sebagian besar karya sastra kita, perdebatan atas booming sastra seks, misalnya, yang juga diakui sebagai saksi zaman sastra kota akhirnya berkisar pada bahasa yang vulgar, seolah membuktikan bahwa hanya itu saja yang berhasil dicapai para penulisnya sebagai pembaruan.

Sastra kota di Indonesia juga di negara lain walau jadi terpusat dalam setting yang seragam sebenarnya masih menyisakan banyak tempat. Keberagaman daerah Indonesia dengan menjadikan sosok manusia urban di kota adalah potensi besar yang masih bisa digali. Jakarta seperti halnya New York dan kota metropolitan lainnya juga adalah melting pot. Sayang, tempat itu lebih banyak diisi karya kualitas “potret bergaya Polaroid” dan problem jatuh cinta yang klise dalam khasanah penulisan fiksi populer.

Amerika sendiri yang menjadi pusat globalisasi ternyata masih cukup melahirkan beberapa karya kuat dalam keriuhan metropolis seperti novel Chuck Palahniuk, esai-esai David Sedaris, atau kegamangan budaya Indian-Amerika dalam cerita Sherman Alexie. Karya Palahniuk seperti Fight Club adalah sisi gelap seorang manusia kota yang terasing sehingga menanggalkan kemanusiaannya. Dari generasi tertua ada J.D. Sallinger yang menampilkan kegundahan remaja Holden Caulfield  (Cathcer in The Rye). Karena Amerika sudah menjadi melting pot-meleburnya berbagai budaya- “gegar budaya” menjadi topik menarik dalam sastranya. Sebutlah karya Sherman Alexie yang mengetengahkan pergulatan manusia Indian di kota besar dengan kompleksitas sosialnya. Sedangkan dari chick-lit-nya mampu menyentuh ke dalam sisi pergaulan metropolis yang kadang “memaksa” orang untuk bertindak bukan sebagai dirinya sendiri seperti terbaca di beberapa karya Sophie Kinsella.

Akibatnya bagi tipe pembaca teliti selain hanya mendapat kepuasan estetik dari karya asing dan terjemahan, baik itu sastra maupun karya populer, untuk karya lokal masih kembali pada karya pengarang lama macam Umar Kayam dalam Secangkir Kopi dan Sepotong Donat atau Seribu Kunang-Kunang di Manhattan, Gus Tf Sakai dengan Tambo, Iwan Simatupang dengan Kooong, Seno Gumira Adjidarma dengan Jazz, Parfum, dan Insiden, dan lain-lain. Jangan lupa, Pramoedya  Ananta Toer juga pernah menulis sastra kota Jakarta dalam novel tipisnya Korupsi (1957). Begitu pula beberapa cerpen Martin Aleida atau penulis Aceh T.I. Thamrin (yang galibnya bukan nama baru) baru bisa muncul belakangan setelah peristiwa politik yang begitu lama mengekangnya. Sedangkan dari khasanah Islami yang beranjak pada sufistik, lagi-lagi kita masih dipuaskan oleh karya Kuntowijoyo atau Danarto.

Karya sastra kota kita sendiri akan sulit bernyali (jangankan nyali internasional akibat kendala bahasa lantaran hanya sedikit sastra kita diterjemahkan ke bahasa Inggris) jika alur, kedalaman, dan permenungan saja nyatanya masih menjadi problem kebanyakan di penulisan sastra kita.

Padahal di kota besar ranah fantasi sudah memberi sinyal akan tumbuh setelah booming chick-lit dan teen-lit mulai jenuh. Teknologi informasi dengan banyak diterbitkannya karya fantasi impor juga demam blogger– menulis jurnal di internet dengan blogspot– sadar tak sadar pada masa kini mulai mewarnai sastra kota kita dengan problem kontekstualnya yang menjadi tema. Semisal diterbitkannya Misteri Pedang Skinhead karya Attaka, Ledgard karya WD Yoga atau The Corruptor karya Stanley Timotius Kurnia (yang ditulis dengan bahasa Inggris), dan lainnya karya penulis belia yang justru lepas dari “belenggu” para pendahulunya.

Meskipun sinyalemen bibit pertumbuhan itu sudah tampak sehingga kita tinggal menunggu pembuktian seberapa kuat karya-karya mereka hadir ke publik sehingga kelak mereka menjadi penulis sastra sesungguhnya, ternyata ada satu hal yang sulit dipungkiri. Ya, ideologi yang dominan dalam sejarah sastra ternyata belum tentu dominan dalam pertumbuhan teks sastra itu sendiri!

Rawamangun, Juli 2010

Iklan